WhatsApp Icon
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?

 

Zakat itu cuma 2,5 persen. Bukan 25 persen. Bukan juga 52 persen. Cuma dua koma lima. Tapi anehnya, beratnya bisa sampai 25 ton di hati.

Kalau diskon 2,5 persen, kita bilang, “Ah kecil sekali.”

Kalau kena potongan 2,5 persen untuk zakat, kita bilang, “Wah lumayan juga ya…”

Lucu ya?

Padahal yang mewajibkan zakat itu bukan RT, bukan negara, bukan juga panitia masjid. Yang mewajibkan adalah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, perintah zakat sering sekali digandengkan dengan shalat. Coba buka Al-Qur'an, kita akan temukan ayat seperti:

“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat…”

Shalat dan zakat itu saudara kembar. Tapi anehnya, kita sering memisahkan keduanya. Shalat kita jaga, zakat kita tunda. Shalat tepat waktu, zakat tepat alasan.

Kenapa berat?

Pertama, karena kita merasa harta itu hasil kerja keras kita sendiri.

Kita bilang, “Ini kan hasil keringat saya.”

Padahal keringat pun Allah yang beri. Nafas Allah yang kasih. Kesempatan Allah yang buka. Rezeki Allah yang atur.

Kita lupa bahwa dalam harta kita ada hak orang lain. Bukan sedekah. Bukan bonus. Tapi hak.

Zakat bukan memberi, tapi mengembalikan.

Kalau ada orang mengambil hak kita 2,5 persen saja, kita bisa marah tujuh turunan. Tapi ketika kita menahan hak orang lain 2,5 persen, hati kita tenang-tenang saja.

Berarti ada yang salah dengan rasa.

Kedua, karena kita takut miskin.

Padahal Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa setan menakut-nakuti dengan kemiskinan, sementara Allah menjanjikan ampunan dan karunia. Tapi kita lebih percaya pada bisikan setan daripada janji Tuhan.

Logika kita sering terbalik.

Belanja gadget baru: berani.

Upgrade mobil: yakin.

Zakat: mikir dulu.

Padahal mobil bisa turun harga. Gadget bisa usang. Tapi zakat? Itu investasi akhirat yang tidak pernah rugi.

Ketiga, karena cinta dunia terlalu lengket.

Harta itu seperti permen karet. Kalau cuma dipegang, tidak masalah. Tapi kalau ditempel di hati, susah dilepas.

Masalahnya bukan pada uangnya. Masalahnya pada hati yang terlalu sayang.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” Hadits ini diriwayatkan oleh Sahih Muslim. 

Tapi kita tetap merasa berkurang.

Kenapa? Karena kita menghitung dengan kalkulator dunia, bukan dengan kalkulator iman.

Padahal zakat itu bukan mengurangi, tapi membersihkan. Kata “zakat” sendiri artinya suci dan tumbuh. Jadi setiap kali kita membayar zakat, seharusnya kita sedang menyucikan harta dan menumbuhkan keberkahan.

Tapi sering kali kita memperlakukan zakat seperti denda.

Bayar karena takut.

Bayar karena malu.

Bayar karena ditagih.

Bukan karena cinta.

Bukan karena syukur.

Bukan karena sadar.

Keempat, karena kita jarang melihat dampaknya.

Kita tidak melihat langsung siapa yang terbantu. Kita tidak tahu wajah anak yatim yang tersenyum. Kita tidak mendengar doa ibu yang terbebas dari hutang. Maka hati kita tidak tersentuh.

Padahal kalau kita mau menyalurkan melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional, pengelolaannya profesional, programnya jelas, dan manfaatnya nyata. Tinggal kita mau atau tidak membuka hati.

Zakat bukan sekadar transfer angka. Ia adalah transfer empati.

Dan yang paling dalam, mungkin karena kita belum benar-benar sadar bahwa hidup ini sementara.

Orang yang sadar kematian biasanya lebih ringan memberi. Karena dia tahu, yang dibawa mati bukan saldo, tapi amal.

Coba bayangkan. Jika malam ini adalah malam terakhir kita. Apakah kita masih ingin menunda zakat? Atau justru kita akan berkata, “Andai saja dulu saya lebih ringan berbagi…”

Harta yang tidak dizakati itu seperti air yang tidak mengalir. Lama-lama keruh. Bahkan bisa jadi musibah.

Banyak orang hartanya banyak, tapi hidupnya gelisah. Mungkin bukan kurang uangnya. Mungkin kurang bersih hartanya.

Zakat itu bukan untuk membuat orang miskin jadi kaya. Tapi untuk membuat orang kaya jadi selamat.

Karena harta yang tidak dibersihkan bisa menjadi beban di akhirat. Bayangkan ketika ditanya, “Dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan?”

Saat itu, tidak ada lagi cicilan. Tidak ada lagi alasan. Tidak ada lagi tempo. Semua lunas.

Maka sebenarnya yang berat itu bukan zakatnya. Yang berat itu ego kita. Yang berat itu rasa memiliki yang berlebihan. Yang berat itu hati yang belum sepenuhnya percaya pada janji Allah.

Coba sekali-kali kita ubah cara pandang. Jangan merasa kita sedang mengeluarkan uang. Rasakan bahwa kita sedang membeli ketenangan. Sedang membeli keberkahan. Sedang membeli keselamatan.

Dan percayalah, orang yang rutin menunaikan zakat biasanya lebih tenang menghadapi hidup. Karena ia tahu ada bagian hartanya yang sudah “diamankan” untuk akhirat.

Jadi kalau masih terasa berat, mungkin bukan karena 2,5 persennya terlalu besar. Tapi karena keyakinan kita yang masih terlalu kecil.

Semoga kita bukan termasuk orang yang rajin menghitung saldo, tapi lupa menghitung amal.

Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukan harta yang kita kumpulkan. Tapi harta yang kita keluarkan di jalan Allah.

Dan zakat… hanyalah 2,5 persen. Tapi dampaknya bisa 100 persen untuk keselamatan kita. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum)

23/02/2026 | Kontributor: HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi

Mari kita jujur ??sebentar. Kalau soal ngopi, kita jarang lupa. Pagi ada kopi, sore ada kopi, malam kadang masih kopi. Bahkan ada yang hafal nama barista, tapi lupa nama mustahik di sekitar rumah. Bukan karena tidak peduli— katanya—tapi karena tidak kepikiran.

Lucu ya. Yang rutin itu bukan berbagi, tapi ngopi.

Padahal harga segelas kopi hari ini kadang setara dengan makan sehari orang lain. Tapi kita belinya sambil tersenyum. Tidak pakai mikir. Tidak pakai istikharah. Sementara ketika kotak infak lewat, tangan tiba-tiba kaku, mata melirik ke kiri-kanan, dompet terasa berat seperti berisi batu.

Masalahnya bukan kopi. Islam tidak anti kopi. Yang jadi soal adalah prioritas hati. Kita sangat cepat memenuhi keinginan, tapi sangat lambat menunaikan kewajiban sosial.

Allah mengingatkan dengan cara yang sangat halus namun menohok:

“Kamu tidak akan memperoleh pencerahan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”

(QS. Ali 'Imran: 92)

Ayat ini mengingatkan kita. Bukan harta yang tidak kita suka. Bukan yang sisa. Tapi yang kita cintai.

Dan di zaman sekarang, salah satu yang kita sukai… ya kopi, nongkrong, jajan, gaya hidup. Tidak salah. Tapi ketika semua itu selalu didahulukan, sementara berbagi selalu di belakang, jangan heran kalau iman kita mandek di kepala, tidak turun ke tangan.

Kita sering merasa sudah baik karena tidak mengambil hak orang. Padahal dalam Islam, tidak mengambil hak orang saja belum cukup. Ada hak orang lain di harta kita yang wajib dikeluarkan. Zakat, infak, sedekah—itu bukan bonus pahala, tapi standar kepantasan iman.

Ironisnya, banyak orang lebih takut kopi tidak kebeli daripada takut doa orang miskin terlewatkan. Lebih takut ketinggalan nongkrong daripada ketinggalan pahala. Lebih cemas jika saldo menipis daripada jika hati berlebihan.

Ngopi itu menyenangkan. Berbagi itu menenangkan.

Sayangnya, kita sering memilih yang menyenangkan dulu, lupa yang tenang.

Sedekah tidak pernah meminta kita berhenti ngopi. Tapi sedekah ingin kita jujur: apakah kopi lebih kita cintai daripada sesama? Apakah gengsi lebih kita jaga daripada empati?

Ada orang yang rajin ke masjid, duduk di saf depan, tapi tetangganya kesulitan makan. Ada yang fasih bicara ukhuwah, tapi saat diminta berbagi, alasan banyak. Ini bukan soal jahat atau baik. Ini soal iman yang belum selesai.

Ayat tadi menegaskan: kebaikan itu ada padanya. Dan itu tidak lain adalah melepaskan sesuatu yang kita suka. Kebaikan itu kalau memberi selalu terasa muda. 

Kalau memberi masih sedikit terasa berat, disitulah masalahnya. 

Kadang kita merasa sudah banyak bersedekah. Tapi coba bandingkan: berapa yang keluar untuk gaya hidup, dan berapa yang keluar untuk berbagi? Kalau grafiknya timpang, mungkin masalahnya bukan rezeki, tapi sensitif.

Islam ingin umatnya seimbang. Dunia jalan, akhirat juga jalan. Ngopi boleh, tapi jangan sampai hak orang lain ikut terminum. Nongkrong silakan, tapi jangan sampai empati ikut pulang lebih dulu.

Berbagi itu bukan soal kaya atau miskin. Ia soal siapa yang menguasai keputusan kita. Hawa nafsu atau iman. Keinginan atau kepedulian.

Kalau hari ini kita bisa menghabiskan uang tanpa mikir untuk hal yang kita suka, seharusnya kita juga bisa sedikit berpikir untuk hal yang Allah suka.

Karena pada akhirnya, segelas kopi habis dalam satu jam.

Tapi sedekah, meski kecil, rasanya bisa menemani kita sampai akhir hayat.

Maka tidak ada yang salah dengan ngopi.

Yang perlu ditanya: apakah setelah ngopi, kita masih ingat berbagi?

Kalau rajin ngopi tapi lupa berbagi, mungkin yang perlu dikurangi bukan kopinya—

tapi ego kita. Hehehe. Wallahu A'lam. (Kultum--Kuliah Terserah Antum)

22/02/2026 | Kontributor: HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (3). Sedekah itu Investasi, Bukan Sisa Uang Jajan

Ada kebiasaan kecil yang sering kita anggap wajar: sedekah dari sisa.

Kalau uang jajan masih ada, kita berbagi. Kalau tidak ada sisa, kita bilang, “Niatnya ada.” Padahal niat tanpa aksi itu cuma rencana yang tidak jadi-jadi.

Sedekah sering diposisikan sebagai pengeluaran paling belakang. Setelah makan, setelah ngopi, setelah cicilan, setelah keinginan. Kalau masih ada receh, baru ingat kotak amal. Kalau tidak, kita hibur diri dengan kalimat sakti: “Allah Maha Tahu.”

Padahal, sedekah dalam Islam itu bukan urusan recehan. Ia urusan prioritas iman. Bukan soal berapa yang diberikan, tapi kapan dan dari mana ia dikeluarkan.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)

Hadits ini singkat, tapi bikin banyak orang tidak tenang.

Karena logika kita berkata sebaliknya. Memberi ya berkurang. Itu hitungan matematika. Tapi hadits ini mengajak kita naik kelas: berhenti menghitung dengan kalkulator, mulai percaya pada Allah.

Masalahnya, banyak dari kita masih pakai logika kasir saat beribadah. Semua dihitung, ditimbang, dipikirkan untung-ruginya. Kalau terasa rugi, ditunda. Kalau terasa aman, baru jalan. Padahal iman tidak pernah tumbuh dari rasa aman, tapi dari keberanian percaya.

Sedekah itu bukan sisa uang jajan. Ia adalah investasi jangka panjang. Bedanya dengan investasi dunia, hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Tapi justru di situlah ujiannya. Kita diminta percaya sebelum melihat, memberi sebelum merasa cukup.

Untuk urusan dunia, kita berani ambil risiko. Modal usaha dikeluarkan, saham dibeli, cicilan disetujui. Tapi untuk sedekah, kita ingin serba pasti. Padahal yang menjamin keuntungan dunia belum tentu Allah, tapi yang menjamin pahala sedekah itu Allah sendiri.

Ada orang rajin bersedekah tapi hidupnya sederhana. Ada juga yang jarang bersedekah tapi hidupnya tampak mewah. Lalu orang bertanya, “Katanya sedekah bikin kaya?” Pertanyaannya keliru. Sedekah itu membuat cukup, bukan selalu membuat berlebih.

Orang yang cukup itu tenang. Orang yang tenang itu bahagia. Dan itu kekayaan yang tidak bisa dibeli.

Sedekah mengajarkan kita satu hal penting: melepaskan sebelum dipaksa. Karena kalau tidak dilepas dengan ikhlas, bisa jadi nanti dilepas lewat jalan yang tidak kita suka. Sakit, musibah, kehilangan—semuanya bisa menjadi cara Allah mengambil harta yang tidak kita titipkan di jalan-Nya.

Banyak orang menunda sedekah karena takut masa depan. Padahal, sedekah justru cara paling aman mengirim harta ke masa depan. Kita tidak tahu apa yang menunggu kita nanti, tapi kita tahu satu hal: apa yang kita titipkan di sisi Allah tidak akan pernah hilang.

Rasulullah SAW tidak pernah menunggu kaya untuk bersedekah. Para sahabat pun tidak menunggu mapan untuk berbagi. Yang ada justru sebaliknya: mereka berbagi, lalu Allah mencukupkan.

Sedekah tidak meminta kita memberi sampai kosong. Ia hanya meminta kita jujur: mana kebutuhan, mana keinginan. Karena seringkali yang kita jaga mati-matian itu bukan kebutuhan, tapi gengsi.

Kalau sedekah selalu menunggu sisa, biasanya yang tersisa bukan uang, tapi alasan. Dan alasan tidak pernah mengenyangkan siapa pun.

Sedekah itu latihan iman. Semakin sering dilakukan, semakin kuat rasa percaya. Semakin jarang, semakin dominan rasa takut. Maka jangan tunggu sisa. Sisihkan di awal. Kecil tidak apa-apa. Yang penting sadar.

Karena di hadapan Allah, sedekah bukan dinilai dari besar kecilnya nominal, tapi dari keberanian melawan cinta dunia.

Sedekah bukan soal kaya atau miskin.

Ia soal: siapa yang menguasai hati kita—harta, atau Allah.

Dan pada akhirnya, kita semua akan sadar: uang jajan habis hari ini, sedekah hidup selamanya.

Wallahu A'lam. (KULTUM-Kuliah Terserah Antum)

21/02/2026 | Kontributor: HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan bersama Baznas (2). Dompet Tipis Tak Apa, Asal Hati Tidak Pelit

Ada satu penyakit yang tidak bisa dideteksi lewat cek darah, tapi dampaknya luar biasa: pelit. Uniknya, penyakit ini tidak kenal kelas sosial. Orang miskin bisa pelit, orang kaya apalagi. Bahkan kadang, semakin tebal dompet, semakin tipis hati.

Padahal Islam tidak pernah memerintahkan kita punya dompet tebal. Yang diwajibkan justru punya hati yang lapang. Soal isi dompet, itu bonus. Soal isi hati, itu urusan iman.

Banyak orang merasa belum pantas bersedekah karena dompetnya “masih tipis”. Padahal, dompet tipis itu biasa. Yang tidak biasa—dan berbahaya—adalah hati yang pelit. Dompet bisa kosong hari ini, terisi besok. Tapi hati pelit, kalau dibiarkan, bisa mengeras seumur hidup.

Kita sering terjebak pada kalimat klasik: “Nanti kalau sudah kaya.”

Masalahnya, orang yang menunggu kaya untuk berbagi, biasanya tidak akan pernah merasa kaya. Karena pelit bukan soal jumlah harta, tapi soal cara pandang.

Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Allah tidak bertanya: “Seberapa tebal dompetmu?”

Yang ditanya adalah: “Mau ditanam atau tidak?”

Sedekah itu bukan soal kaya atau miskin. Ia soal percaya atau tidak percaya. Percaya bahwa memberi tidak membuat miskin. Percaya bahwa rezeki tidak berhenti di tangan kita. Percaya bahwa Allah tidak pernah salah hitung.

Banyak orang lebih percaya promo diskon daripada janji Allah. Diskon 50 persen dikejar. Tapi janji dilipatgandakan sampai 700 kali? Masih ragu. Katanya beriman, tapi urusan dompet tetap minta bukti dulu.

Islam tidak menyuruh kita memberi sampai bangkrut. Tapi Islam juga tidak mendidik kita hidup dengan mental penimbun. Karena harta yang ditahan terlalu lama akan berubah fungsi: dari alat ibadah menjadi sumber kecemasan.

Orang yang pelit itu sebenarnya hidup capek. Takut berkurang. Takut habis. Takut tidak cukup. Padahal, yang bikin cukup bukan jumlah, tapi rasa syukur. Ada orang dompetnya tipis, tapi hidupnya tenang.

Ada juga yang dompetnya tebal, tapi tidur tidak nyenyak. Bedanya? Yang satu ringan tangan, yang satu berat hati.

Sedekah itu seperti olahraga hati. Sedikit tapi rutin, bikin iman sehat. Tidak perlu nunggu besar. Yang penting konsisten. Karena di hadapan Allah, nilai sedekah bukan di nominal, tapi di keikhlasan dan keberanian melawan pelit.

Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang keluar, sampai lupa menghitung apa yang masuk. Nafas masih gratis. Kesehatan masih diberi. Kesempatan hidup masih dipanjangkan. Tapi giliran diminta berbagi, kita mendadak merasa paling kekurangan.

Padahal, hati yang tidak pelit itu sumber kebahagiaan. Orang yang mudah memberi biasanya lebih mudah tersenyum. Lebih jarang iri. Lebih cepat bersyukur. Karena sedekah itu bukan hanya mengalirkan harta, tapi membersihkan hati dari rasa takut kehilangan.

Islam ingin umatnya kuat, bukan hanya kaya. Dan kekuatan itu lahir dari solidaritas, bukan dari saldo semata. Zakat, infak, dan sedekah adalah cara Islam memastikan: yang kuat tidak meninggalkan yang lemah, dan yang punya tidak memalingkan wajah dari yang membutuhkan.

Kalau hari ini dompet kita tipis, itu bukan aib. Tapi kalau hari ini hati kita pelit, itu alarm iman. Karena dompet tipis masih bisa diisi. Tapi hati yang pelit, kalau tidak dilatih berbagi, bisa mati rasa.

Sedekah tidak menunggu kaya. Justru seringkali, sedekahlah yang mengantar seseorang pada rasa cukup. Maka jangan tunggu dompet tebal untuk berbagi. Cukup pastikan satu hal: hati kita masih hidup, masih lembut, dan masih mau memberi. Karena di hadapan Allah, yang paling mahal bukan isi dompet kita, melainkan isi hati kita. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum)

20/02/2026 | Kontributor: HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (1). Awal Ramadhan, Akhirnya Kita Berbeda Lagi

Setiap tahun, menjelang Ramadhan, ada satu pertanyaan sakral yang lebih viral dari promo sirup dan diskon kurma: “Mulai kapan puasanya?”

Sebagian sudah tarawih tadi malam . Sebagian lagi masih santai sambil berkata, “Tunggu pengumuman resmi.” Ada yang sudah pasang status “Marhaban ya Ramadhan,” ada yang masih update, “Besok masih makan siang, ya.”

Begitulah kita. Umat yang besar. Saking besarnya, masuk bulan yang sama saja kadang beda pintu.

Padahal Ramadhan itu satu. Bulannya satu. Qur’annya satu. Tuhannya satu. Tapi cara masuknya… bisa dua bahkan tiga.

Lucunya, yang belum tentu shalat Subuh berjamaah, tiba-tiba jadi pakar rukyat dan hisab. Yang biasanya tidak pernah ke masjid kecuali Idul Fitri, mendadak ahli astronomi dadakan. Timeline penuh analisis hilal. Seakan-akan NASA saja perlu konfirmasi ke grup WhatsApp keluarga.

Di sinilah kadang kita lupa: Ramadhan bukan lomba siapa paling cepat masuk. Juga bukan kompetisi siapa paling benar memulai.

Ramadhan itu bukan soal tanggal. Ramadhan itu soal hati. Kalau hati kita belum siap, mau mulai hari ini atau besok, tetap saja kosong.

Kalau hati kita masih penuh dendam, beda sehari pun tidak akan membuatnya bersih. Kalau hati kita masih pelit, beda metode tidak akan membuatnya dermawan.

Kita ini kadang lucu. Untuk beda awal Ramadhan saja bisa panas. Tapi untuk beda pendapat dalam rumah tangga, kita diam saja sambil simpan bom waktu.

Padahal yang lebih berbahaya bukan beda mulai puasanya. Yang lebih berbahaya adalah sama-sama masuk Ramadhan, tapi tidak ada yang benar-benar masuk ke dalam jiwa.

Ada yang mulai hari ini, tapi niatnya masih setengah. Ada yang mulai besok, tapi hatinya masih dengki.

Allah tidak pernah bertanya, “Kamu mulai tanggal berapa?” Yang ditanya nanti: “Apa yang kamu lakukan selama Ramadhan?”

Kalau kita jujur, problem kita bukan beda awal. Problem kita adalah beda niat. Sebagian masuk Ramadhan dengan niat kurus. Sebagian lagi niat balas dendam makan saat buka. Sebagian niat konten.

Sebagian niat pamer ibadah. Jarang sekali yang masuk dengan niat: “Ya Allah, ini mungkin Ramadhan terakhirku.”

Setiap tahun kita ribut soal hilal. Tapi jarang merenung: umur kita ini sudah di ujung mana? Jangan-jangan ini Ramadhan terakhir, tapi kita malah sibuk debat awalannya. Bayangkan nanti di kubur, malaikat tidak akan bertanya, “Kamu ikut yang mana?”

Yang ditanya: “Puasa kamu bagaimana? Shalat kamu bagaimana? Zakat kamu bagaimana?” Beda awal tidak pernah membatalkan pahala. Tapi hati yang sombong bisa menghapusnya.

Yang mulai duluan jangan merasa lebih suci. Yang mulai belakangan jangan merasa paling benar. Karena Ramadhan bukan tentang siapa paling cepat. Ramadhan tentang siapa paling taat. Kalau kita mau jujur lagi, beda awal Ramadhan itu cuma satu hari. Tapi beda akhlak bisa seumur hidup.

Lucu ya… Untuk beda satu hari kita bisa panjang diskusi. Untuk beda akhlak kita sering tidak peduli. Ada yang puasanya duluan, tapi lisannya tetap tajam. Ada yang puasanya belakangan, tapi hatinya sok suci. Kira-kira Allah lebih melihat yang mana?

Ramadhan itu sekolah. Dan sekolah tidak pernah bertanya, “Kamu masuk lewat gerbang mana?” Yang ditanya adalah, “Nilaimu berapa?”

Nilai sabar. Nilai ikhlas. Nilai sedekah. Nilai menahan marah. Kalau beda awal membuat kita saling mencela, berarti kita belum paham tujuan puasa. Puasa itu latihan menahan diri. Termasuk menahan diri untuk tidak merasa paling benar.

Saya membayangkan Allah tersenyum melihat hamba-hamba-Nya. Ada yang sudah sahur. Ada yang masih tidur nyenyak. Tapi Allah tahu siapa yang benar-benar rindu.

Karena yang paling penting bukan tanggal di kalender. Tapi getar di dada. Mau mulai hari ini atau besok, pertanyaannya cuma satu: Apakah kita benar-benar ingin berubah? Atau Ramadhan hanya jadi ritual tahunan? Datang, ramai, lalu pergi tanpa bekas.

Jangan sampai kita ini seperti orang yang ribut memilih pintu masuk masjid, tapi setelah masuk malah tidur. Ramadhan itu bukan soal masuknya. Tapi apa yang kita lakukan setelah masuk. Kalau kita berbeda memulainya, jangan berbeda dalam persaudaraan. Kalau kita berbeda metodenya, jangan berbeda dalam doanya.

Karena di malam pertama itu, di antara takbir dan doa, semua hati sebenarnya sama: berharap ampunan. Dan mungkin, justru perbedaan ini mengajarkan satu hal penting:

Bahwa persatuan itu bukan berarti seragam. Persatuan itu tetap saling menghormati walau tidak sama. Akhirnya, mari kita jujur pada diri sendiri.

Beda awal Ramadhan itu biasa. Yang luar biasa adalah kalau kita bisa keluar dari Ramadhan dalam keadaan berbeda—lebih baik, lebih lembut, lebih dermawan, lebih dekat kepada Allah.

Kalau setelah sebulan kita masih sama saja… Nah itu baru masalah besar. Jadi, mau mulai hari ini atau besok, pastikan kita mulai dengan hati yang bersih. Karena bisa jadi… Ini Ramadhan terakhir kita.

Dan alangkah ruginya kalau Ramadhan terakhir kita dihabiskan untuk debat tanggal, bukan memperbaiki akhlak. Selamat memasuki Ramadhan—kapan pun kita memulainya. Yang penting, jangan hanya berbeda di awal. Berbedalah dalam kualitas takwa. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum--Graha Anisa Permai, 30 Sya’ban / 1 Ramadhan 1447 H)

19/02/2026 | Kontributor: HM.Ashar Tamanggong

Artikel Terbaru

Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?
Zakat itu cuma 2,5 persen. Bukan 25 persen. Bukan juga 52 persen. Cuma dua koma lima. Tapi anehnya, beratnya bisa sampai 25 ton di hati. Kalau diskon 2,5 persen, kita bilang, “Ah kecil sekali.” Kalau kena potongan 2,5 persen untuk zakat, kita bilang, “Wah lumayan juga ya…” Lucu ya? Padahal yang mewajibkan zakat itu bukan RT, bukan negara, bukan juga panitia masjid. Yang mewajibkan adalah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, perintah zakat sering sekali digandengkan dengan shalat. Coba buka Al-Qur'an, kita akan temukan ayat seperti: “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat…” Shalat dan zakat itu saudara kembar. Tapi anehnya, kita sering memisahkan keduanya. Shalat kita jaga, zakat kita tunda. Shalat tepat waktu, zakat tepat alasan. Kenapa berat? Pertama, karena kita merasa harta itu hasil kerja keras kita sendiri. Kita bilang, “Ini kan hasil keringat saya.” Padahal keringat pun Allah yang beri. Nafas Allah yang kasih. Kesempatan Allah yang buka. Rezeki Allah yang atur. Kita lupa bahwa dalam harta kita ada hak orang lain. Bukan sedekah. Bukan bonus. Tapi hak. Zakat bukan memberi, tapi mengembalikan. Kalau ada orang mengambil hak kita 2,5 persen saja, kita bisa marah tujuh turunan. Tapi ketika kita menahan hak orang lain 2,5 persen, hati kita tenang-tenang saja. Berarti ada yang salah dengan rasa. Kedua, karena kita takut miskin. Padahal Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa setan menakut-nakuti dengan kemiskinan, sementara Allah menjanjikan ampunan dan karunia. Tapi kita lebih percaya pada bisikan setan daripada janji Tuhan. Logika kita sering terbalik. Belanja gadget baru: berani. Upgrade mobil: yakin. Zakat: mikir dulu. Padahal mobil bisa turun harga. Gadget bisa usang. Tapi zakat? Itu investasi akhirat yang tidak pernah rugi. Ketiga, karena cinta dunia terlalu lengket. Harta itu seperti permen karet. Kalau cuma dipegang, tidak masalah. Tapi kalau ditempel di hati, susah dilepas. Masalahnya bukan pada uangnya. Masalahnya pada hati yang terlalu sayang. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” Hadits ini diriwayatkan oleh Sahih Muslim. Tapi kita tetap merasa berkurang. Kenapa? Karena kita menghitung dengan kalkulator dunia, bukan dengan kalkulator iman. Padahal zakat itu bukan mengurangi, tapi membersihkan. Kata “zakat” sendiri artinya suci dan tumbuh. Jadi setiap kali kita membayar zakat, seharusnya kita sedang menyucikan harta dan menumbuhkan keberkahan. Tapi sering kali kita memperlakukan zakat seperti denda. Bayar karena takut. Bayar karena malu. Bayar karena ditagih. Bukan karena cinta. Bukan karena syukur. Bukan karena sadar. Keempat, karena kita jarang melihat dampaknya. Kita tidak melihat langsung siapa yang terbantu. Kita tidak tahu wajah anak yatim yang tersenyum. Kita tidak mendengar doa ibu yang terbebas dari hutang. Maka hati kita tidak tersentuh. Padahal kalau kita mau menyalurkan melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional, pengelolaannya profesional, programnya jelas, dan manfaatnya nyata. Tinggal kita mau atau tidak membuka hati. Zakat bukan sekadar transfer angka. Ia adalah transfer empati. Dan yang paling dalam, mungkin karena kita belum benar-benar sadar bahwa hidup ini sementara. Orang yang sadar kematian biasanya lebih ringan memberi. Karena dia tahu, yang dibawa mati bukan saldo, tapi amal. Coba bayangkan. Jika malam ini adalah malam terakhir kita. Apakah kita masih ingin menunda zakat? Atau justru kita akan berkata, “Andai saja dulu saya lebih ringan berbagi…” Harta yang tidak dizakati itu seperti air yang tidak mengalir. Lama-lama keruh. Bahkan bisa jadi musibah. Banyak orang hartanya banyak, tapi hidupnya gelisah. Mungkin bukan kurang uangnya. Mungkin kurang bersih hartanya. Zakat itu bukan untuk membuat orang miskin jadi kaya. Tapi untuk membuat orang kaya jadi selamat. Karena harta yang tidak dibersihkan bisa menjadi beban di akhirat. Bayangkan ketika ditanya, “Dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan?” Saat itu, tidak ada lagi cicilan. Tidak ada lagi alasan. Tidak ada lagi tempo. Semua lunas. Maka sebenarnya yang berat itu bukan zakatnya. Yang berat itu ego kita. Yang berat itu rasa memiliki yang berlebihan. Yang berat itu hati yang belum sepenuhnya percaya pada janji Allah. Coba sekali-kali kita ubah cara pandang. Jangan merasa kita sedang mengeluarkan uang. Rasakan bahwa kita sedang membeli ketenangan. Sedang membeli keberkahan. Sedang membeli keselamatan. Dan percayalah, orang yang rutin menunaikan zakat biasanya lebih tenang menghadapi hidup. Karena ia tahu ada bagian hartanya yang sudah “diamankan” untuk akhirat. Jadi kalau masih terasa berat, mungkin bukan karena 2,5 persennya terlalu besar. Tapi karena keyakinan kita yang masih terlalu kecil. Semoga kita bukan termasuk orang yang rajin menghitung saldo, tapi lupa menghitung amal. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukan harta yang kita kumpulkan. Tapi harta yang kita keluarkan di jalan Allah. Dan zakat… hanyalah 2,5 persen. Tapi dampaknya bisa 100 persen untuk keselamatan kita. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum)
ARTIKEL23/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi
Mari kita jujur ??sebentar. Kalau soal ngopi, kita jarang lupa. Pagi ada kopi, sore ada kopi, malam kadang masih kopi. Bahkan ada yang hafal nama barista, tapi lupa nama mustahik di sekitar rumah. Bukan karena tidak peduli— katanya—tapi karena tidak kepikiran. Lucu ya. Yang rutin itu bukan berbagi, tapi ngopi. Padahal harga segelas kopi hari ini kadang setara dengan makan sehari orang lain. Tapi kita belinya sambil tersenyum. Tidak pakai mikir. Tidak pakai istikharah. Sementara ketika kotak infak lewat, tangan tiba-tiba kaku, mata melirik ke kiri-kanan, dompet terasa berat seperti berisi batu. Masalahnya bukan kopi. Islam tidak anti kopi. Yang jadi soal adalah prioritas hati. Kita sangat cepat memenuhi keinginan, tapi sangat lambat menunaikan kewajiban sosial. Allah mengingatkan dengan cara yang sangat halus namun menohok: “Kamu tidak akan memperoleh pencerahan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali 'Imran: 92) Ayat ini mengingatkan kita. Bukan harta yang tidak kita suka. Bukan yang sisa. Tapi yang kita cintai. Dan di zaman sekarang, salah satu yang kita sukai… ya kopi, nongkrong, jajan, gaya hidup. Tidak salah. Tapi ketika semua itu selalu didahulukan, sementara berbagi selalu di belakang, jangan heran kalau iman kita mandek di kepala, tidak turun ke tangan. Kita sering merasa sudah baik karena tidak mengambil hak orang. Padahal dalam Islam, tidak mengambil hak orang saja belum cukup. Ada hak orang lain di harta kita yang wajib dikeluarkan. Zakat, infak, sedekah—itu bukan bonus pahala, tapi standar kepantasan iman. Ironisnya, banyak orang lebih takut kopi tidak kebeli daripada takut doa orang miskin terlewatkan. Lebih takut ketinggalan nongkrong daripada ketinggalan pahala. Lebih cemas jika saldo menipis daripada jika hati berlebihan. Ngopi itu menyenangkan. Berbagi itu menenangkan. Sayangnya, kita sering memilih yang menyenangkan dulu, lupa yang tenang. Sedekah tidak pernah meminta kita berhenti ngopi. Tapi sedekah ingin kita jujur: apakah kopi lebih kita cintai daripada sesama? Apakah gengsi lebih kita jaga daripada empati? Ada orang yang rajin ke masjid, duduk di saf depan, tapi tetangganya kesulitan makan. Ada yang fasih bicara ukhuwah, tapi saat diminta berbagi, alasan banyak. Ini bukan soal jahat atau baik. Ini soal iman yang belum selesai. Ayat tadi menegaskan: kebaikan itu ada padanya. Dan itu tidak lain adalah melepaskan sesuatu yang kita suka. Kebaikan itu kalau memberi selalu terasa muda. Kalau memberi masih sedikit terasa berat, disitulah masalahnya. Kadang kita merasa sudah banyak bersedekah. Tapi coba bandingkan: berapa yang keluar untuk gaya hidup, dan berapa yang keluar untuk berbagi? Kalau grafiknya timpang, mungkin masalahnya bukan rezeki, tapi sensitif. Islam ingin umatnya seimbang. Dunia jalan, akhirat juga jalan. Ngopi boleh, tapi jangan sampai hak orang lain ikut terminum. Nongkrong silakan, tapi jangan sampai empati ikut pulang lebih dulu. Berbagi itu bukan soal kaya atau miskin. Ia soal siapa yang menguasai keputusan kita. Hawa nafsu atau iman. Keinginan atau kepedulian. Kalau hari ini kita bisa menghabiskan uang tanpa mikir untuk hal yang kita suka, seharusnya kita juga bisa sedikit berpikir untuk hal yang Allah suka. Karena pada akhirnya, segelas kopi habis dalam satu jam. Tapi sedekah, meski kecil, rasanya bisa menemani kita sampai akhir hayat. Maka tidak ada yang salah dengan ngopi. Yang perlu ditanya: apakah setelah ngopi, kita masih ingat berbagi? Kalau rajin ngopi tapi lupa berbagi, mungkin yang perlu dikurangi bukan kopinya— tapi ego kita. Hehehe. Wallahu A'lam. (Kultum--Kuliah Terserah Antum)
ARTIKEL22/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (3). Sedekah itu Investasi, Bukan Sisa Uang Jajan
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (3). Sedekah itu Investasi, Bukan Sisa Uang Jajan
Ada kebiasaan kecil yang sering kita anggap wajar: sedekah dari sisa. Kalau uang jajan masih ada, kita berbagi. Kalau tidak ada sisa, kita bilang, “Niatnya ada.” Padahal niat tanpa aksi itu cuma rencana yang tidak jadi-jadi. Sedekah sering diposisikan sebagai pengeluaran paling belakang. Setelah makan, setelah ngopi, setelah cicilan, setelah keinginan. Kalau masih ada receh, baru ingat kotak amal. Kalau tidak, kita hibur diri dengan kalimat sakti: “Allah Maha Tahu.” Padahal, sedekah dalam Islam itu bukan urusan recehan. Ia urusan prioritas iman. Bukan soal berapa yang diberikan, tapi kapan dan dari mana ia dikeluarkan. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim) Hadits ini singkat, tapi bikin banyak orang tidak tenang. Karena logika kita berkata sebaliknya. Memberi ya berkurang. Itu hitungan matematika. Tapi hadits ini mengajak kita naik kelas: berhenti menghitung dengan kalkulator, mulai percaya pada Allah. Masalahnya, banyak dari kita masih pakai logika kasir saat beribadah. Semua dihitung, ditimbang, dipikirkan untung-ruginya. Kalau terasa rugi, ditunda. Kalau terasa aman, baru jalan. Padahal iman tidak pernah tumbuh dari rasa aman, tapi dari keberanian percaya. Sedekah itu bukan sisa uang jajan. Ia adalah investasi jangka panjang. Bedanya dengan investasi dunia, hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Tapi justru di situlah ujiannya. Kita diminta percaya sebelum melihat, memberi sebelum merasa cukup. Untuk urusan dunia, kita berani ambil risiko. Modal usaha dikeluarkan, saham dibeli, cicilan disetujui. Tapi untuk sedekah, kita ingin serba pasti. Padahal yang menjamin keuntungan dunia belum tentu Allah, tapi yang menjamin pahala sedekah itu Allah sendiri. Ada orang rajin bersedekah tapi hidupnya sederhana. Ada juga yang jarang bersedekah tapi hidupnya tampak mewah. Lalu orang bertanya, “Katanya sedekah bikin kaya?” Pertanyaannya keliru. Sedekah itu membuat cukup, bukan selalu membuat berlebih. Orang yang cukup itu tenang. Orang yang tenang itu bahagia. Dan itu kekayaan yang tidak bisa dibeli. Sedekah mengajarkan kita satu hal penting: melepaskan sebelum dipaksa. Karena kalau tidak dilepas dengan ikhlas, bisa jadi nanti dilepas lewat jalan yang tidak kita suka. Sakit, musibah, kehilangan—semuanya bisa menjadi cara Allah mengambil harta yang tidak kita titipkan di jalan-Nya. Banyak orang menunda sedekah karena takut masa depan. Padahal, sedekah justru cara paling aman mengirim harta ke masa depan. Kita tidak tahu apa yang menunggu kita nanti, tapi kita tahu satu hal: apa yang kita titipkan di sisi Allah tidak akan pernah hilang. Rasulullah SAW tidak pernah menunggu kaya untuk bersedekah. Para sahabat pun tidak menunggu mapan untuk berbagi. Yang ada justru sebaliknya: mereka berbagi, lalu Allah mencukupkan. Sedekah tidak meminta kita memberi sampai kosong. Ia hanya meminta kita jujur: mana kebutuhan, mana keinginan. Karena seringkali yang kita jaga mati-matian itu bukan kebutuhan, tapi gengsi. Kalau sedekah selalu menunggu sisa, biasanya yang tersisa bukan uang, tapi alasan. Dan alasan tidak pernah mengenyangkan siapa pun. Sedekah itu latihan iman. Semakin sering dilakukan, semakin kuat rasa percaya. Semakin jarang, semakin dominan rasa takut. Maka jangan tunggu sisa. Sisihkan di awal. Kecil tidak apa-apa. Yang penting sadar. Karena di hadapan Allah, sedekah bukan dinilai dari besar kecilnya nominal, tapi dari keberanian melawan cinta dunia. Sedekah bukan soal kaya atau miskin. Ia soal: siapa yang menguasai hati kita—harta, atau Allah. Dan pada akhirnya, kita semua akan sadar: uang jajan habis hari ini, sedekah hidup selamanya. Wallahu A'lam. (KULTUM-Kuliah Terserah Antum)
ARTIKEL21/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan bersama Baznas (2). Dompet Tipis Tak Apa, Asal Hati Tidak Pelit
Ramadhan bersama Baznas (2). Dompet Tipis Tak Apa, Asal Hati Tidak Pelit
Ada satu penyakit yang tidak bisa dideteksi lewat cek darah, tapi dampaknya luar biasa: pelit. Uniknya, penyakit ini tidak kenal kelas sosial. Orang miskin bisa pelit, orang kaya apalagi. Bahkan kadang, semakin tebal dompet, semakin tipis hati. Padahal Islam tidak pernah memerintahkan kita punya dompet tebal. Yang diwajibkan justru punya hati yang lapang. Soal isi dompet, itu bonus. Soal isi hati, itu urusan iman. Banyak orang merasa belum pantas bersedekah karena dompetnya “masih tipis”. Padahal, dompet tipis itu biasa. Yang tidak biasa—dan berbahaya—adalah hati yang pelit. Dompet bisa kosong hari ini, terisi besok. Tapi hati pelit, kalau dibiarkan, bisa mengeras seumur hidup. Kita sering terjebak pada kalimat klasik: “Nanti kalau sudah kaya.” Masalahnya, orang yang menunggu kaya untuk berbagi, biasanya tidak akan pernah merasa kaya. Karena pelit bukan soal jumlah harta, tapi soal cara pandang. Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261) Allah tidak bertanya: “Seberapa tebal dompetmu?” Yang ditanya adalah: “Mau ditanam atau tidak?” Sedekah itu bukan soal kaya atau miskin. Ia soal percaya atau tidak percaya. Percaya bahwa memberi tidak membuat miskin. Percaya bahwa rezeki tidak berhenti di tangan kita. Percaya bahwa Allah tidak pernah salah hitung. Banyak orang lebih percaya promo diskon daripada janji Allah. Diskon 50 persen dikejar. Tapi janji dilipatgandakan sampai 700 kali? Masih ragu. Katanya beriman, tapi urusan dompet tetap minta bukti dulu. Islam tidak menyuruh kita memberi sampai bangkrut. Tapi Islam juga tidak mendidik kita hidup dengan mental penimbun. Karena harta yang ditahan terlalu lama akan berubah fungsi: dari alat ibadah menjadi sumber kecemasan. Orang yang pelit itu sebenarnya hidup capek. Takut berkurang. Takut habis. Takut tidak cukup. Padahal, yang bikin cukup bukan jumlah, tapi rasa syukur. Ada orang dompetnya tipis, tapi hidupnya tenang. Ada juga yang dompetnya tebal, tapi tidur tidak nyenyak. Bedanya? Yang satu ringan tangan, yang satu berat hati. Sedekah itu seperti olahraga hati. Sedikit tapi rutin, bikin iman sehat. Tidak perlu nunggu besar. Yang penting konsisten. Karena di hadapan Allah, nilai sedekah bukan di nominal, tapi di keikhlasan dan keberanian melawan pelit. Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang keluar, sampai lupa menghitung apa yang masuk. Nafas masih gratis. Kesehatan masih diberi. Kesempatan hidup masih dipanjangkan. Tapi giliran diminta berbagi, kita mendadak merasa paling kekurangan. Padahal, hati yang tidak pelit itu sumber kebahagiaan. Orang yang mudah memberi biasanya lebih mudah tersenyum. Lebih jarang iri. Lebih cepat bersyukur. Karena sedekah itu bukan hanya mengalirkan harta, tapi membersihkan hati dari rasa takut kehilangan. Islam ingin umatnya kuat, bukan hanya kaya. Dan kekuatan itu lahir dari solidaritas, bukan dari saldo semata. Zakat, infak, dan sedekah adalah cara Islam memastikan: yang kuat tidak meninggalkan yang lemah, dan yang punya tidak memalingkan wajah dari yang membutuhkan. Kalau hari ini dompet kita tipis, itu bukan aib. Tapi kalau hari ini hati kita pelit, itu alarm iman. Karena dompet tipis masih bisa diisi. Tapi hati yang pelit, kalau tidak dilatih berbagi, bisa mati rasa. Sedekah tidak menunggu kaya. Justru seringkali, sedekahlah yang mengantar seseorang pada rasa cukup. Maka jangan tunggu dompet tebal untuk berbagi. Cukup pastikan satu hal: hati kita masih hidup, masih lembut, dan masih mau memberi. Karena di hadapan Allah, yang paling mahal bukan isi dompet kita, melainkan isi hati kita. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum)
ARTIKEL20/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (1). Awal Ramadhan, Akhirnya Kita Berbeda Lagi
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (1). Awal Ramadhan, Akhirnya Kita Berbeda Lagi
Setiap tahun, menjelang Ramadhan, ada satu pertanyaan sakral yang lebih viral dari promo sirup dan diskon kurma: “Mulai kapan puasanya?” Sebagian sudah tarawih tadi malam . Sebagian lagi masih santai sambil berkata, “Tunggu pengumuman resmi.” Ada yang sudah pasang status “Marhaban ya Ramadhan,” ada yang masih update, “Besok masih makan siang, ya.” Begitulah kita. Umat yang besar. Saking besarnya, masuk bulan yang sama saja kadang beda pintu. Padahal Ramadhan itu satu. Bulannya satu. Qur’annya satu. Tuhannya satu. Tapi cara masuknya… bisa dua bahkan tiga. Lucunya, yang belum tentu shalat Subuh berjamaah, tiba-tiba jadi pakar rukyat dan hisab. Yang biasanya tidak pernah ke masjid kecuali Idul Fitri, mendadak ahli astronomi dadakan. Timeline penuh analisis hilal. Seakan-akan NASA saja perlu konfirmasi ke grup WhatsApp keluarga. Di sinilah kadang kita lupa: Ramadhan bukan lomba siapa paling cepat masuk. Juga bukan kompetisi siapa paling benar memulai. Ramadhan itu bukan soal tanggal. Ramadhan itu soal hati. Kalau hati kita belum siap, mau mulai hari ini atau besok, tetap saja kosong. Kalau hati kita masih penuh dendam, beda sehari pun tidak akan membuatnya bersih. Kalau hati kita masih pelit, beda metode tidak akan membuatnya dermawan. Kita ini kadang lucu. Untuk beda awal Ramadhan saja bisa panas. Tapi untuk beda pendapat dalam rumah tangga, kita diam saja sambil simpan bom waktu. Padahal yang lebih berbahaya bukan beda mulai puasanya. Yang lebih berbahaya adalah sama-sama masuk Ramadhan, tapi tidak ada yang benar-benar masuk ke dalam jiwa. Ada yang mulai hari ini, tapi niatnya masih setengah. Ada yang mulai besok, tapi hatinya masih dengki. Allah tidak pernah bertanya, “Kamu mulai tanggal berapa?” Yang ditanya nanti: “Apa yang kamu lakukan selama Ramadhan?” Kalau kita jujur, problem kita bukan beda awal. Problem kita adalah beda niat. Sebagian masuk Ramadhan dengan niat kurus. Sebagian lagi niat balas dendam makan saat buka. Sebagian niat konten. Sebagian niat pamer ibadah. Jarang sekali yang masuk dengan niat: “Ya Allah, ini mungkin Ramadhan terakhirku.” Setiap tahun kita ribut soal hilal. Tapi jarang merenung: umur kita ini sudah di ujung mana? Jangan-jangan ini Ramadhan terakhir, tapi kita malah sibuk debat awalannya. Bayangkan nanti di kubur, malaikat tidak akan bertanya, “Kamu ikut yang mana?” Yang ditanya: “Puasa kamu bagaimana? Shalat kamu bagaimana? Zakat kamu bagaimana?” Beda awal tidak pernah membatalkan pahala. Tapi hati yang sombong bisa menghapusnya. Yang mulai duluan jangan merasa lebih suci. Yang mulai belakangan jangan merasa paling benar. Karena Ramadhan bukan tentang siapa paling cepat. Ramadhan tentang siapa paling taat. Kalau kita mau jujur lagi, beda awal Ramadhan itu cuma satu hari. Tapi beda akhlak bisa seumur hidup. Lucu ya… Untuk beda satu hari kita bisa panjang diskusi. Untuk beda akhlak kita sering tidak peduli. Ada yang puasanya duluan, tapi lisannya tetap tajam. Ada yang puasanya belakangan, tapi hatinya sok suci. Kira-kira Allah lebih melihat yang mana? Ramadhan itu sekolah. Dan sekolah tidak pernah bertanya, “Kamu masuk lewat gerbang mana?” Yang ditanya adalah, “Nilaimu berapa?” Nilai sabar. Nilai ikhlas. Nilai sedekah. Nilai menahan marah. Kalau beda awal membuat kita saling mencela, berarti kita belum paham tujuan puasa. Puasa itu latihan menahan diri. Termasuk menahan diri untuk tidak merasa paling benar. Saya membayangkan Allah tersenyum melihat hamba-hamba-Nya. Ada yang sudah sahur. Ada yang masih tidur nyenyak. Tapi Allah tahu siapa yang benar-benar rindu. Karena yang paling penting bukan tanggal di kalender. Tapi getar di dada. Mau mulai hari ini atau besok, pertanyaannya cuma satu: Apakah kita benar-benar ingin berubah? Atau Ramadhan hanya jadi ritual tahunan? Datang, ramai, lalu pergi tanpa bekas. Jangan sampai kita ini seperti orang yang ribut memilih pintu masuk masjid, tapi setelah masuk malah tidur. Ramadhan itu bukan soal masuknya. Tapi apa yang kita lakukan setelah masuk. Kalau kita berbeda memulainya, jangan berbeda dalam persaudaraan. Kalau kita berbeda metodenya, jangan berbeda dalam doanya. Karena di malam pertama itu, di antara takbir dan doa, semua hati sebenarnya sama: berharap ampunan. Dan mungkin, justru perbedaan ini mengajarkan satu hal penting: Bahwa persatuan itu bukan berarti seragam. Persatuan itu tetap saling menghormati walau tidak sama. Akhirnya, mari kita jujur pada diri sendiri. Beda awal Ramadhan itu biasa. Yang luar biasa adalah kalau kita bisa keluar dari Ramadhan dalam keadaan berbeda—lebih baik, lebih lembut, lebih dermawan, lebih dekat kepada Allah. Kalau setelah sebulan kita masih sama saja… Nah itu baru masalah besar. Jadi, mau mulai hari ini atau besok, pastikan kita mulai dengan hati yang bersih. Karena bisa jadi… Ini Ramadhan terakhir kita. Dan alangkah ruginya kalau Ramadhan terakhir kita dihabiskan untuk debat tanggal, bukan memperbaiki akhlak. Selamat memasuki Ramadhan—kapan pun kita memulainya. Yang penting, jangan hanya berbeda di awal. Berbedalah dalam kualitas takwa. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum--Graha Anisa Permai, 30 Sya’ban / 1 Ramadhan 1447 H)
ARTIKEL19/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa 1. Segera Berbuka dan Akhirkan Sahur Rasulullah SAW bersabda: “Umatku selalu dalam kebaikan selama bergegas dalam berbuka puasa dan mengakhirkan sahur” (HR Ahmad No 21350 dari Abu Dzar) 2. Meninggalkan Perkataan dan Perbuatan Tercela Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan buruk dan mengamalkannya, maka tidak butuh bagi Allah orang tersebut meninggalkan makanan dan minuman” (HR Ahmad, al-Bukhari, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah dari Abu Hurairah) 3. Memberi Takjil Buka Puasa Zaid bin Khalid Al-Juhani berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa memberi buka puasa bagi orang puasa, maka iamendapatkan seperti pahala orang yang berbuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang puasa sedikitpun” (HR Tirmidz) 4. Doa Saat Berbuka Puasa Saat berbuka puasa adalah waktu mustajabah sehingga dianjurkan berdoa seperti sabda Nabi SAW:“Ada 3 orang yang tidak ditolak doanya... (salah satunya) orang berpuasa saat berbuka...” (HR Ibnu Hibban)
ARTIKEL09/02/2026 | Badal Awan
Mengenal Kafarat Dalam Islam : Macam-Macam dan Tata Cara Penebusannya
Mengenal Kafarat Dalam Islam : Macam-Macam dan Tata Cara Penebusannya
Normal 0 false false false EN-ID X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-font-kerning:1.0pt; mso-ligatures:standardcontextual; mso-fareast-language:EN-US;} Kafarat adalah denda atau tebusan wajib dalam Islam yang harus dibayar seseorang karena telah melakukan pelanggaran hukum agama atau melalaikan kewajiban tertentu. Secara bahasa, kafarat berasal dari kata kafarat yang berarti "menutupi", dengan tujuan untuk menutupi dosa agar tidak berakibat buruk di dunia maupun akhirat. 1. Kafarat Sumpah Seseorang yang melanggar sumpah (atas nama Allah) wajib membayar penebusan dengan urutan yang telah dijelaskan dalam surah al Maidah ayat 89 yaitu: 1. Memberi makan sepuluh orang miskin (makanan yang biasa dikonsumsi keluarga) 2. Atau memberi pakaian kepada mereka 3. Atau memerdekakan seorang budak 4. Jika tidak mampu, maka berpuasa selama tiga hari. Contoh perbuatan melanggar sumpah : Seseorang berkata: "Demi Allah, saya tidak akan datang ke kebun itu lagi". Namun beberapa hari kemudian karena suatu alasan lalu ia datang ke kebun itu. Maka, ia telah melanggar sumpahnya dan wajib membayar kafarat. 2. Kafarat Puasa Ramadhan Kafarat ini berlaku bagi orang yang melakukan hubungan suami istri di siang hari pada Bulan Ramadhan sebagaimana kisah sahabat yang datang mengadu kepada Nabi SAW setelah menggauli istrinya. Denda akibat melakukan perbuatan tersebut dapat ditebus dengan cara 1. Memerdekakan seorang budak 2. Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut 3. Jika tetap tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin. 3. Kafarat Melakukan Pembunuhan Tidak Sengaja Bagi orang yang membunuh orang beriman secara tidak sengaja sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 92, wajib menebus denda dengan cara: 1. Memerdekakan seorang budak yang beriman dan membayar diyat (tebusan) kepada keluarga korban. 2. Jika tidak mampu memerdekakan budak maka wajib berpuasa dua bulan berturut-turut 4. Kafarat Zihar Zihar adalah ucapan suami yang menyamakan istrinya dengan ibunya (untuk mengharamkan hubungan). Dalilnya sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S. Al Mujadilah Ayat 3-4 Berikut adalah beberapa contoh kalimat zihar: a. Kalimat Klasik / Sharih (jelas): "Kamu bagiku seperti punggung ibuku". (ini adalah kalimat yang paling umum digunakan dalam literatur fikih) b. Menyamakan dengan anggota tubuh mahram: "kamu bagiku seperti perut saudara perempuanku" atau "Bagian tubuhmu ini (yang biasanya haram dilihat pada mahram) sama seperti milik ibuku" c. Niat mengharamkan istri: "Engkau haram bagiku seperti haramnya ibuku kepadaku" Cara menebus denda zihar adalah: 1. Memerdekakan budak sebelum berhubungan kembali. 2. Jika tidak ada, berpuasa dua bulan berturut-turut. 3. Jika tidak mampu, memberikan makan kepada 60 orang miskin Kafarat Zihar wajib disegerakan sebelum suami kembali menggauli istrinya.
ARTIKEL05/02/2026 | Badal Awan
Dakwah Itu Jalan Cinta
Dakwah Itu Jalan Cinta
Dakwah adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling mulia di antara sesama hamba Allah. Ketika kita mendakwahi seseorang, kita tidak hanya menyampaikan pesan kebaikan, tetapi juga menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka. Dakwah bukan hanya tentang mengubah orang lain, tetapi juga tentang berbagi kasih dan kebaikan dengan mereka. . Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman, "Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS. Al-Anbiya: 107). Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, termasuk bagi umat manusia. Dakwah adalah salah satu bentuk rahmat yang dapat kita berikan kepada orang lain. . Ketika kita mendakwahi seseorang, kita menunjukkan bahwa kita peduli dengan kebaikan dan keselamatan mereka. Kita ingin membantu mereka menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT. Dakwah juga dapat membantu memperkuat hubungan kita dengan orang lain, karena kita berbagi nilai-nilai kebaikan dan kasih sayang. . Namun, dakwah tidak selalu mudah. Terkadang kita menghadapi tantangan dan kesulitan ketika menyampaikan pesan kebaikan kepada orang lain. Tapi, kita tidak boleh menyerah. Kita harus terus berusaha dan berdoa agar Allah SWT membimbing kita dan memberikan kita kekuatan untuk terus berdakwah. . Dalam mendakwahi, kita juga harus ingat bahwa setiap orang memiliki jalan dan cara yang berbeda-beda dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita harus menghormati perbedaan dan tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Dakwah harus dilakukan dengan cara yang bijak, sabar, dan penuh kasih sayang. . Dengan demikian, dakwah dapat menjadi jalan cinta yang membawa kita lebih dekat dengan Allah SWT dan dengan sesama hamba-Nya. Kita dapat menunjukkan kasih sayang dan kebaikan kita kepada orang lain, dan membantu mereka menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT. Dakwah adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling mulia, dan kita harus terus berusaha untuk menjadi bagian dari jalan cinta ini.
ARTIKEL23/09/2025 | Badal Awan
Mengoptimalkan Sedekah untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Mengoptimalkan Sedekah untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
. Sedekah biasanya diartikan oleh kebanyakan masyarakat adalah pemberian uang atau makanan kepada pengemis di jalan. Sejatinya definisi sedekah tidak sesempit itu sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran : Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan (kepada) Allah pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) kepada mereka dan baginya (diberikan) ganjaran yang sangat mulia (surga). [Qs Al-Hadid ayat 18]. . Maka dari pada itu kita bisa memaknai sedekah dengan lebih luas, ia bukan hanya sekedar membantu sesaat tetapi bisa menjadi solusi dalam kurangnya kesejahteraan sosial bagi masyarakat dan juga bisa menjadi bekal besar kita di akhirat kelak. Cara Mengoptimalkan Sedekah Ada beberapa cara yang bis kita lakukan untuk menyalurkan atau memberikan sedekah agar apa yang kita berikan tidak hilang atau habis dalam sekejap sehingga menjadi bantuan jangka panjang : Salurkan lewat lembaga pengelola sedekah Menyalurkan sedekah lewat lembaga yang terpercaya bisa menjadi bantuan jangka panjang bagi masyarakat. Karna biasanya lembaga pengelola sedekah memiliki program kerja yang lebih jelas, misalnya bantuan dana pendidikan, bantuan pengusaha, bantuan perjalanan bagi musafir maupun bantuan kesehatan. Dengan begitu sedekah yang kita berikan baik jumlahnya sedikit ataupun banyak akan terpakai dengan jelas dan tidak tercecer. Fokus kepada pemberdayaan Memberikan sedekah tidak terbatas sampai kepada pengemis di jalan saja tetapi kita juga bisa membantu dalam pemberdayaan terkhusus misalnya, memberikan modal kepada pengusaha-pengusaha kecil, membelikan peralatan kerja, dan pelatihan keterampilan. Sehingga mereka tidak terus bergantung terhadap bantuan tapi akan bangkit bahkan dapat membantu orang lain. Upaya jangka panjang Jika kita ingin melihat dampak jangka panjang sedekah yang kita berikan akan berkesinambungan. Bukan hanya secara instan tapi menjadi bekal dimasa depan yaitu dengan cara menyalurkan bantuan sedekah berupa bantuan pendidikan kepada anak yatim, bantuan kesehatan gratis dan pelatihan keterampilan kerja bagi pemuda pemudi. Menggunakan teknologi Kita hidup di zaman modern atau era digital, teknologi banyak berperan penting salah satunya dapat membantu kita dalam menyalurkan sedekah, banyak platform aplikasi yang menyediakan layanan sedekah secara cepat, instan dan teratur. Donatur dapat memilih jenis bantuan yang ingin diberikan misalnya bantuan kesehatan, bantuan pendidikan, bantuan bencana dan bantun mesjid. Dan laporan bantuan dapat dipantau sehingga kita lebih tenang dan percaya. . Manfaat melakukan sedekah Ketika kita melakukan sedekah banyak sekali manfaat luar biasa yang bisa kita lihat misalnya, orang yang miskin dapat buka usaha kecil-kecilan, anak-anak kurang mampu dapat melanjutkan pendidikan, banyak fasilitas umum bisa kita gunakan. Sedekah pun berubah dari yang hanya memberi bantuan menjadi manfaat bagi sosial serta menciptakan senyuman di kalangan masyarakat.
ARTIKEL23/09/2025 | Aqsa (mahasiswa UIN Alauddin Makassar)
Amalan Sebelum Tidur Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW
Amalan Sebelum Tidur Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW
Amalan sebelum tidur yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW dapat membantu kita mendapatkan tidur yang berkualitas, ketenangan jiwa, dan keberkahan hidup. Berikut beberapa amalan yang dianjurkan: . Amalan Sebelum Tidur . Membaca Doa Sebelum Tidur "Allahumma bismika ahya wa bismika amut" yang artinya "Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati" (HR. Bukhari). Doa lain yang dapat dibaca adalah "Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa" yang berarti "Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati". . Berwudhu Sebelum Tidur Berwudhu sebelum tidur dapat membersihkan tubuh dari hadas kecil dan memberikan rasa tenang. Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu hendak tidur, maka berwudhulah seperti wudhumu untuk salat" (HR. Bukhari dan Muslim). . Tidur di Sisi Kanan Tidur dengan posisi miring ke kanan dapat melancarkan pernapasan dan menjaga fungsi organ tubuh. Rasulullah SAW bersabda, "Berbaringlah pada sisi kananmu" (HR. Bukhari). . Membersihkan Tempat Tidur Membersihkan tempat tidur sebelum tidur dapat dilakukan dengan mengibaskan kain sambil mengucapkan "Bismillah". Rasulullah SAW mengajarkan untuk membersihkan tempat tidur sebelum digunakan (HR. Bukhari dan Muslim). . Membaca Surah Al-Mulk dan Ayat Kursi Membaca Surah Al-Mulk dapat melindungi dari siksa kubur, sedangkan membaca Ayat Kursi dapat memberikan perlindungan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Surah Al-Mulk adalah pelindung dari siksa kubur" (HR. Tirmidzi). . Membaca Tiga Surat Pendek Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum tidur dapat memberikan ketenangan dan perlindungan. Rasulullah SAW selalu membaca ketiga surah ini sebelum tidur (HR. Bukhari No. 5017). . Mengingat Allah dengan Zikir Berdzikir sebelum tidur dapat menenangkan hati dan memberikan ketenangan. Contoh zikir yang dapat dibaca adalah "Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar". . Mengatur Niat untuk Shalat Subuh Mengatur niat untuk bangun tepat waktu untuk melaksanakan shalat Subuh dapat membantu kita mendapatkan pahala dan keberkahan. . Memperbanyak Istighfar Memperbanyak istighfar sebelum tidur dapat membantu kita memohon ampun kepada Allah SWT dan mendapatkan ketenangan jiwa. . Dengan mengamalkan amalan-amalan ini, kita dapat mendapatkan tidur yang berkualitas, ketenangan jiwa, dan keberkahan hidup. Selain itu, kita juga dapat meningkatkan kualitas hidup kita sebagai hamba-Nya dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
ARTIKEL22/09/2025 | Badal Awan
Tips Mengelola Penghasilan Bulanan
Tips Mengelola Penghasilan Bulanan
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut untuk masing-masing item dalam tips mengelola gaji yang memuat sedekah: . 1. Tentukan Prioritas dan Anggaran Tentukan apa yang paling penting untuk Anda dan keluarga, seperti kebutuhan pokok, tagihan, dan kebutuhan sekunder. Buat rencana keuangan bulanan yang mencakup semua kebutuhan dan prioritas Anda. Pastikan untuk memasukkan sedekah sebagai bagian dari anggaran Anda. . 2. Alokasikan Dana Sedekah Sisihkan dana untuk sedekah sebagai bagian dari anggaran Anda. Anda dapat menentukan persentase tertentu dari penghasilan Anda untuk disedekahkan. Pastikan sedekah menjadi prioritas dalam anggaran Anda, sehingga Anda tidak lupa untuk menyisihkan dana untuk sedekah. . 3. Kontrol Pengeluaran Catat setiap pengeluaran Anda untuk memantau dan mengontrol keuangan. Ini akan membantu Anda mengidentifikasi area penghematan dan membuat keputusan keuangan yang lebih bijak. Evaluasi pengeluaran bulanan Anda untuk memastikan bahwa Anda tidak melebihi anggaran yang telah ditentukan. . 4. Investasi dan Tabungan Sisihkan dana untuk investasi yang menguntungkan dan sesuai dengan profil risiko Anda. Investasi dapat membantu Anda mencapai tujuan keuangan jangka panjang. Sisihkan dana untuk tabungan guna mencapai tujuan keuangan jangka pendek dan panjang. Tabungan dapat membantu Anda menghadapi kebutuhan keuangan yang tidak terduga. . 5. Sedekah sebagai Bagian dari Keuangan Sedekah bukan hanya tentang memberi uang, tapi juga tentang membantu orang lain. Anda dapat menyisihkan waktu dan sumber daya untuk membantu orang lain. Sedekah dapat membantu Anda merasa lebih bahagia dan puas, serta membantu orang lain yang membutuhkan. . 6. Manfaatkan Teknologi Gunakan aplikasi keuangan untuk memantau pengeluaran dan mengelola anggaran. Aplikasi keuangan dapat membantu Anda membuat keputusan keuangan yang lebih bijak. Manfaatkan fitur pengingat tagihan untuk membayar tagihan tepat waktu dan menghindari keterlambatan. . Dengan memahami dan menerapkan item-item di atas, Anda dapat mengelola gaji dengan bijak dan memasukkan sedekah sebagai bagian dari keuangan Anda.
ARTIKEL22/09/2025 | Badal Awan
Perhatian Rasulullah kepada umatnya
Perhatian Rasulullah kepada umatnya
Rasulullah Jadi Manusia Pertama yg Dibangkitkan dari Kubur Disebutkan dalam sebuah hadits, dari pamannya Abbas ra, bahwa Rasulullah bersabda: " Orang yg pertama kali dibangkitkan dari kubur di hari kiamat nanti adalah Muhammad. Saat itu, malaikat Jibril datang ke hadapan Rasulullah dengan membawa kendaraan buraq. Lalu, malaikat Israfil membawa bendera & mahkota kemuliaan, sedangkan malaikat Izrail datang dengan membawa pakaian kemuliaan. | Israfil berkata "Wahai Roh yg baik, kembalilah ke tubuh yg baik" , maka kubur terbelah 2. Pada seruan yg kedua pula, kubur mulai terbongkar. Pada seruan yg ketiga, ketika Rasulullah berdiri, Sang Nabi Muhammad membersihkan tanah dari atas kepala & janggutnya. Kemudian dilihatnya kondisi di sekitar yg sudah rata dengan tanah. Nabi Muhammad kemudian menangis sehingga mengalir air mata ke pipinya. Beliau bersabda, "Kekasihku Jibril, gembirakanlah aku". Jibril berkata, "Lihatlah apa yg ada di hadapanmu". Rasulullah bersabda, "Bukan seperti itu pertanyaanku". Jibril kembali berkata "Adakah kau tidak melihat bendera puji²an yg terpasang di atasnya". | Rasulullah bersabda, "Bukan itu maksud pertanyaanku, aku bertanya kepadamu akan umatku. Di mana umatku bagaimana keadaannya umatku bagaimana perjanjian mereka? Niscaya akan kuatlah pertolongan pada hari ini. Aku akan mensyafa'atkan umatku". | Rasulullah Beri Syafa'at di Padang Mahsyar Rasulullah menjadi satu²ya Nabi yg menyanggupi permintaan dari para mukmin untuk memberikan syafa'at. Bahkan, ketika sudah berada di dalam surga sekalipun, beliau Rasulullah masih sibuk memikirkan umatnya dengan terus memohon kepada Allah agar bisa menolong umatnya dengan mengeluarkan umatnya dari dalam neraka apabila sudah ada ketentuan takdir dari Allah SWT umatnya Rasulullah di izinkan untuk bisa dikeluarkan dari dalam neraka. | Hal ini bukan sebuah kebetulan, Rasulullah memang Rasul yg sangat sayang sekali kepada umatnya yg selalu memperhatikan keselamatan para umatnya. Bahkan saat diberikan pilihan oleh Allah, antara memilih separuh umatnya masuk surga dengan syafa'at, maka Rasulullah memilih syafa'at. Sebab cakupan syafa'at lebih luas & menjadi hak setiap muslim yg beriman. | Diungkapkan dalam sebuah hadits beliau bersabda. "Apakah kalian tahu apa yg dipilihkan Tuhanku malam ini?" Para sahabat menjawab, "Allah & Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau melanjutkan, "Sesungguhnya DIA ALLAH memberi pilihan kepadaku antara separuh umatku masuk surga dengan syafaat, maka aku memilih syafaat," (HR Thabrani). | Bahkan, ketika Nabi lain menggunakan doa mustajabnya untuk di dunia, Rasulullah mempersiapkan doa mustajab untuk mensyafaati umatnya. Sebagaimana dalam hadits berikut: "Setiap Nabi memiliki doa mustajab yg dapat dipergunakannya. Namun, aku ingin menyimpan doa (mustajab)-ku untuk memberi syafaat kepada umatku di akhirat," (HR Bukhari). | Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya beban penderitaanmu (umatnya), sangat menginginkan (keimanan & keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang² mukmin. Surah At Taubah ayat 128 | Inilah sifat sayangnya dan cintanya Rasulullah kepada umatnya yg sungguh sangat tidak tega melihat umatnya mendapatkan penderitaan dari adzab Allah SWT didunia kita yg di ingat sewaktu Rasulullah diakhir sakaratul mautnya dengan berkata ummati ummati ummati bahkan sampai di akhiratpun Rasulullah sangat sibuk memperhatikan & memperjuangkan umatnya dengan menyelamatkan umatnya.
ARTIKEL21/09/2025 | Humas BAZNAS Kota Makassar
Rukun Islam
Rukun Islam
Rukun Islam adalah lima pilar dasar amalan lahiriah umat Muslim yang wajib dijalankan: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa Ramadan, dan Haji bagi yang mampu. Rukun-rukun ini menjadi fondasi kehidupan seorang Muslim untuk mencapai ridho Allah SWT dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kesempurnaan iman. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai kelima rukun Islam: 1. Syahadat: Mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu "Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah," yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah". 2. Shalat: Mendirikan shalat lima waktu setiap hari sebagai bentuk ibadah dan komunikasi langsung dengan Allah SWT. 3. Zakat Menunaikan zakat, yaitu mengeluarkan sebagian harta yang wajib diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya (mustahik), yang menunjukkan kepedulian dan empati kepada sesama. 4. Puasa Ramadan Berpuasa sebulan penuh di bulan suci Ramadan untuk melatih diri, mengendalikan hawa nafsu, dan meningkatkan kedekatan dengan Allah. 5. Haji Menunaikan ibadah haji ke Baitullah di Mekah bagi umat Islam yang mampu, baik secara fisik maupun finansial, sebagai bentuk penyempurnaan amalan dan perjalanan spiritual.
ARTIKEL18/09/2025 | Badal Awan
Tentang Sedekah
Tentang Sedekah
Sedekah merupakan amalan yang dicintai Allah SWT. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang sedekah, salah satunya dalam surat Al-Baqarah ayat 271, “Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah: 271). Keutamaan Sedekah 1. Sedekah Tidak Mengurangi Harta “Sedekah adalah ibadah yang tidak akan mengurangi harta, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda untuk mengingatkan kita dalam sebuah riwayat Muslim, “sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim). Mengapa sedekah tidak akan mengurangi harta? Karena meskipun secara tersurat harta terlihat berkurang, namun kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala di sisi Allah SWT dan akan terus bertambah kelipatannya menjadi lebih banyak. Hal ini merupakan janji Allah yang termaktub dalam surat Saba “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). 2. Sedekah Menghapus Dosa Sebagai makhluk Allah SWT yang tak luput dari dosa, umat Islam senantiasa diberikan berbagai keistimewaan agar berkesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Salah satunya dengan sedekah. Sedekah merupakan ibadah yang istimewa, ia dapat memudahkan kita dalam menghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api. (HR. At-Tirmidzi). 3. Sedekah Melipatgandakan Pahala Sedekah memberikan banyak keistimewaan kepada pelakunya, salah satu diantaranya adalah Allah SWT akan memberikan pahala yang banyak untuk orang yang bersedekah. Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18) Itulah beberapa keistimewaan sedekah. Begitu banyak nikmat Allah dalam bersedekah, semoga kita termasuk ke dalam orang orang yang diringankan dalam melakukan ibadah istimewa ini. Aamiin.
ARTIKEL18/09/2025 | Badal Awan
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat