Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?
02/03/2026 | Penulis: HM.Ashar Tamanggong
Ketua BAZNAS Kota Makassar
Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Kalau harta kita bisa bicara, kira-kira dia akan bilang apa? Mungkin bukan, “Tambah lagi saya.” Bukan juga, “Simpan saya lebih lama.”
Bisa jadi dia justru berbisik pelan: “Tolong keluarkan zakat saya… sebelum saya jadi masalah buatmu.”
Kita sering merasa harta itu milik kita sepenuhnya. Kita yang cari. Kita yang capek. Kita yang lembur. Kita yang jungkir balik. Tapi jarang kita sadar, harta itu sebenarnya cuma titipan. Dan titipan itu ada aturannya.
Allah sudah jelaskan dengan sangat jelas: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103) Baca pelan-pelan ayat di atas. Yang dibersihkan itu bukan cuma hartanya.
Tapi kita. Artinya, kalau zakat tidak keluar, yang kotor bukan uangnya saja — tapi hatinya juga bisa ikut berdebu. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan protes: “Kenapa saya ditahan terus? Saya ini bukan pajangan. Saya ada hak orang lain di dalamnya.”
Bayangkan uang di rekening kita gelisah. Setiap akhir tahun dia batuk kecil. “Eh… sudah cukup haulnya, belum? Jangan sampai saya mengeras di sini.”
Lucu juga membayangkannya. Tapi sebenarnya serius. Harta itu seperti air. Kalau mengalir, ia jernih. Kalau ditahan terus, lama-lama bau. Zakat itu bukan sekadar kewajiban administratif. Ia sistem pembersihan ilahi. Tanpa zakat, harta bisa berubah jadi beban.
Ada orang yang hartanya banyak, tapi hidupnya gelisah. Ada yang asetnya luas, tapi tidurnya tipis. Bisa jadi bukan karena kurang, tapi karena ada hak orang lain yang belum dilepas.
Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan berkata: “Saya ini amanah. Jangan bikin saya jadi saksi yang memberatkanmu nanti.” Karena dalam Islam, harta bukan benda mati tanpa makna. Ia akan dipertanggungjawabkan. Dari mana datangnya. Ke mana perginya.
Kita sering takut uang berkurang kalau zakat dikeluarkan. Padahal 2,5 persen itu kecil sekali dibandingkan nikmat yang kita terima setiap hari. Oksigen gratis. Jantung berdetak tanpa biaya. Mata melihat tanpa sewa. Tapi anehnya, begitu dengar angka 2,5 persen, hati langsung terasa 25 persen.
Kalau harta bisa bicara, mungkin dia juga akan berkata: “Saya lebih aman kalau dizakati. Kalau tidak, saya bisa berubah jadi fitnah.”
Dan memang benar. Banyak orang jatuh bukan karena miskin, tapi karena kaya tanpa kendali. Harta yang tidak dizakati bisa menumbuhkan kesombongan pelan-pelan. Tidak terasa, tapi nyata.
Zakat itu seperti servis rutin kendaraan. Bukan karena mobil rusak, tapi supaya tetap sehat. Harta yang rutin dizakati biasanya lebih berkah. Mungkin angkanya biasa saja, tapi cukup. Selalu ada jalan. Selalu ada kemudahan.
Sebaliknya, harta yang ditahan-tahan sering terasa seret. Banyak, tapi seperti kurang. Ada saja kebutuhan mendadak. Ada saja kebocoran tak terduga.
Bisa jadi hartanya sedang “protes halus”. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan memohon: “Jangan jadikan saya alasan kamu jauh dari Allah. Jadikan saya jembatan kamu dekat kepada-Nya.”
Karena sejatinya, harta itu netral. Ia bisa jadi tangga ke surga. Bisa juga jadi beban ke neraka. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya.
Kita ini sering terlalu sayang pada harta. Padahal harta tidak ikut dikuburkan bersama kita. Yang ikut hanyalah amal. Bayangkan nanti di akhirat, harta itu bersaksi. Kalau dia sudah dizakati, mungkin dia akan berkata:
“Ya Allah, pemilikku ini pernah melepaskanku karena-Mu.” Tapi kalau tidak? Semoga saja dia tidak berkata yang lain.
Maka sebelum harta itu “bicara” dalam bentuk yang kita tidak inginkan, lebih baik kita dengarkan bisikannya sekarang. Zakat bukan membuat kita miskin. Zakat justru menjaga kita tetap waras. Mengingatkan bahwa kita bukan pemilik mutlak. Hanya pengelola sementara.
Dan kalau jujur, yang sebenarnya butuh zakat itu bukan hartanya. Tapi hati kita. Karena hati yang tidak dilatih berbagi, lama-lama mengeras. Dan hati yang keras lebih berbahaya daripada dompet yang kosong.
Jadi, kalau hari ini kita buka rekening dan lihat saldo, coba bayangkan dia sedang tersenyum kecil sambil berkata: “Tenang… keluarkan saja zakatku. Aku tidak akan habis. Yang habis itu justru ketenanganmu kalau kau terus menahanku.”
Lucu ya. Tapi semoga, lucu yang bikin kita berpikir. Dan berpikir yang bikin kita bergerak. Sebelum harta benar-benar “bicara” di hari yang tidak bisa kita jawab lagi. Wallahu A'lam. (ATM-Ashar Tamanggong)
Artikel Lainnya
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (13). Sedekah Konten vs Sedekah Benaran: Mana yang Lebih Kita Cari?
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi
Ramadhan bersama Baznas (2). Dompet Tipis Tak Apa, Asal Hati Tidak Pelit
Ramadhan Bersama BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama
Rukun Islam
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (7). Infak Kecil Tapi Rutin, Lebih Berisik di Langit
Dakwah Itu Jalan Cinta
RAMADHAN BERSAMA BAZNAS (8). Sedekah Tidak Menunggu Kaya, Orang Pelit Justru Tak Pernah Merasa Kaya
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa
Perhatian Rasulullah kepada umatnya
Mengenal Kafarat Dalam Islam : Macam-Macam dan Tata Cara Penebusannya
Ramadhan Bersama BAZNAS (10). Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Tips Mengelola Penghasilan Bulanan
Amalan Sebelum Tidur Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Makasar.
Lihat Daftar Rekening →