WhatsApp Icon
banner
banner
Statistik

Berita Terkini

Ketua BAZNAS Sinjai Kunjungan Silaturahmi ke BAZNAS Makassar
Ketua BAZNAS Sinjai Kunjungan Silaturahmi ke BAZNAS Makassar
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar, tidak semata menjadi salah BAZNAS yang memiliki tingkat pengumpulan dan pendistribusian terbaik. Karena itulah, lembaga pemerintah nonstruktural beralamat di Jalan Teduh Bersinar No 5 Makassar ini selalu mendapat perhatian dari BAZNAS lainnya di tanah air. Ketua BAZNAS Kabupaten Sinjai, Drs.HM.Tahir misalnya, Kamis 9 April siang ini, melakukan kunjungan ke BAZNAS Makassar. Kunjungan silaturahim ini menjadi bukti, betapa ilmu pengetahun di dunia zakat, infak, dan sedekah, atau ZIS tidak akan pernah habis jika dibagi, dan keberkahan akan semakin berlipat jika dilakukan secara bersama sama. Kepala Bidang III Bidang Pelaporan dan Keuangan BAZNAS Kota Makassar, Badal Awan menyambut baik kunjungan Ketua BAZNAS BAZNAS Sinjai tersebut. Ia menambahkan, kehadiran tamu dari Sinjai adalah pengingat bahwa, mereka tidak berjuang sendiri dalam mengemban amanah zakat. Bagi Badal Awan, kunjungan ini menjadi pengingat bahwa, meskipun terpisah jarak geografis, namun visi keduanya tetap satu, yakni, memuliakan mustahik dan membahagiakan muzakki. “Bagi kami di BAZNAS Makassar, kunjungan silaturahmi ini tentunya sangat baik. Kami bisa berbagi pengalaman, baik di bidang pengumpulan, maupun pendistribusian. Kunjungan ini juga merupakan pertemuan dua ‘nadi’ penggerak zakat yang kepingin saling menguatkan. Ibarat pepatah, tali yang terjalin satu demi satu akan menjadi tambang yang kuat,” tutur Badal Awan yang juga mengaku berasal dari Sinjai itu. Sementara itu, Drs.HM.Tahir mengemukakan, kunjungan ke BAZNAS Makassar tidak lain lantaran lembaga amil yang dipimpin HM.Ashar Tamanggong bersama empat pimpinan lainnya itu memiliki pengalaman berharga. Dalam kunjungan tersebut, antara BAZNAS Makassar dan BAZNAS Sinjai bertukar pikiran dengan santai. “Kami mengakui, pengelolaan pendistribusian BAZNAS Makassar tepat sasaran, hingga strategis branding lembaga ini lebih dipercaya masyarakat muslim di kota ini,” ujarnya, seraya menambahkan, kedatangannya ke BAZNAS Makassar untuk belajar, menggali, sekaligus mempererat persaudaraan. Menjawab pertanyaan soal jumlah pengumpulan dan pendistribusian, HM.Tahir mengakui, masih dalam jumlah kecil. Makanya, BAZNAS Sinjai, dengan semangat kearifan lokal yang ada, akan menjadikan kunjungan silaturahmi ke BAZNAS Makassar ini sebagai pengalaman berharga, sehingga strategi inovatif dalam menghimpun zakat dari muzakki lambat laun akan diterapkan di Sinjai. Seperti diketahui, suasana pertemuan BAZNAS Makassar dan Sinjaiberjalan lancar. Mereka duduk santai, tidak ada dinding pemisah antara "tamu" dan "tuan rumah". Yang ada hanyalah diskusi hangat mengenai tantangan mengelola dana umat.
09/04/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
UPZ Masjid Nurul Ilmi UNM Serahkan Zakat Maal dan Infak Lebih Rp151 Juta
UPZ Masjid Nurul Ilmi UNM Serahkan Zakat Maal dan Infak Lebih Rp151 Juta
Masjid Nurul Ilmi Universitas Negeri Makassar (UNM) tidak semata tempat bersujud, melainkan pusat peradaban yang memancarkan cahaya (nur) dan ilmu (ilmi). Kamis, 9 April sore hari ini, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Masjid Nurul Ilmi, melalui Bendahara, Musakkir Baharuddin, ST menyerahkan zakat Maal sebesar Rp142.146.200, dan infak sebesar Rp9.181.000 kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAs) Kota Makassar. Meski penyerahan zakat Maal dan infak merupakan langkah administratif, namun sarat akan nilai teologis yang mendalam. Pasalnya, zakat merupakan kewajiban yang memiliki aturan main yang jelas. Kabag I Bidang Pengumpulan BAZNAS Kota Makassar, Darmawaty di sela sela menerima dana Rp151.327.200 mengemukakan, dengan menyerahkan zakat mal ke BAZNAS Makassar, maka UPZ Masjid Nurul Ilmi UNM telah mempraktikkan prinsip Manajemen Zakat yang Profesional dan sesuai amanah Undang Undang. “UPZ Masjid Nurul Ilmi UNM Makassar menitipkan amanah muzakki (pembayar zakat) kepada lembaga resmi negara seperti BAZNAS Makassar ini, adalah bentuk ikhtiar untuk memastikan bahwa, zakat tersalurkan secara terukur, tepat sasaran, dan memiliki dampak pemberdayaan yang berkelanjutan, bukan sekadar habis dikonsumsi,” ujar Darmawaty. Darma—sapaan akrab alumni Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar ini menyebut, penyaluran zakat mall dan infak ke BAZNAS Makassar oleh pengurus UPZ Masjid Nurul Ilmi adalah cermin dari sikap amanah. “Kita ketahui bersama bahwa, dalam Islam, pengurus masjid (takmir) bertindak sebagai penyambung lidah antara orang kaya dan orang miskin. Ini berarti UPZ Masjid Nurul Ilmi UNM transparansi, serta menjaga profesionalisme,” sabutnya. Darma menambahkan, jika zakat adalah kewajiban yang terukur, maka infak adalah wujud kelapangan hati. Nominal infak yang disalurkan bersama zakat mal tersebut menjadi bukti bahwa semangat kedermawanan jamaah Masjid Nurul Ilmi telah tumbuh subur. “Apa yang dilakukan masjid Nurul Ilmi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah manifestasi dari ajaran Islam yang memuliakan hubungan manusia dengan tuhan (hablum minallah), melainkan sekaligus manusia dengan sesamanya (hablum minannas),” tutup Darma. Bendahara UPZ Masjid Nurul Ilmu UNM, Musakkir Baharuddin mengemukakan, dirinya mewakili Ketua UPZ dan Ketua Pengurus Masjid Nurul Ilmi (Dr.H.Kulasse Kantor,M.Pd), dan (Prof.H.M.Asfah Rahman,M.Ed,Ph.D) tersebut menyerahkan secara langsung zakat maal dan infak dari 119 jamaah masjid yang beralamat di Jalan Raya Pendidikan tersebut waktu Ramadhan tahun 1447H mulai bulan Maret hingga April tahun ini. “Sebenarnya, laporan ke BAZNAS agak lambat. Nantinya akan kami ajukan rencana proposal untuk program keumattan yang akan dilaksanaklan bulan April ini,” ujarnya. Terpisah, Ketua BAZNAS Kota Makassar, HM.Ashar Tamanggong mengakui, ketika masjid-masjid di Makassar, salah satunya Nurul Ilmi bersinergi dengan BAZNAS, maka tercipta sebuah ekosistem ekonomi umat yang kokoh. “Menurut saya, zakat mall dan infak yang diserahkan masjid masjid di Kota Makassar ke BAZNAS, salah satyunya Nurul Ilmi ini membutikan bahwa, masjid tidak boleh eksklusif. Sebab, Islam mengajarkan Tawazun (keseimbangan). Di mana, ibadah salat di masjid diseimbangkan dengan kepedulian sosial di luar tembok masjid,” ujarnya. Penulis buku “Langit tak Pernah Offlione” ini menambahkan, langkah Masjid Nurul Ilmi dalam menyerahkan zakat mal dan infak ke BAZNAS Makassar adalah teladan bagi masjid-masjid lain. Ini bukan soal angka atau jumlah rupiah yang diserahkan, melainkan soal kepatuhan pada syariat dan kepercayaan pada sistem. Bagi ATM—sapaan akrab doktor luaran Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, sekecil apa pun zakat yang dikumpulkan, jika dikelola dengan cara yang benar, serta berkolaborasi dengan lembaga kredibel, tentunya akan menjadi energi penggerak bagi kesejahteraan umat. Sebab, pada hakikatnya, zakat bukan sekadar mengeluarkan harta, melainkan langkah mensucikan jiwa dan memupuk keberkahan bagi kota Makassar,” tutup da’i kondang kelahiran Takalar ini.
09/04/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Soal Dam Qurban Jemaah Haji, KBIHU Makassar Beri Amanah ke BAZNAS Makassar
Soal Dam Qurban Jemaah Haji, KBIHU Makassar Beri Amanah ke BAZNAS Makassar
Panggilan Allah ke tanah suci Mekkah, untuk menunaikan ibadah haji tahun ini, tinggal mengitung hari. Salah satu dibalik langkah suci dan tidak kalah MULIA adalah DAM. DAM haji adalah denda berupa penyembelihan hewan qurban yang wajib dibayar jemaah karena melanggar larangan ihram, meninggalkan wajib haji. Kota Makassar misalnya, Kelompok Kerja Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), menargetkan 85 ekor sapi untuk diqurbankan. Lembaga yang dipercayakan mengeksekusi hewan qurban itu adalah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar. Ketua KBIHU Kodam Hasanuddin, Mujahir dikonfirmasi, Selasa sore tadi mengakui, tahun ini pihaknya menyiapkan 85 ekor sapi qurban. Hewan qurban ini berasal dari 300 jemaah haji, baik dari KBIHU Wiratama--setia hingga akhir--, maupun KBIHU lainnya di kota yang kini dipimpin Walikota Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham ini. “Bahkan, selain Makassar, ada salah satu kabupaten di Sulsel juga bergabung melakukan DAM di Makassar ini,” tuturnya melalui jaringan celuler. Menjawab pertanyaan mengapa memberi kepercayaan ke BAZNAS Kota Makassar, untuk mengeksekusi ke-85 sapi qurban jemaah haji, Mujahir menilai, BAZNAS Kota Makassar di bawah kepemimpinan HM.Ashar Tamanggong dan empat pimpinan lainnya memberi warna begitu baik bagi perjalanan lembaga pemerintah nonstruktural beralamat di Jalan Teduh Bersinar No 5 tersebut. Di sisi lain, jelas Muhajir, tahun ini pemerintah membuka peluang pelaksanaan DAM di Tanah Air. Peluang tersebut tersirat dalam surat edaran yang menyebut secara tegas, “Pelaksanaan DAM di Tanah Air dapat dilakukan melalui BAZNAS, Lembaga Amil Zakat (LAZ), organisasi keagamaan Islam, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), maupun secara mandiri oleh Jemaah. “Begitu bunyi salah satu poin dalam surat edaran tersebut yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Puji Raharjo,” tuturnya. Sebelum menutup pernyataannya, Muhajir juga mengakui KBIHU Makassar sangat menaruh kepercayaan kepada BAZNAS Makassar lantaran transparan, akuntabel, dan profesional. Dikonfirmasi terpisah, Ketua Forum Komunikasi KBIHU Sulawesi Selatan, Guntur Mas’ud mengemukakan, pelaksanaan pemotongan hewan qurban di tanah air, salah satunya di Makassar merupakan langkah awal yang tepat sasaran. Sebab, jelasnya, meski pemotongan qurban di tanah suci, namun dagingnya selain dibagikan kepada fakir miskin di sana, juga sisanya dikirim ke negara asal jemaah haji, termasuk negara negara miskin. Selama ini, jelasnya, kementerian haji mengeluarkan keputusan, sekaligus menginstruksikan kepada jemaah, melaksanakan dam dan qurban bagi jemaah haji di tanah suci melalui proyek Adahi—satu satunya mekanisme resmi, sah, dan legal dalam penyembelihan hewan selama musim haji. Proyek Adahi ini dikelola oleh Al-Hay’ah Al-Malikiyyah li Mad?nat Makkah wal-Masy??ir al-Muqaddasah. “Nah, pemotongan hewan qurban yang begitu banyak di tanah suci, kemudian nantinya dikirim kembali ke negara asal jemaah haji, maka para ulama dan pemerintah Arab, termasuk negara negara asal jemaah haji melakukan musyawarah. Hasilnya mereka sepakat agar pelaksanaan qurban khusus DAM di negara asal jamaah haji,” ringkas Guntur Mas’ud. Menurutnya saat ini, PPIH Arab Saudi menetapkan dua skema pelaksanaan dam, dan qurban untuk jemaah Indonesia. Yaitu, penyembelihan di Tanah Suci, dan di tanah air. “Bagi jemaah yang mengikuti pendapat ulama yang membolehkan penyembelihan dam dilakukan di luar Tanah Suci, pelaksanaannya dapat dilakukan di Indonesia melalui BAZNAS,’ urainya. Sebelum menutup pernyataannya, Guntur Mas’ud mengakui, pilihan kepada BAZNAS Makassar sangat beralasan. Pasalnya, selain ada HM.Ashar Tamanggong bersama jajarannya yang memiliki pengalaman, juga punya keahlian, sekaligus punya pertanggungjawaban yang lebih baik. “Bagi kita di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan, dan Makassar, ini merupakan hal baru, sehingga perlu kehati hatian dalam pengelolaannya. Dan, di sisi lain harus diperjuangkan bersama sama agar bermanfaat sesuai peruntukannya. Tetapi, bagi kami BAZNAS Makassar sangat tepat,” urainya, seraya menambahkan, memilih BAZNAS Makassar lantaran merupakan salah satu lembaga sosial yang berada di bawah naungan pemerintah. Ketua BAZNAS Kota Makassar, Dr.HM.Ashar Tamanggong menyambut baik pilihan KBIHU Kota Makassar dan Sulawesi Selatan tersebut. “Tentunya, kami menyambut baik. Makanya, hari ini kami melakukan pertemuan dengan pihak Rumah Potong Hewan (RPH) Makassar, diwakili Pak Wahyuddin Kasim” tuturnya didampingi Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan BAZNAS Makassar, Ahmad Taslim dan Kabag I, Kabag II, Kabag III, dan Kabag IV (Darmawati, Nabil Salim, Badan Awan, dan Fitri Ramly). (din pattisahusiwa/tim media baznas kota makassar).
07/04/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa

Agenda Pimpinan

Zawa Funwalk 2025: BAZNAS Hadirkan Produk Mustahik, Bukti Nyata Pemberdayaan Zakat
Zawa Funwalk 2025: BAZNAS Hadirkan Produk Mustahik, Bukti Nyata Pemberdayaan Zakat
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menghadirkan berbagai produk hasil pemberdayaan mustahik dalam kegiatan Zawa Funwalk 2025 bertema “Berkah Maulid Berdayakan Umat” yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta, Minggu (21/9/2025). Melalui booth ZCoffee, BAZNAS membagikan 350 cangkir kopi hasil panen petani binaan, serta mendistribusikan 150 paket ZChicken kepada pengunjung sebagai bentuk sosialisasi program pemberdayaan ekonomi berbasis zakat. Selain itu, BAZNAS juga menyalurkan 100 Paket Logistik Keluarga (PLK) kepada mustahik, berisi bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, sarden, dan kornet. Turut hadir Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A, Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad MA, jajaran Pimpinan BAZNAS RI Prof. Ir. H. Muhamad Nadratuzzaman Hosen, MS.MEc ,Ph.D., Saidah Sakwan MA, KH. Achmad Sudrajat, Lc, M.A. CFRM., Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., beserta jajaran. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menekankan, penguatan zakat dan wakaf akan memberi dampak signifikan terhadap pengentasan kemiskinan. “Apalagi nanti kalau zakat wakaf itu sudah berdaya, maka sudah tidak ada lagi orang-orang miskin di Indonesia,” ungkapnya. Menurutnya, penguatan zakat dan wakaf bukan hanya kewajiban keagamaan, melainkan juga strategi pemberdayaan ekonomi umat. “Insya Allah ke depan bapak-ibu sekalian, carilah kiat-kiat bagaimana menampung zakat, bagaimana menampung wakaf produktif ini,” kata Menag. Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, menegaskan bahwa partisipasi BAZNAS dalam kegiatan ini bukan sekadar memeriahkan acara, melainkan menjadi bagian dari syiar zakat yang berdampak nyata. “Kami ingin menunjukkan bahwa zakat bukan hanya ibadah personal, tetapi juga instrumen sosial dan ekonomi yang memberdayakan. Produk-produk yang kami bawa ke CFD ini adalah hasil dari proses panjang pembinaan mustahik,” ujar Kiai Noor. Menurutnya, Zawa Funwalk menjadi ruang strategis untuk mengenalkan zakat dan wakaf dalam format yang dekat dengan masyarakat, sekaligus mengedukasi publik tentang pentingnya mendukung gerakan zakat produktif. "Melalui kegiatan ini, syiar zakat dan wakaf diharapkan semakin meluas di tengah dan dapat menjadi penggerak tumbuhnya kesadaran berzakat di kalangan masyarakat Indonesia," ucap Kiai Noor. Zawa Funwalk 2025 yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI ini menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari hiburan Islami, talkshow edukatif, hingga pameran produk-produk berbasis zakat dan wakaf. Kegiatan yang dihadiri 1.400 peserta ini juga menjadi rangkaian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1447 H/2026 M.

22-09-2025 | Humas BAZNAS Kota Makassar

BAZNAS dan IDEF Jalin Kerja Sama Strategis untuk Penguatan Ekonomi Syariah
BAZNAS dan IDEF Jalin Kerja Sama Strategis untuk Penguatan Ekonomi Syariah
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI melakukan kerja sama dengan Yayasan Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (IDEF) dalam rangka memperkuat pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua pihak yang dilaksanakan dalam rangkaian acara Tasyakuran Milad Satu Tahun Center for Sharia Economic Development (CSED) di Gedung Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta Timur, Kamis (18/9/2025). Turut hadir Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad MA., Wakil Ketua BAZNAS RI H. Mo Mahdum, jajaran Pimpinan BAZNAS RI, Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini, Ketua CSED-INDEF Prof. Nur Hidayah, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI Prof. Waryono Abdul Ghofur, Pendiri IDEF Fadhil Hasan, Direktur KNEKS, para akademisi, dan peneliti. Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA., menegaskan, kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam menjadikan zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat. “BAZNAS berkomitmen menjadikan zakat bukan hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi yang mampu menumbuhkan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi dengan IDEF akan memperluas langkah strategis ini,” ujar Kiai Noor. Kiai Noor menambahkan, sinergi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dan keuangan, menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi global. “Peningkatan kapasitas ekonomi syariah memerlukan kerja sama lintas sektor. Universitas, lembaga keuangan, dan BAZNAS dapat saling melengkapi,” ungkapnya. Menurutnya, “Keterlibatan banyak pihak menjadi modal penting dalam memperkuat gerakan ekonomi syariah. Inilah yang membuat BAZNAS semakin siap menghadapi dinamika global.” Kiai Noor berharap, kolaborasi strategis ini mampu memperluas dampak zakat dalam menjawab tantangan ekonomi masa depan. Sementara itu, Prof. Didik J. Rachbini menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memperkuat literasi dan riset ekonomi syariah. “Universitas memiliki peran strategis sebagai pusat riset. Melalui sinergi dengan BAZNAS dan IDEF, kami ingin mendorong inovasi kebijakan yang adaptif dan berdampak langsung pada masyarakat,” katanya. Dalam kesempatan yang sama, Pendiri IDEF Fadhil Hasan berharap kerja sama ini menghasilkan program konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Kami ingin memastikan MOU ini memberi manfaat nyata. Fokus kami adalah menghadirkan solusi ekonomi syariah yang bisa dirasakan langsung oleh umat,” jelasnya.

19-09-2025 | Badal Awan

Kolaborasi BAZNAS RI dan Kemenko PM Wujudkan 1.001 Titik Pemberdayaan Berbasis Kawasan
Kolaborasi BAZNAS RI dan Kemenko PM Wujudkan 1.001 Titik Pemberdayaan Berbasis Kawasan
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI melalui program Zmart, turut mendukung peluncuran Aktivasi 1.001 Titik Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kawasan se-Nusantara yang diinisiasi Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), yang resmi dimulai di Kawasan Produksi Widuri, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (17/9/2025).Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pemerintah yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka memperkuat pemberdayaan masyarakat berbasis kawasan di seluruh Indonesia. Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Dr. (H.C.) Muhaimin Iskandar, Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, Bupati Kendal Hj. Dyah Kartika Permanasari, S.E., M.M., Deputi II Kemenko PM Prof. Dr. Ir. R. Nunung Nuryartono, M.Si., Kepala Divisi Penguatan Pendistribusiaan dan Pedayagunaan BAZNAS Provinsi, Kab/Kota Iqbal Rachmat, serta sejumlah perwakilan lembaga mitra.Dalam sambutannya, Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, menegaskan komitmen BAZNAS untuk mendukung penuh program pemerintah dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat berbasis Kawasan, termasuk Program Aktivasi 1.001 Titik Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kawasan se-Nusantara. Ia menambahkan, dalam implementasinya terdapat tujuh mitra strategis yang berkontribusi, termasuk BAZNAS. “Partisipasi BAZNAS dalam program ini difokuskan pada penguatan ekonomi mustahik melalui Program ZMart, yang tidak hanya memberi modal usaha, tetapi juga pendampingan berkelanjutan," jelas Kiai Noor.“BAZNAS percaya bahwa zakat memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan sosial-ekonomi. Kami berharap, langkah ini menjadi penguat ekonomi masyarakat dan berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan nasional,” ujarnya.Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar menyampaikan apresiasi kepada BAZNAS, lembaga filantropi, dan para penggerak kawasan yang telah berperan aktif menghidupkan ekosistem pemberdayaan desa."Keberhasilan tidak mungkin dicapai tanpa membangun ekosistem kolaborasi yang produktif secara terus-menerus. Apa yang kita jadikan pilot project hari ini merupakan pematangan dari seluruh rangkaian perjuangan, baik yang dilakukan pemerintah maupun non-pemerintah,” kata Muhaimin.Ia menambahkan, kerja sama lintas sektor menjadi bukti nyata lahirnya kolaborasi produktif dalam pemberdayaan masyarakat desa. "Inilah ekosistem yang harus terus kita bangun bersama,” ujarnya.Sebagai Menko PM, Muhaimin menegaskan kesiapannya mendukung seluruh gerakan pemberdayaan yang melibatkan berbagai pihak. “Harapan kita, ekosistem pemberdayaan ini dapat tumbuh dan berkembang di masyarakat desa, memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ucapnya.Zmart BAZNAS adalah program pemberdayaan ekonomi yang dikembangkan BAZNAS untuk meningkatkan skala usaha warung dan toko kecil milik mustahik (penerima zakat), dengan memberikan modal, pendampingan, dan pelatihan agar usaha mustahik dapat berkembang, meningkatkan pendapatan, dan pada akhirnya bisa menjadi muzaki (pemberi zakat).

18-09-2025 | Badal Awan

Berita Pendistribusian

BAZNAS RI Siapkan 41 Truk Kontainer Bantuan Kebutuhan Pokok untuk Palestina
BAZNAS RI Siapkan 41 Truk Kontainer Bantuan Kebutuhan Pokok untuk Palestina
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan Mesir, Bait Zakat Wa As-Shadaqat dan Sunnah Al Hayyah, mengirimkan 41 truk kontainer berisi 45.000 karton paket bantuan kemanusiaan untuk masyarakat Palestina.Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA., mengatakan,bBantuan tersebut terdiri dari kebutuhan pokok seperti mi, beras, kacang, keju, tuna kaleng, biskuit, jus kotak, tepung, saus, dan kurma. Melalui Bait Zakat Wa As-Shadaqat, BAZNAS mengirimkan 30 truk kontainer, sementara melalui Sunnah Al Hayyah juga disiapkan 11 truk kontainer. Sehingga total bantuan yang diberikan sebanyak 41 truk.Kiai Noor menyampaikan, pihaknya menyambut baik gencatan senjata antara Palestina dan Israel. Hal ini mendorong BAZNAS untuk segera mempersiapkan pengiriman bantuan kebutuhan pokok ke Gaza.“Alhamdulillah kita sedang menyiapkan paket bantuan untuk rakyat Palestina. Kita menyadari bahwa ujian yang mereka hadapi sangatlah berat, namun kita juga meyakini bahwa dengan kebersamaan, doa, dan ikhtiar, kita dapat meringankan penderitaan mereka,” ujar Kiai Noor di Jakarta beberapa waktu lalu.Dia mengatakan, dalam menjaga komitmen dalam membantu rakyat Palestina, BAZNAS RI telah menandatangani MoU dengan UNRWA, JHCO, dan KHCF. Karenanya, selain menyalurkan bantuan makanan, BAZNAS RI juga berencana membantu pembangunan kembali fasilitas umum yang rusak akibat perang, seperti rumah sakit dan sekolah.“Kami berharap dengan memperluas jaringan kerja sama ini akan mempermudah penyaluran bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina,” kata Kiai Noor.Kiai Noor menambahkan hingga saat ini BAZNAS RI telah menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp120 miliar untuk masyarakat Palestina, dengan jumlah penerima manfaat mencapai 407.350 orang dan terus bertambah.“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Indonesia atas kepercayaan dan kepedulian yang telah diberikan. Semoga Allah Swt membalas kebaikan ini dengan keberkahan yang berlipat ganda, serta menjadikan amal ini sebagai penolong kita di dunia dan akhirat,” katanya.Wakil Ketua BAZNAS RI sekaligus Ketua Satgas Palestina, H. Mokhamad Mahdum, MIDEC, AK, CA, CPA, CWM, CGRCOP, GRCE, CHRP, menegaskan bahwa penyaluran bantuan ini telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di Mesir.“BAZNAS RI juga masih tetap membuka Infak Kemanusiaan bagi masyarakat Indonesia yang ingin menyalurkan keprihatinannya kepada Palestina, apa lagi saat ini juga kita akan segera memasuki bulan Ramadhan,” ucap Mo Mahdum.
30/01/2025 | Badal Awan
BAZNAS Makassar Dampingi dan Monitoring Pengembangan Bantuan Usaha UMKM
BAZNAS Makassar Dampingi dan Monitoring Pengembangan Bantuan Usaha UMKM
Dalam upaya memperkuat dampak positif bantuan yang diberikan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar melaksanakan kegiatan pendampingan dan monitoring serta evaluasi (monev) terhadap penerima manfaat program bantuan UMKM. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bantuan yang diberikan dapat dioptimalkan dan berdampak signifikan terhadap peningkatan usaha serta kesejahteraan para penerima manfaat. Kegiatan pendampingan dan monev ini dilaksanakan secara berkala dengan melibatkan tim pendamping BAZNAS Kota Makassar yang telah memiliki keahlian di bidang pemberdayaan ekonomi. Proses ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengelolaan keuangan usaha, strategi pemasaran, hingga pengembangan produk. Selain itu, BAZNAS juga memberikan pelatihan dan konsultasi guna mendukung pertumbuhan usaha penerima manfaat. Wakil Ketua II BAZNAS, Bapak H. Syahruddin Mayang, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen BAZNAS dalam mengoptimalkan dana zakat untuk pemberdayaan ekonomi umat. “Melalui pendampingan dan monev ini, kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah zakat yang disalurkan dapat benar-benar membantu penerima manfaat dalam meningkatkan taraf hidupnya. Kami juga terus mendorong penerima bantuan untuk menjadi mandiri dan berkembang lebih baik ke depannya,” ujar H. Syahruddin Mayang. Salah satu penerima manfaat, Muktabar Matammeng, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada BAZNAS atas pendampingan yang diberikan. “Bantuan dan pendampingan dari BAZNAS sangat membantu saya dalam mengelola usaha. Sekarang saya lebih memahami cara mengatur keuangan usaha dan meningkatkan pemasaran produk,” ujar Muktabar Matammeng. Dengan adanya kegiatan ini, BAZNAS Kota Makassar berharap dapat menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan bagi pelaku UMKM. Tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga membangun kapasitas penerima manfaat agar mampu menghadapi tantangan dalam mengembangkan usahanya. Ke depan, BAZNAS berkomitmen untuk terus melakukan inovasi program pemberdayaan yang berdampak luas bagi masyarakat.
13/12/2024 | Astin Setiawan
BAZNAS Makassar Salurkan Makanan Bergizi di Kampung Pemulung
BAZNAS Makassar Salurkan Makanan Bergizi di Kampung Pemulung
[Makassar, 22/11/2024] – Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat prasejahtera, BAZNAS Kota Makassar kembali menyalurkan bantuan makanan kepada kaum dhuafa di wilayah perkampungan pemulung. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk mendukung kesejahteraan masyarakat kurang mampu. Pada kesempatan kali ini, sebanyak 150 paket makanan didistribusikan kepada penerima manfaat. Bantuan pangan ini berupa makanan bergizi yang diharapkan dapat memenuhi nutrisi warga serta meringankan kebutuhan pangan. "Kami sangat bersyukur dapat berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semoga bantuan ini menjadi berkah dan memberikan manfaat nyata bagi mereka," ujar bapak Abd. Jurlan, Pimpinan BAZNAS Kota Makassar, dalam sambutannya. Kegiatan pembagian ini merupakan donatur dari para muzaki dan munfik BAZNAS Kota Makassar yang rutin disalurkan setiap pekan sebagai program sedekah jumat dimana BAZNAS Kota Makassar sebagai perpanjangan tangan dari para donatur yang ingin berbagi kebaikan.
22/11/2024 | Astin Setiawan

Artikel Terbaru

Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?
Kultum (Kuliah Terserah Antum) By ATM Kalau harta kita bisa bicara, kira-kira dia akan bilang apa? Mungkin bukan, “Tambah lagi saya.” Bukan juga, “Simpan saya lebih lama.” Bisa jadi dia justru berbisik pelan: “Tolong keluarkan zakat saya… sebelum saya jadi masalah buatmu.” Kita sering merasa harta itu milik kita sepenuhnya. Kita yang cari. Kita yang capek. Kita yang lembur. Kita yang jungkir balik. Tapi jarang kita sadar, harta itu sebenarnya cuma titipan. Dan titipan itu ada aturannya. Allah sudah jelaskan dengan sangat jelas: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103) Baca pelan-pelan ayat di atas. Yang dibersihkan itu bukan cuma hartanya. Tapi kita. Artinya, kalau zakat tidak keluar, yang kotor bukan uangnya saja — tapi hatinya juga bisa ikut berdebu. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan protes: “Kenapa saya ditahan terus? Saya ini bukan pajangan. Saya ada hak orang lain di dalamnya.” Bayangkan uang di rekening kita gelisah. Setiap akhir tahun dia batuk kecil. “Eh… sudah cukup haulnya, belum? Jangan sampai saya mengeras di sini.” Lucu juga membayangkannya. Tapi sebenarnya serius. Harta itu seperti air. Kalau mengalir, ia jernih. Kalau ditahan terus, lama-lama bau. Zakat itu bukan sekadar kewajiban administratif. Ia sistem pembersihan ilahi. Tanpa zakat, harta bisa berubah jadi beban. Ada orang yang hartanya banyak, tapi hidupnya gelisah. Ada yang asetnya luas, tapi tidurnya tipis. Bisa jadi bukan karena kurang, tapi karena ada hak orang lain yang belum dilepas. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan berkata: “Saya ini amanah. Jangan bikin saya jadi saksi yang memberatkanmu nanti.” Karena dalam Islam, harta bukan benda mati tanpa makna. Ia akan dipertanggungjawabkan. Dari mana datangnya. Ke mana perginya. Kita sering takut uang berkurang kalau zakat dikeluarkan. Padahal 2,5 persen itu kecil sekali dibandingkan nikmat yang kita terima setiap hari. Oksigen gratis. Jantung berdetak tanpa biaya. Mata melihat tanpa sewa. Tapi anehnya, begitu dengar angka 2,5 persen, hati langsung terasa 25 persen. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia juga akan berkata: “Saya lebih aman kalau dizakati. Kalau tidak, saya bisa berubah jadi fitnah.” Dan memang benar. Banyak orang jatuh bukan karena miskin, tapi karena kaya tanpa kendali. Harta yang tidak dizakati bisa menumbuhkan kesombongan pelan-pelan. Tidak terasa, tapi nyata. Zakat itu seperti servis rutin kendaraan. Bukan karena mobil rusak, tapi supaya tetap sehat. Harta yang rutin dizakati biasanya lebih berkah. Mungkin angkanya biasa saja, tapi cukup. Selalu ada jalan. Selalu ada kemudahan. Sebaliknya, harta yang ditahan-tahan sering terasa seret. Banyak, tapi seperti kurang. Ada saja kebutuhan mendadak. Ada saja kebocoran tak terduga. Bisa jadi hartanya sedang “protes halus”. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan memohon: “Jangan jadikan saya alasan kamu jauh dari Allah. Jadikan saya jembatan kamu dekat kepada-Nya.” Karena sejatinya, harta itu netral. Ia bisa jadi tangga ke surga. Bisa juga jadi beban ke neraka. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya. Kita ini sering terlalu sayang pada harta. Padahal harta tidak ikut dikuburkan bersama kita. Yang ikut hanyalah amal. Bayangkan nanti di akhirat, harta itu bersaksi. Kalau dia sudah dizakati, mungkin dia akan berkata: “Ya Allah, pemilikku ini pernah melepaskanku karena-Mu.” Tapi kalau tidak? Semoga saja dia tidak berkata yang lain. Maka sebelum harta itu “bicara” dalam bentuk yang kita tidak inginkan, lebih baik kita dengarkan bisikannya sekarang. Zakat bukan membuat kita miskin. Zakat justru menjaga kita tetap waras. Mengingatkan bahwa kita bukan pemilik mutlak. Hanya pengelola sementara. Dan kalau jujur, yang sebenarnya butuh zakat itu bukan hartanya. Tapi hati kita. Karena hati yang tidak dilatih berbagi, lama-lama mengeras. Dan hati yang keras lebih berbahaya daripada dompet yang kosong. Jadi, kalau hari ini kita buka rekening dan lihat saldo, coba bayangkan dia sedang tersenyum kecil sambil berkata: “Tenang… keluarkan saja zakatku. Aku tidak akan habis. Yang habis itu justru ketenanganmu kalau kau terus menahanku.” Lucu ya. Tapi semoga, lucu yang bikin kita berpikir. Dan berpikir yang bikin kita bergerak. Sebelum harta benar-benar “bicara” di hari yang tidak bisa kita jawab lagi. Wallahu A'lam. (ATM-Ashar Tamanggong)
02/03/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama  BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama
Ramadhan Bersama BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama
Kultum (Kuliah Terserah Antum) By ATM Ada pemandangan yang sering kita lihat dan anggap biasa: masjid ramai, saf rapat, suara doa menggema. Tapi di luar masjid, ada dapur yang sunyi, panci kosong, dan tetangga yang menahan lapar. Ironisnya, dua pemandangan ini bisa berdampingan tanpa saling menyapa. Ini bukan cerita jauh. Ini potret kita. Ibadah rajin, tapi kepedulian sering tertinggal. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan ibadah yang putus dari realitas sosial. Ibadah yang benar seharusnya melahirkan empati, bukan hanya ketenangan pribadi. Kalau ibadah membuat kita sibuk dengan diri sendiri tapi cuek dengan sekitar, jangan-jangan kita salah membaca agama. Allah menegur dengan cara yang sangat keras tapi jujur: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3) Ayat ini tidak bicara soal shalat dulu. Yang disorot justru sikap sosial. Seolah Allah ingin berkata: jangan bangga dulu dengan ibadah ritual kalau urusan tetangga saja masih gagal. Agama bukan cuma urusan sajadah, tapi juga urusan piring tetangga. Kita sering mengira iman itu soal rajin hadir di masjid. Padahal iman juga soal hadir di saat orang lain butuh. Bisa jadi shalat kita panjang, tapi langkah kita ke tetangga pendek. Lucunya lagi, banyak orang takut shalatnya tidak diterima, tapi tidak takut tetangganya kelaparan. Padahal Rasulullah SAW menegaskan, orang yang kenyang sementara tetangganya lapar bukanlah cermin iman yang sehat. Kita hidup di zaman individualis. Urusan ibadah sangat personal. Urusan sosial dianggap pilihan. Padahal dalam Islam, kepedulian itu kewajiban kolektif. Zakat, infak, dan sedekah bukan hiasan iman, tapi tiangnya. Banyak orang berkata, “Itu urusan lembaga zakat.” Betul. Tapi lembaga tidak akan bekerja kalau hati umat mati rasa. Lembaga itu alat. Yang menggerakkan tetap iman personal. Ironisnya, kita bisa hafal jadwal kajian, tapi tidak tahu kondisi tetangga. Bisa hafal doa panjang, tapi tidak hafal siapa yang butuh bantuan. Agama kita fasih di lisan, tapi sering gagap di tindakan. Ayat Al-Ma’un tadi menampar kita pelan tapi dalam. Bahwa agama yang dipisahkan dari kepedulian sosial bukan agama yang hidup. Itu agama yang kering, yang hanya sibuk mengurus diri sendiri. Islam tidak ingin umatnya saleh sendirian. Islam ingin umatnya saleh dan menyelamatkan. Karena kebaikan yang berhenti di diri sendiri itu egois, meski dibungkus ayat dan doa. Kalau hari ini masjid kita penuh, tapi tetangga kita masih kelaparan, itu bukan prestasi. Itu PR iman. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk menyadarkan diri. Zakat, infak, dan sedekah adalah jembatan agar ibadah kita tidak terputus dari realitas. Agar shalat kita punya kaki. Agar puasa kita punya tangan. Agar doa kita punya arah. Jangan sampai kita rajin menyebut nama Allah, tapi lupa menyebut nama tetangga. Jangan sampai kita sibuk mencari pahala pribadi, tapi lupa bahwa pahala sosial sering lebih berat timbangannya. Agama tidak diukur dari seberapa sering kita sujud, tapi juga dari seberapa sering kita peduli. Karena sujud yang benar seharusnya membuat kita lebih manusiawi. Kalau ibadah rajin tapi tetangga masih lapar, mungkin yang perlu diperbaiki bukan jadwal ibadah, tapi cara kita memahami agama. Karena agama yang benar itu bukan hanya yang mengangkat tangan ke langit, tapi yang mengulurkan tangan ke sekitar. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Kota Makassar)
01/03/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama  BAZNAS (10).  Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Ramadhan Bersama BAZNAS (10). Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Kultum (Kuliah Terserah Antum) By ATM Kita ini kadang unik. Setiap Ramadhan, semangat berbagi naik drastis. Kotak amal ramai, transfer zakat lancar, sedekah mengalir deras. Luar biasa. Tapi pertanyaannya: setelah Ramadhan lewat, apakah kekuatan umat ikut naik? Atau hanya saldo rekening yang sempat mampir lalu pergi? Zakat, infak, dan sedekah adalah pilar penting dalam Islam. Al-Qur'an berulang kali menggandengkan shalat dengan zakat. Bahkan di masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang menolak zakat diperangi karena dianggap merusak sistem sosial umat. Artinya, zakat bukan sekadar ibadah personal, tapi fondasi peradaban. Namun, kalau kita ingin berbicara tentang kekuatan umat, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar karitas (charity). Kita butuh pemberdayaan. Kita butuh sistem. Kita butuh keberlanjutan. Di sinilah wakaf menjadi “senjata rahasia” yang sering kurang disadari kedahsyatannya. Zakat: Menolong yang Lemah Zakat itu seperti ambulans. Ia datang ketika ada yang sakit, tertimpa musibah, kekurangan makan, terlilit utang. Ia menyelamatkan. Ia meringankan. Ia mengobati. Tapi ambulans tidak membangun rumah sakit. Zakat bersifat konsumtif sekaligus produktif, tapi tetap terbatas pada delapan asnaf. Ia menjaga agar yang miskin tidak semakin tenggelam. Namun untuk membuat umat berdiri tegak, kita perlu instrumen yang membangun infrastruktur jangka panjang. Wakaf: Membangun Sistem dan Peradaban Wakaf bukan sekadar memberi, tapi “mengunci aset” untuk kemaslahatan umat selamanya. Tanah diwakafkan, dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, kebun produktif, gedung usaha — hasilnya terus mengalir. Lihat sejarah. Universitas tertua di dunia seperti Universitas Al-Azhar berdiri dan bertahan berabad-abad karena sistem wakaf. Banyak rumah sakit dan lembaga pendidikan di dunia Islam klasik hidup dari aset wakaf. Bahkan di masa Umar bin Khattab, ketika beliau mendapatkan tanah di Khaibar, Nabi menyarankan agar pokoknya ditahan dan hasilnya disedekahkan. Itulah konsep wakaf produktif pertama dalam sejarah Islam. Coba bayangkan kalau setiap pengusaha Muslim punya satu aset wakaf produktif. Satu ruko saja. Disewakan, hasilnya untuk beasiswa. Sepuluh tahun kemudian, lahir ratusan sarjana dari keluarga dhuafa. Dua puluh tahun kemudian, mereka jadi dokter, insinyur, pemimpin. Itu bukan lagi sedekah sesaat. Itu rekayasa masa depan. Umat Lemah Bukan Karena Kurang Sedekah Mari jujur. Umat ini bukan kekurangan orang baik. Setiap ada bencana, donasi deras. Setiap ada pembangunan masjid, cepat terkumpul. Tapi kenapa kita masih sering tertinggal dalam ekonomi, pendidikan, dan riset? Karena kita kuat di “memberi ikan”, tapi belum serius membangun “kolam dan tambaknya”. Zakat itu jaring pengaman sosial. Wakaf adalah mesin penggerak ekonomi umat. Bayangkan jika dana zakat dikelola optimal oleh lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional, lalu didukung ekosistem wakaf produktif yang profesional. Umat tidak hanya menerima bantuan, tapi punya akses modal, pendidikan, layanan kesehatan, bahkan lapangan kerja.Itulah lompatan dari belas kasihan menuju kemandirian. Mengubah Pola Pikir: Dari Dermawan ke Visioner Kita sering bangga disebut dermawan. Tapi umat butuh lebih dari itu — umat butuh visioner. Dermawan berpikir: “Hari ini saya bantu.” Visioner berpikir: “Bagaimana agar 50 tahun lagi mereka tidak perlu dibantu lagi?” Wakaf melatih kita berpikir jangka panjang. Ia memaksa kita memikirkan tata kelola, manajemen, investasi, keberlanjutan. Wakaf bukan hanya soal pahala yang mengalir, tapi juga soal manajemen yang profesional. Kalau tidak dikelola dengan baik, aset wakaf bisa tidur. Tanah kosong bertahun-tahun. Bangunan terbengkalai. Padahal potensinya luar biasa. Saatnya Integrasi: ZISWAF sebagai Ekosistem Bukan berarti zakat, infak, dan sedekah tidak penting. Justru semuanya harus disinergikan. Zakat menjaga yang lemah. Infak dan sedekah memperluas kebaikan. Wakaf membangun fondasi jangka panjang. Bayangkan skema seperti ini: Zakat untuk pemberdayaan mustahik. Infak untuk program sosial fleksibel. Wakaf untuk membangun aset produktif yang hasilnya membiayai program tanpa henti. Kalau ini berjalan serius, umat tidak lagi hanya reaktif terhadap masalah, tapi proaktif menciptakan solusi. Dahsyatnya Wakaf Uang Hari ini, wakaf tidak harus menunggu kaya raya atau punya tanah luas. Wakaf uang membuka pintu bagi siapa saja. Seratus ribu, satu juta, berapapun — jika dikelola profesional — bisa menjadi modal usaha, proyek properti syariah, atau investasi sosial. Hasilnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi. Inilah sedekah yang “beranak-pinak”. Dari Emosional ke Institusional Kekuatan umat tidak bisa hanya dibangun dengan semangat musiman. Ia harus dibangun dengan sistem. Dari gerakan emosional menjadi gerakan institusional. Kita tetap tunaikan zakat. Kita rajin bersedekah. Tapi mari naik kelas. Mari berpikir wakaf. Mari bangun aset, bukan hanya habiskan kas. Karena umat yang kuat bukan hanya umat yang murah hati, tapi umat yang punya strategi. Dan mungkin, di situlah letak kedahsyatannya. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar TYamanggong/ketua BAZNAS Makassar)
28/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong

BAZNAS TV