WhatsApp Icon
banner
banner
Statistik

Berita Terkini

BAZNAS Makassar Siapkan Lebih Rp1 Miliar untuk Kaum Dhuafa di Ramahdan
BAZNAS Makassar Siapkan Lebih Rp1 Miliar untuk Kaum Dhuafa di Ramahdan
Ramadhan tidak hanya menahan perut, tetapi menyalakan rasa empati. Bulan penuh berkah ini memiliki dua dimensi utama, taqwa--takut dan harap kepada Allah, serta ta’awun--tolong?menolong, sekaligus membuka pintu hati bagi yang membutuhkan. Untuk itu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar menyiapkan Rp1.145.525.000 (satu miliar seratus empat puluh lima juta, lima ratus dua puluh lima ribu rupiah) untuk dibagikan kepada kaum dhuafa—orang yang lemah secara ekonomi/sosial. Tahap pertama, lembaga pemerintan nonstruktural beralamat di Jalan Teduh Bersinar No 5, Kecamatan Rappocini itu mulai diserahkan Rp405.025.000 tersebut terdiri dari Rp382.500.000 uang tunai yang diserahkan kepada 1.530 penerima yang tersebar pada 153 kelurahan di 15 kecamatan, se Kota Makassar. Dan, sebanyak Rp22.525.000 berupa sembako prasejahtera dalam safari Ramadhan. “Mulai, Senin, 2 Maret atau bersamaan hari ke-12 Ramadhan, BAZNAS Makassar mulai menyerahkan bantuan uang tunai di empat kecamatan, masing masing Biringkanaya, Mariso, Ujung Tanah, dan Makassar,” tutur Wakil Ketua IV Bidang SDM, Adminitrasi dan Umum BAZNAS Kota Makassar, H.Jurlan Em Saho’as. Menurutnya, penerima bantuan ini harus benar benar seperti diisyartakan dalam 8 golongan atau asnaf. Yakni, fakir, miskin, riqab atau biasa disebut sebagai hamba sahaya, gharim– orang yang memiliki hutang dan kesulitan melunasinya, mualaf, yaitu orang yang baru memeluk agama Islam untuk merasakan solidaritas. Termasuk, fiisabilillah– pejuang agama Islam, ibnu sabil– orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan jauh, serta amil– orang yang menyalurkan zakat. Sebelum menutup pernyataannya, H.Jurlan Em Saho’as didampingi tim BAZNAS yakni Fitriani Ramli (Kabag IV), Asrijal Syahruddin, Muh.Irfan, serta Syarifuddin Pattisahusiwa itu juga menyinggung sumber dana yang diperuntukan bagi penerima. “Sekadar diketahui seluruh dana yang diterima para pra sejahtera berasal dari Zakat, Infak,dan Sedekah, atau ZIS para ASN, para guru SD dan SMP negeri muslim di Kota Makassar yang mengeluarkan ZIS 2,5 persen setiap bulan melalui sistem payroll. ZIS lainnya juga dari karyawan Perusda, BUMD muslim lainnya di kota ini. Termasuk para pengusaha, dan perorangan, termasuk dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di masjid masjid,” urai jurnalis yang juga seniman ini di sela sela penyerahan bantyuan di aula Kecamatan Biringkanaya. Kepala Seksi Kesra Kecamatan Biringkanaya, Andi Achiruddin,S.Sos, MM mengapresisasi inisiatif BAZNAS Makassar yang setiap tahunnya menyerahkan bantuan kepada kaum dhuafa di wilayahnya. Di hari yang sama, Ketua BAZNAS Kota Makassar, H.Ashar Tamanggong melakukan kegiatan serupa di Kecamatan Mariso. Di sela sela penyerahan, H.Ashar Tamanggong mengemukakan, BAZNAS Kota Makassar memiliki program yang tentunya bersentuhan dengan ummat dan keummatan. “Tentunya, kehadiran BAZNAS Makassar untuk memberi senyum kepada keluarga yang betul betul patut menerima bantuan. Meski bantuan ini ala kadarnya, namun bermanfaat, utamnya di bulan Ramadhan,” ujarnya. Di bagian lain, Da’i kondang dan penulis buku “ Langit tak Pernah Offline ” itu menambahkan, Ramadhan tidak hanya menahan lhaus dan dahaga, tetapi menyalakan rasa empati. Dalam konteks sosial, Ramadhan menjadi akselerator redistribusi sumber daya. Kebiasaan memberi zakat, infaq, dan sedekah secara massal mengubah pola aliran uang dari yang kaya kepada mereka yang benar benar berhak. Seperti diketahui, pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah, atau ZIS dari BAZNAS wajib bertalian erat, sekaligus mengedepankan tiga aman. Yakni, Aman Syar’i, Aman Regulasi dan Aman NKRI. Aman Syar’i, yakni, pengelolaan zakat harus selaras dengan koridor hukum syar’i. Yaitu tidak boleh bertentangan dengan sumber hukum Islam, Al-Quran dan Sunnah. Aman regulasi, dimaksudkan, pengelolaan zakat harus memperhatikan rambu-rambu peraturan hukum dan perudangan. Sementara, Aman NKRI, adalah, pengelolaan zakat di BAZNAS setidaknya, lebih mempererat persaudaraan, menjauhkan diri dari berbagai aktivitas, dan menjauhkan diri dari terorisme, demi menjunjung tinggi dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
03/03/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
BAZNAS Makassar Salurkan Bantuan kepada 80 Kaum Dhuafa di Kecamatan Wajo
BAZNAS Makassar Salurkan Bantuan kepada 80 Kaum Dhuafa di Kecamatan Wajo
Sebanyak 80 kaum dhuafa di Kecamatan Wajo menerima bantuan berkah Ramadhan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar. Penyerahan bantuan dilakukan Ketua BAZNAS Kota Makassar, H.Ashar Tamanggong, Selasa, 3 Maret 2026. Di sela sela penyerahan bantuan yang juga dihadiri Wakil Ketua I (Ahmad Taslim) dan Sekcam (Zamhir Islami Rahman,S.Stp), AsharTamanggong mengemukakan, khusus bulan Ramadhan tahun ini, lembaga Amil itu menyiapkan anggaran Rp1.145.525.000 (satu miliar seratus empat puluh lima juta, lima ratus dua puluh lima ribu rupiah). Anggaran ini diperuntukan kepada kaum dhuafa di 15 kecamatan di kota yang kini dipimpin Walikota Munafri Arifuddin dan Wakil Walikota Aliyah Mustika Ilham ini. Menurutnya, bantuan uang tunai dari BAZNAS Kota Makassar kepada kaum dhuafa di Kota Makassar, salah satunya di Kecamatan Wajo ini menjadi benih yang ditanam dalam tanah hati—benih yang tumbuh menjadi pohon kebaikan, memberikan buah keberkahan, apalagi diberikan di saat ummat Islam menjalankan ibadah puasa. “Keutamaan bantuan ini tidak terletak pada jumlah, melainkan pada niat yang tulus, pada keberanian menolong, dan pada keyakinan bahwa setiap rupiah yang diberikan membawa cahaya Ramadhan ke dalam kegelapan, dan membawa keberkahan,” tuturnya, seraya mengakui, Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, melainkan pada kemampuan untuk memberi dengan ikhlas. ATM—sapaan akrab penulis buku “Langit tak Pernah Offline—kumpulan Essai Inspiratif, dan Musafir Kehidupan ini, memngakui penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah, atau ZIS langsung ke tangan penerima yang paling membutuhkan sangat tepat. Di bagian lain Da’i kondang yang menyelesaikan study Doktor di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar itu menambahkan, memberikan bantuan kepada kaum dhuafa (orang yang lemah secara ekonomi/sosial) pada bulan puasa memiliki makna yang sangat mendalam, baik secara spiritual, sosial, maupun personal. “Ramadhan adalah bulan istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain menjadi bulan penuh ampunan dan keberkahan, Ramadhan juga menghadirkan kesempatan besar untuk menumbuhkan empati dan kepedulian sosial. Dalam suasana spiritual yang mendalam, umat Muslim diajak untuk tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga mempererat hubungan dengan sesama manusia. Di sinilah kita merasakan indahnya berbagi, sebuah nilai luhur yang menjadi ruh dari ajaran Islam,” urainya. Menjawab pertanyaan asal dana yang digunakan untuk menyalurkan bantuan kepada kaum dhufa, ATM menjelaskan berasal dari ASN muslim Pemkot Makassar, dari UPZ UPZ Masjid se Kota Makassar, dari muzakki, dan orang perorang yang menyerahkan ZIS ke BAZNAS Kota Makassar. Sementara itu, Camat Wajo-- Maharuddin,S.Sos,MM, diwakili Sekcam Zamhir Islami Rahman,S.Stp menyampaikan terima kasih kepada lembaga pemerintah nonstruktural beralamat di Jalan Teduh Bersinar No 5, Kecamatan Rappocini itu. “Mewakili Pak Camat, kami menghaturkan terima kasih kepada BAZNAS Makassar yang telah menyerahkan bantuan uang tunai kepada kaum dhuafa. Tentunya, setiap kebaikan yang dilakukan BAZNAS membawa kebahagiaan tidak hanya bagi penerima, tetapi juga bagi pemberi,” ujar Zamhir seraya menambahkan, Ramadhan mengajarkan bahwa, kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, melainkan pada kemampuan untuk memberi dengan ikhlas.
03/03/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Dua Mahasiswa Kristiani Magang di BAZNAS Makassar
Dua Mahasiswa Kristiani Magang di BAZNAS Makassar
Dua mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tridarma Nusantara Makassar, masing masing Agen Sefan dan Aldi, magang di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar. Kehadiran kedua mahasiswa ini agak mencolok, lantaran memiliki latar belakang Kristiani, tetapi memilih magang di lembaga yang berkaitan Islam.’ Ketua BAZNAS Kota Makassar, Dr.HM.Ashar Tamanggong menyambut hangat kedua mahasiswa Program Studi Manajemen SDM ini. Apalagi keduanya magang di satu satunya lembaga pemerintah nonstruktural yang mengelola zakat, Infak, Infak, dan Sedekah, atau ZIS. HM.Ashar Tamanggong mengemukakan, kehadiran kedua mahasiswa di kampus beralamat di Jalan Kumala II No 51 Makassar, di BAZNAS Makassar begitu MULIA, lantaran baru pertama kali penganut non Islam magang di lembaga amil yang amanah, dan terpercaya berkantor di Jalan Teduh Bersinar Nomor 5 Kecamatan Rappocini ini. Di sisi lain, jelas Doktor asal Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, jika melihatnya melalui lensa Islam yang dalam—lensa yang mengangkat esensi keadilan, kemanusiaan, dan ihsan (keperluan)—maka kehadiran kedua mahasiswa ini justru menjadi refleksi yang sungguh enlighten, atau mencerahkan. “Bisa saja, selama tiga bulan ber-magang di BAZNAS Kota Makassar, kedua mahasiswa non muslim ini dapat mempelajari mekanisme sosial Islam yang begitu solid. Bagaimana Islam itu memerhatikan dan mengangkat derajat mustahik—atau orang yang benar benar membutuhkan bantuan. Bahkan, bisa saja kedua mahasiswa ini dapat melihat bagaimana Islam adalah rahmatan lil alamin---rahmat untuk seluruh alam,” ujarnya. Bahkan, jelas ATM—sapaan akrab da’i kondang ini, keduanya bisa juga membuktikan bahwa Islam itu memiliki makna yang begitu luas. Mulai dari sudut pandang keadilan sosial, dan tujuan syariah (maqashid syariah) untuk melindungi nilai hidup (hifzh al-nafs, al-mal). Meski begitu, ATM mengakui, magang di BAZNAS Kota Makassar oleh siapapun wajib mengikuti program yang telah diterjemahkan dalam Rapat Kerja tahunan (RKT). Di antaranya melakukan pendistribusian bantuan kepada mustahik, melakukan pendataan dan verifikasi bersama tim yang terbentuk. Pernyataan senada dikemukakan Wakil Ketua IV Bidang Adminitrasi, Umum, dan SDM, H.Jurlan Em Saho’as. Wartawan Harian Pedoman Rakyat di masanya itu menambahkan, dalam pandangan Islam yang sempurna adalah yang mampu melihat manusia sebagai manusia terlebih dahulu. ‘Sebagai Wakil Ketua Bidang SDM di BAZNAS Makassar ini, tentunya kehadiran mahasiswa Manajemen SDM STIE Tridarma Nusantara ini sangat tepat, meski kedua mahasiwa ini beda agama. Bagi kami, keduanya bisa belajar bahwa, zakat, infak, dan sedekah adalah bahasa cinta kepada sesama. Dan bisa juga mereka dapat merasakan bahwa mengurus harta untuk orang lain adalah sebuah kehormatan spiritual,” urainya. Seniman yang juga sutrada ini menambahkan, bagi umat Islam, mereka seharusnya tidak melihat dua mahasiswa magang ini sebagai hal aneh atau ketidaksempurnaan, tetapi sebagai cermin. Cermin yang memantulkan bahwa ajaran Islam tentang distribusi, dan tentunya keduanya juga kepingin tahu rasa tashawwur (ingin tahu) pada kondisi sesama manusia, bisa menginspirasi. Sementara itu, Agen Sefan dikonfirmasi mengaku, sebagai mahasiswa STIE Tridarma Nusantara angkatyan 2023, dirinya dan rekannya bukan semata membangun kepercayaan diri dalam menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, melainkan sekaligus dapat memetik pengalaman lapangan berharga. “Tentunya, saya dan teman yang kebetulan satu daerah di Mamasa yang berkuliah di STIE Tridarma Nusantara Makassar, memiliki kesempatan yang sama memperoleh pengetahuan tambahan lapangan sebanyak banyaknya di BAZNAS Makassar ini. Setelah itu, nantinya kami menyusun laporan di kampus,” ujar mahasiswa angkatan 2023, asal Desa Salukadi (Salu—sungai, kadi—sejenis pohon), Kecamatan Bambang, Kabupaten Mamassa, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) ini. Menurut anak sulung dari dua bersaudara pasangan Melkias dan Erna yang lahir di Salukadi, 15 Pebruari 2005 yang menyelesiakan studi di SMAN 03 Mamassa ini, dari sisi Manajemen SDM, maka ber-magang di BAZNAS Makassar sangat tepat. Apalagi, BAZNAS itu sendiri umumnya bernuansa positif, terutama dalam aspek sosial dan kemanusiaan. "Saya dan teman magang di BAZNAS Makassar ini sangat tenang, apalagi seluruh jajaran di sini juga baik," jelas Agen Sefan, seraya mengaku dosen pembimbing dalam ber-magang di BAZNAS Makasar ini adalah Emma Rahmawati.
20/02/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa

Agenda Pimpinan

Zawa Funwalk 2025: BAZNAS Hadirkan Produk Mustahik, Bukti Nyata Pemberdayaan Zakat
Zawa Funwalk 2025: BAZNAS Hadirkan Produk Mustahik, Bukti Nyata Pemberdayaan Zakat
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menghadirkan berbagai produk hasil pemberdayaan mustahik dalam kegiatan Zawa Funwalk 2025 bertema “Berkah Maulid Berdayakan Umat” yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta, Minggu (21/9/2025). Melalui booth ZCoffee, BAZNAS membagikan 350 cangkir kopi hasil panen petani binaan, serta mendistribusikan 150 paket ZChicken kepada pengunjung sebagai bentuk sosialisasi program pemberdayaan ekonomi berbasis zakat. Selain itu, BAZNAS juga menyalurkan 100 Paket Logistik Keluarga (PLK) kepada mustahik, berisi bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, sarden, dan kornet. Turut hadir Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A, Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad MA, jajaran Pimpinan BAZNAS RI Prof. Ir. H. Muhamad Nadratuzzaman Hosen, MS.MEc ,Ph.D., Saidah Sakwan MA, KH. Achmad Sudrajat, Lc, M.A. CFRM., Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., beserta jajaran. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menekankan, penguatan zakat dan wakaf akan memberi dampak signifikan terhadap pengentasan kemiskinan. “Apalagi nanti kalau zakat wakaf itu sudah berdaya, maka sudah tidak ada lagi orang-orang miskin di Indonesia,” ungkapnya. Menurutnya, penguatan zakat dan wakaf bukan hanya kewajiban keagamaan, melainkan juga strategi pemberdayaan ekonomi umat. “Insya Allah ke depan bapak-ibu sekalian, carilah kiat-kiat bagaimana menampung zakat, bagaimana menampung wakaf produktif ini,” kata Menag. Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, menegaskan bahwa partisipasi BAZNAS dalam kegiatan ini bukan sekadar memeriahkan acara, melainkan menjadi bagian dari syiar zakat yang berdampak nyata. “Kami ingin menunjukkan bahwa zakat bukan hanya ibadah personal, tetapi juga instrumen sosial dan ekonomi yang memberdayakan. Produk-produk yang kami bawa ke CFD ini adalah hasil dari proses panjang pembinaan mustahik,” ujar Kiai Noor. Menurutnya, Zawa Funwalk menjadi ruang strategis untuk mengenalkan zakat dan wakaf dalam format yang dekat dengan masyarakat, sekaligus mengedukasi publik tentang pentingnya mendukung gerakan zakat produktif. "Melalui kegiatan ini, syiar zakat dan wakaf diharapkan semakin meluas di tengah dan dapat menjadi penggerak tumbuhnya kesadaran berzakat di kalangan masyarakat Indonesia," ucap Kiai Noor. Zawa Funwalk 2025 yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI ini menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari hiburan Islami, talkshow edukatif, hingga pameran produk-produk berbasis zakat dan wakaf. Kegiatan yang dihadiri 1.400 peserta ini juga menjadi rangkaian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1447 H/2026 M.

22-09-2025 | Humas BAZNAS Kota Makassar

BAZNAS dan IDEF Jalin Kerja Sama Strategis untuk Penguatan Ekonomi Syariah
BAZNAS dan IDEF Jalin Kerja Sama Strategis untuk Penguatan Ekonomi Syariah
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI melakukan kerja sama dengan Yayasan Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (IDEF) dalam rangka memperkuat pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua pihak yang dilaksanakan dalam rangkaian acara Tasyakuran Milad Satu Tahun Center for Sharia Economic Development (CSED) di Gedung Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta Timur, Kamis (18/9/2025). Turut hadir Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad MA., Wakil Ketua BAZNAS RI H. Mo Mahdum, jajaran Pimpinan BAZNAS RI, Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini, Ketua CSED-INDEF Prof. Nur Hidayah, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI Prof. Waryono Abdul Ghofur, Pendiri IDEF Fadhil Hasan, Direktur KNEKS, para akademisi, dan peneliti. Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA., menegaskan, kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam menjadikan zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat. “BAZNAS berkomitmen menjadikan zakat bukan hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi yang mampu menumbuhkan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi dengan IDEF akan memperluas langkah strategis ini,” ujar Kiai Noor. Kiai Noor menambahkan, sinergi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dan keuangan, menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi global. “Peningkatan kapasitas ekonomi syariah memerlukan kerja sama lintas sektor. Universitas, lembaga keuangan, dan BAZNAS dapat saling melengkapi,” ungkapnya. Menurutnya, “Keterlibatan banyak pihak menjadi modal penting dalam memperkuat gerakan ekonomi syariah. Inilah yang membuat BAZNAS semakin siap menghadapi dinamika global.” Kiai Noor berharap, kolaborasi strategis ini mampu memperluas dampak zakat dalam menjawab tantangan ekonomi masa depan. Sementara itu, Prof. Didik J. Rachbini menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memperkuat literasi dan riset ekonomi syariah. “Universitas memiliki peran strategis sebagai pusat riset. Melalui sinergi dengan BAZNAS dan IDEF, kami ingin mendorong inovasi kebijakan yang adaptif dan berdampak langsung pada masyarakat,” katanya. Dalam kesempatan yang sama, Pendiri IDEF Fadhil Hasan berharap kerja sama ini menghasilkan program konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Kami ingin memastikan MOU ini memberi manfaat nyata. Fokus kami adalah menghadirkan solusi ekonomi syariah yang bisa dirasakan langsung oleh umat,” jelasnya.

19-09-2025 | Badal Awan

Kolaborasi BAZNAS RI dan Kemenko PM Wujudkan 1.001 Titik Pemberdayaan Berbasis Kawasan
Kolaborasi BAZNAS RI dan Kemenko PM Wujudkan 1.001 Titik Pemberdayaan Berbasis Kawasan
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI melalui program Zmart, turut mendukung peluncuran Aktivasi 1.001 Titik Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kawasan se-Nusantara yang diinisiasi Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), yang resmi dimulai di Kawasan Produksi Widuri, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (17/9/2025).Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pemerintah yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka memperkuat pemberdayaan masyarakat berbasis kawasan di seluruh Indonesia. Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Dr. (H.C.) Muhaimin Iskandar, Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, Bupati Kendal Hj. Dyah Kartika Permanasari, S.E., M.M., Deputi II Kemenko PM Prof. Dr. Ir. R. Nunung Nuryartono, M.Si., Kepala Divisi Penguatan Pendistribusiaan dan Pedayagunaan BAZNAS Provinsi, Kab/Kota Iqbal Rachmat, serta sejumlah perwakilan lembaga mitra.Dalam sambutannya, Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, menegaskan komitmen BAZNAS untuk mendukung penuh program pemerintah dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat berbasis Kawasan, termasuk Program Aktivasi 1.001 Titik Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kawasan se-Nusantara. Ia menambahkan, dalam implementasinya terdapat tujuh mitra strategis yang berkontribusi, termasuk BAZNAS. “Partisipasi BAZNAS dalam program ini difokuskan pada penguatan ekonomi mustahik melalui Program ZMart, yang tidak hanya memberi modal usaha, tetapi juga pendampingan berkelanjutan," jelas Kiai Noor.“BAZNAS percaya bahwa zakat memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan sosial-ekonomi. Kami berharap, langkah ini menjadi penguat ekonomi masyarakat dan berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan nasional,” ujarnya.Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar menyampaikan apresiasi kepada BAZNAS, lembaga filantropi, dan para penggerak kawasan yang telah berperan aktif menghidupkan ekosistem pemberdayaan desa."Keberhasilan tidak mungkin dicapai tanpa membangun ekosistem kolaborasi yang produktif secara terus-menerus. Apa yang kita jadikan pilot project hari ini merupakan pematangan dari seluruh rangkaian perjuangan, baik yang dilakukan pemerintah maupun non-pemerintah,” kata Muhaimin.Ia menambahkan, kerja sama lintas sektor menjadi bukti nyata lahirnya kolaborasi produktif dalam pemberdayaan masyarakat desa. "Inilah ekosistem yang harus terus kita bangun bersama,” ujarnya.Sebagai Menko PM, Muhaimin menegaskan kesiapannya mendukung seluruh gerakan pemberdayaan yang melibatkan berbagai pihak. “Harapan kita, ekosistem pemberdayaan ini dapat tumbuh dan berkembang di masyarakat desa, memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ucapnya.Zmart BAZNAS adalah program pemberdayaan ekonomi yang dikembangkan BAZNAS untuk meningkatkan skala usaha warung dan toko kecil milik mustahik (penerima zakat), dengan memberikan modal, pendampingan, dan pelatihan agar usaha mustahik dapat berkembang, meningkatkan pendapatan, dan pada akhirnya bisa menjadi muzaki (pemberi zakat).

18-09-2025 | Badal Awan

Berita Pendistribusian

BAZNAS RI Siapkan 41 Truk Kontainer Bantuan Kebutuhan Pokok untuk Palestina
BAZNAS RI Siapkan 41 Truk Kontainer Bantuan Kebutuhan Pokok untuk Palestina
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan Mesir, Bait Zakat Wa As-Shadaqat dan Sunnah Al Hayyah, mengirimkan 41 truk kontainer berisi 45.000 karton paket bantuan kemanusiaan untuk masyarakat Palestina.Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA., mengatakan,bBantuan tersebut terdiri dari kebutuhan pokok seperti mi, beras, kacang, keju, tuna kaleng, biskuit, jus kotak, tepung, saus, dan kurma. Melalui Bait Zakat Wa As-Shadaqat, BAZNAS mengirimkan 30 truk kontainer, sementara melalui Sunnah Al Hayyah juga disiapkan 11 truk kontainer. Sehingga total bantuan yang diberikan sebanyak 41 truk.Kiai Noor menyampaikan, pihaknya menyambut baik gencatan senjata antara Palestina dan Israel. Hal ini mendorong BAZNAS untuk segera mempersiapkan pengiriman bantuan kebutuhan pokok ke Gaza.“Alhamdulillah kita sedang menyiapkan paket bantuan untuk rakyat Palestina. Kita menyadari bahwa ujian yang mereka hadapi sangatlah berat, namun kita juga meyakini bahwa dengan kebersamaan, doa, dan ikhtiar, kita dapat meringankan penderitaan mereka,” ujar Kiai Noor di Jakarta beberapa waktu lalu.Dia mengatakan, dalam menjaga komitmen dalam membantu rakyat Palestina, BAZNAS RI telah menandatangani MoU dengan UNRWA, JHCO, dan KHCF. Karenanya, selain menyalurkan bantuan makanan, BAZNAS RI juga berencana membantu pembangunan kembali fasilitas umum yang rusak akibat perang, seperti rumah sakit dan sekolah.“Kami berharap dengan memperluas jaringan kerja sama ini akan mempermudah penyaluran bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina,” kata Kiai Noor.Kiai Noor menambahkan hingga saat ini BAZNAS RI telah menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp120 miliar untuk masyarakat Palestina, dengan jumlah penerima manfaat mencapai 407.350 orang dan terus bertambah.“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Indonesia atas kepercayaan dan kepedulian yang telah diberikan. Semoga Allah Swt membalas kebaikan ini dengan keberkahan yang berlipat ganda, serta menjadikan amal ini sebagai penolong kita di dunia dan akhirat,” katanya.Wakil Ketua BAZNAS RI sekaligus Ketua Satgas Palestina, H. Mokhamad Mahdum, MIDEC, AK, CA, CPA, CWM, CGRCOP, GRCE, CHRP, menegaskan bahwa penyaluran bantuan ini telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di Mesir.“BAZNAS RI juga masih tetap membuka Infak Kemanusiaan bagi masyarakat Indonesia yang ingin menyalurkan keprihatinannya kepada Palestina, apa lagi saat ini juga kita akan segera memasuki bulan Ramadhan,” ucap Mo Mahdum.
30/01/2025 | Badal Awan
BAZNAS Makassar Dampingi dan Monitoring Pengembangan Bantuan Usaha UMKM
BAZNAS Makassar Dampingi dan Monitoring Pengembangan Bantuan Usaha UMKM
Dalam upaya memperkuat dampak positif bantuan yang diberikan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar melaksanakan kegiatan pendampingan dan monitoring serta evaluasi (monev) terhadap penerima manfaat program bantuan UMKM. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bantuan yang diberikan dapat dioptimalkan dan berdampak signifikan terhadap peningkatan usaha serta kesejahteraan para penerima manfaat. Kegiatan pendampingan dan monev ini dilaksanakan secara berkala dengan melibatkan tim pendamping BAZNAS Kota Makassar yang telah memiliki keahlian di bidang pemberdayaan ekonomi. Proses ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengelolaan keuangan usaha, strategi pemasaran, hingga pengembangan produk. Selain itu, BAZNAS juga memberikan pelatihan dan konsultasi guna mendukung pertumbuhan usaha penerima manfaat. Wakil Ketua II BAZNAS, Bapak H. Syahruddin Mayang, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen BAZNAS dalam mengoptimalkan dana zakat untuk pemberdayaan ekonomi umat. “Melalui pendampingan dan monev ini, kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah zakat yang disalurkan dapat benar-benar membantu penerima manfaat dalam meningkatkan taraf hidupnya. Kami juga terus mendorong penerima bantuan untuk menjadi mandiri dan berkembang lebih baik ke depannya,” ujar H. Syahruddin Mayang. Salah satu penerima manfaat, Muktabar Matammeng, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada BAZNAS atas pendampingan yang diberikan. “Bantuan dan pendampingan dari BAZNAS sangat membantu saya dalam mengelola usaha. Sekarang saya lebih memahami cara mengatur keuangan usaha dan meningkatkan pemasaran produk,” ujar Muktabar Matammeng. Dengan adanya kegiatan ini, BAZNAS Kota Makassar berharap dapat menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan bagi pelaku UMKM. Tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga membangun kapasitas penerima manfaat agar mampu menghadapi tantangan dalam mengembangkan usahanya. Ke depan, BAZNAS berkomitmen untuk terus melakukan inovasi program pemberdayaan yang berdampak luas bagi masyarakat.
13/12/2024 | Astin Setiawan
BAZNAS Makassar Salurkan Makanan Bergizi di Kampung Pemulung
BAZNAS Makassar Salurkan Makanan Bergizi di Kampung Pemulung
[Makassar, 22/11/2024] – Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat prasejahtera, BAZNAS Kota Makassar kembali menyalurkan bantuan makanan kepada kaum dhuafa di wilayah perkampungan pemulung. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk mendukung kesejahteraan masyarakat kurang mampu. Pada kesempatan kali ini, sebanyak 150 paket makanan didistribusikan kepada penerima manfaat. Bantuan pangan ini berupa makanan bergizi yang diharapkan dapat memenuhi nutrisi warga serta meringankan kebutuhan pangan. "Kami sangat bersyukur dapat berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semoga bantuan ini menjadi berkah dan memberikan manfaat nyata bagi mereka," ujar bapak Abd. Jurlan, Pimpinan BAZNAS Kota Makassar, dalam sambutannya. Kegiatan pembagian ini merupakan donatur dari para muzaki dan munfik BAZNAS Kota Makassar yang rutin disalurkan setiap pekan sebagai program sedekah jumat dimana BAZNAS Kota Makassar sebagai perpanjangan tangan dari para donatur yang ingin berbagi kebaikan.
22/11/2024 | Astin Setiawan

Artikel Terbaru

Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?
Kultum (Kuliah Terserah Antum) By ATM Kalau harta kita bisa bicara, kira-kira dia akan bilang apa? Mungkin bukan, “Tambah lagi saya.” Bukan juga, “Simpan saya lebih lama.” Bisa jadi dia justru berbisik pelan: “Tolong keluarkan zakat saya… sebelum saya jadi masalah buatmu.” Kita sering merasa harta itu milik kita sepenuhnya. Kita yang cari. Kita yang capek. Kita yang lembur. Kita yang jungkir balik. Tapi jarang kita sadar, harta itu sebenarnya cuma titipan. Dan titipan itu ada aturannya. Allah sudah jelaskan dengan sangat jelas: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103) Baca pelan-pelan ayat di atas. Yang dibersihkan itu bukan cuma hartanya. Tapi kita. Artinya, kalau zakat tidak keluar, yang kotor bukan uangnya saja — tapi hatinya juga bisa ikut berdebu. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan protes: “Kenapa saya ditahan terus? Saya ini bukan pajangan. Saya ada hak orang lain di dalamnya.” Bayangkan uang di rekening kita gelisah. Setiap akhir tahun dia batuk kecil. “Eh… sudah cukup haulnya, belum? Jangan sampai saya mengeras di sini.” Lucu juga membayangkannya. Tapi sebenarnya serius. Harta itu seperti air. Kalau mengalir, ia jernih. Kalau ditahan terus, lama-lama bau. Zakat itu bukan sekadar kewajiban administratif. Ia sistem pembersihan ilahi. Tanpa zakat, harta bisa berubah jadi beban. Ada orang yang hartanya banyak, tapi hidupnya gelisah. Ada yang asetnya luas, tapi tidurnya tipis. Bisa jadi bukan karena kurang, tapi karena ada hak orang lain yang belum dilepas. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan berkata: “Saya ini amanah. Jangan bikin saya jadi saksi yang memberatkanmu nanti.” Karena dalam Islam, harta bukan benda mati tanpa makna. Ia akan dipertanggungjawabkan. Dari mana datangnya. Ke mana perginya. Kita sering takut uang berkurang kalau zakat dikeluarkan. Padahal 2,5 persen itu kecil sekali dibandingkan nikmat yang kita terima setiap hari. Oksigen gratis. Jantung berdetak tanpa biaya. Mata melihat tanpa sewa. Tapi anehnya, begitu dengar angka 2,5 persen, hati langsung terasa 25 persen. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia juga akan berkata: “Saya lebih aman kalau dizakati. Kalau tidak, saya bisa berubah jadi fitnah.” Dan memang benar. Banyak orang jatuh bukan karena miskin, tapi karena kaya tanpa kendali. Harta yang tidak dizakati bisa menumbuhkan kesombongan pelan-pelan. Tidak terasa, tapi nyata. Zakat itu seperti servis rutin kendaraan. Bukan karena mobil rusak, tapi supaya tetap sehat. Harta yang rutin dizakati biasanya lebih berkah. Mungkin angkanya biasa saja, tapi cukup. Selalu ada jalan. Selalu ada kemudahan. Sebaliknya, harta yang ditahan-tahan sering terasa seret. Banyak, tapi seperti kurang. Ada saja kebutuhan mendadak. Ada saja kebocoran tak terduga. Bisa jadi hartanya sedang “protes halus”. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan memohon: “Jangan jadikan saya alasan kamu jauh dari Allah. Jadikan saya jembatan kamu dekat kepada-Nya.” Karena sejatinya, harta itu netral. Ia bisa jadi tangga ke surga. Bisa juga jadi beban ke neraka. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya. Kita ini sering terlalu sayang pada harta. Padahal harta tidak ikut dikuburkan bersama kita. Yang ikut hanyalah amal. Bayangkan nanti di akhirat, harta itu bersaksi. Kalau dia sudah dizakati, mungkin dia akan berkata: “Ya Allah, pemilikku ini pernah melepaskanku karena-Mu.” Tapi kalau tidak? Semoga saja dia tidak berkata yang lain. Maka sebelum harta itu “bicara” dalam bentuk yang kita tidak inginkan, lebih baik kita dengarkan bisikannya sekarang. Zakat bukan membuat kita miskin. Zakat justru menjaga kita tetap waras. Mengingatkan bahwa kita bukan pemilik mutlak. Hanya pengelola sementara. Dan kalau jujur, yang sebenarnya butuh zakat itu bukan hartanya. Tapi hati kita. Karena hati yang tidak dilatih berbagi, lama-lama mengeras. Dan hati yang keras lebih berbahaya daripada dompet yang kosong. Jadi, kalau hari ini kita buka rekening dan lihat saldo, coba bayangkan dia sedang tersenyum kecil sambil berkata: “Tenang… keluarkan saja zakatku. Aku tidak akan habis. Yang habis itu justru ketenanganmu kalau kau terus menahanku.” Lucu ya. Tapi semoga, lucu yang bikin kita berpikir. Dan berpikir yang bikin kita bergerak. Sebelum harta benar-benar “bicara” di hari yang tidak bisa kita jawab lagi. Wallahu A'lam. (ATM-Ashar Tamanggong)
02/03/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama  BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama
Ramadhan Bersama BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama
Kultum (Kuliah Terserah Antum) By ATM Ada pemandangan yang sering kita lihat dan anggap biasa: masjid ramai, saf rapat, suara doa menggema. Tapi di luar masjid, ada dapur yang sunyi, panci kosong, dan tetangga yang menahan lapar. Ironisnya, dua pemandangan ini bisa berdampingan tanpa saling menyapa. Ini bukan cerita jauh. Ini potret kita. Ibadah rajin, tapi kepedulian sering tertinggal. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan ibadah yang putus dari realitas sosial. Ibadah yang benar seharusnya melahirkan empati, bukan hanya ketenangan pribadi. Kalau ibadah membuat kita sibuk dengan diri sendiri tapi cuek dengan sekitar, jangan-jangan kita salah membaca agama. Allah menegur dengan cara yang sangat keras tapi jujur: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3) Ayat ini tidak bicara soal shalat dulu. Yang disorot justru sikap sosial. Seolah Allah ingin berkata: jangan bangga dulu dengan ibadah ritual kalau urusan tetangga saja masih gagal. Agama bukan cuma urusan sajadah, tapi juga urusan piring tetangga. Kita sering mengira iman itu soal rajin hadir di masjid. Padahal iman juga soal hadir di saat orang lain butuh. Bisa jadi shalat kita panjang, tapi langkah kita ke tetangga pendek. Lucunya lagi, banyak orang takut shalatnya tidak diterima, tapi tidak takut tetangganya kelaparan. Padahal Rasulullah SAW menegaskan, orang yang kenyang sementara tetangganya lapar bukanlah cermin iman yang sehat. Kita hidup di zaman individualis. Urusan ibadah sangat personal. Urusan sosial dianggap pilihan. Padahal dalam Islam, kepedulian itu kewajiban kolektif. Zakat, infak, dan sedekah bukan hiasan iman, tapi tiangnya. Banyak orang berkata, “Itu urusan lembaga zakat.” Betul. Tapi lembaga tidak akan bekerja kalau hati umat mati rasa. Lembaga itu alat. Yang menggerakkan tetap iman personal. Ironisnya, kita bisa hafal jadwal kajian, tapi tidak tahu kondisi tetangga. Bisa hafal doa panjang, tapi tidak hafal siapa yang butuh bantuan. Agama kita fasih di lisan, tapi sering gagap di tindakan. Ayat Al-Ma’un tadi menampar kita pelan tapi dalam. Bahwa agama yang dipisahkan dari kepedulian sosial bukan agama yang hidup. Itu agama yang kering, yang hanya sibuk mengurus diri sendiri. Islam tidak ingin umatnya saleh sendirian. Islam ingin umatnya saleh dan menyelamatkan. Karena kebaikan yang berhenti di diri sendiri itu egois, meski dibungkus ayat dan doa. Kalau hari ini masjid kita penuh, tapi tetangga kita masih kelaparan, itu bukan prestasi. Itu PR iman. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk menyadarkan diri. Zakat, infak, dan sedekah adalah jembatan agar ibadah kita tidak terputus dari realitas. Agar shalat kita punya kaki. Agar puasa kita punya tangan. Agar doa kita punya arah. Jangan sampai kita rajin menyebut nama Allah, tapi lupa menyebut nama tetangga. Jangan sampai kita sibuk mencari pahala pribadi, tapi lupa bahwa pahala sosial sering lebih berat timbangannya. Agama tidak diukur dari seberapa sering kita sujud, tapi juga dari seberapa sering kita peduli. Karena sujud yang benar seharusnya membuat kita lebih manusiawi. Kalau ibadah rajin tapi tetangga masih lapar, mungkin yang perlu diperbaiki bukan jadwal ibadah, tapi cara kita memahami agama. Karena agama yang benar itu bukan hanya yang mengangkat tangan ke langit, tapi yang mengulurkan tangan ke sekitar. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Kota Makassar)
01/03/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama  BAZNAS (10).  Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Ramadhan Bersama BAZNAS (10). Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Kultum (Kuliah Terserah Antum) By ATM Kita ini kadang unik. Setiap Ramadhan, semangat berbagi naik drastis. Kotak amal ramai, transfer zakat lancar, sedekah mengalir deras. Luar biasa. Tapi pertanyaannya: setelah Ramadhan lewat, apakah kekuatan umat ikut naik? Atau hanya saldo rekening yang sempat mampir lalu pergi? Zakat, infak, dan sedekah adalah pilar penting dalam Islam. Al-Qur'an berulang kali menggandengkan shalat dengan zakat. Bahkan di masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang menolak zakat diperangi karena dianggap merusak sistem sosial umat. Artinya, zakat bukan sekadar ibadah personal, tapi fondasi peradaban. Namun, kalau kita ingin berbicara tentang kekuatan umat, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar karitas (charity). Kita butuh pemberdayaan. Kita butuh sistem. Kita butuh keberlanjutan. Di sinilah wakaf menjadi “senjata rahasia” yang sering kurang disadari kedahsyatannya. Zakat: Menolong yang Lemah Zakat itu seperti ambulans. Ia datang ketika ada yang sakit, tertimpa musibah, kekurangan makan, terlilit utang. Ia menyelamatkan. Ia meringankan. Ia mengobati. Tapi ambulans tidak membangun rumah sakit. Zakat bersifat konsumtif sekaligus produktif, tapi tetap terbatas pada delapan asnaf. Ia menjaga agar yang miskin tidak semakin tenggelam. Namun untuk membuat umat berdiri tegak, kita perlu instrumen yang membangun infrastruktur jangka panjang. Wakaf: Membangun Sistem dan Peradaban Wakaf bukan sekadar memberi, tapi “mengunci aset” untuk kemaslahatan umat selamanya. Tanah diwakafkan, dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, kebun produktif, gedung usaha — hasilnya terus mengalir. Lihat sejarah. Universitas tertua di dunia seperti Universitas Al-Azhar berdiri dan bertahan berabad-abad karena sistem wakaf. Banyak rumah sakit dan lembaga pendidikan di dunia Islam klasik hidup dari aset wakaf. Bahkan di masa Umar bin Khattab, ketika beliau mendapatkan tanah di Khaibar, Nabi menyarankan agar pokoknya ditahan dan hasilnya disedekahkan. Itulah konsep wakaf produktif pertama dalam sejarah Islam. Coba bayangkan kalau setiap pengusaha Muslim punya satu aset wakaf produktif. Satu ruko saja. Disewakan, hasilnya untuk beasiswa. Sepuluh tahun kemudian, lahir ratusan sarjana dari keluarga dhuafa. Dua puluh tahun kemudian, mereka jadi dokter, insinyur, pemimpin. Itu bukan lagi sedekah sesaat. Itu rekayasa masa depan. Umat Lemah Bukan Karena Kurang Sedekah Mari jujur. Umat ini bukan kekurangan orang baik. Setiap ada bencana, donasi deras. Setiap ada pembangunan masjid, cepat terkumpul. Tapi kenapa kita masih sering tertinggal dalam ekonomi, pendidikan, dan riset? Karena kita kuat di “memberi ikan”, tapi belum serius membangun “kolam dan tambaknya”. Zakat itu jaring pengaman sosial. Wakaf adalah mesin penggerak ekonomi umat. Bayangkan jika dana zakat dikelola optimal oleh lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional, lalu didukung ekosistem wakaf produktif yang profesional. Umat tidak hanya menerima bantuan, tapi punya akses modal, pendidikan, layanan kesehatan, bahkan lapangan kerja.Itulah lompatan dari belas kasihan menuju kemandirian. Mengubah Pola Pikir: Dari Dermawan ke Visioner Kita sering bangga disebut dermawan. Tapi umat butuh lebih dari itu — umat butuh visioner. Dermawan berpikir: “Hari ini saya bantu.” Visioner berpikir: “Bagaimana agar 50 tahun lagi mereka tidak perlu dibantu lagi?” Wakaf melatih kita berpikir jangka panjang. Ia memaksa kita memikirkan tata kelola, manajemen, investasi, keberlanjutan. Wakaf bukan hanya soal pahala yang mengalir, tapi juga soal manajemen yang profesional. Kalau tidak dikelola dengan baik, aset wakaf bisa tidur. Tanah kosong bertahun-tahun. Bangunan terbengkalai. Padahal potensinya luar biasa. Saatnya Integrasi: ZISWAF sebagai Ekosistem Bukan berarti zakat, infak, dan sedekah tidak penting. Justru semuanya harus disinergikan. Zakat menjaga yang lemah. Infak dan sedekah memperluas kebaikan. Wakaf membangun fondasi jangka panjang. Bayangkan skema seperti ini: Zakat untuk pemberdayaan mustahik. Infak untuk program sosial fleksibel. Wakaf untuk membangun aset produktif yang hasilnya membiayai program tanpa henti. Kalau ini berjalan serius, umat tidak lagi hanya reaktif terhadap masalah, tapi proaktif menciptakan solusi. Dahsyatnya Wakaf Uang Hari ini, wakaf tidak harus menunggu kaya raya atau punya tanah luas. Wakaf uang membuka pintu bagi siapa saja. Seratus ribu, satu juta, berapapun — jika dikelola profesional — bisa menjadi modal usaha, proyek properti syariah, atau investasi sosial. Hasilnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi. Inilah sedekah yang “beranak-pinak”. Dari Emosional ke Institusional Kekuatan umat tidak bisa hanya dibangun dengan semangat musiman. Ia harus dibangun dengan sistem. Dari gerakan emosional menjadi gerakan institusional. Kita tetap tunaikan zakat. Kita rajin bersedekah. Tapi mari naik kelas. Mari berpikir wakaf. Mari bangun aset, bukan hanya habiskan kas. Karena umat yang kuat bukan hanya umat yang murah hati, tapi umat yang punya strategi. Dan mungkin, di situlah letak kedahsyatannya. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar TYamanggong/ketua BAZNAS Makassar)
28/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong

BAZNAS TV