Ramadhan bersama Baznas (2). Dompet Tipis Tak Apa, Asal Hati Tidak Pelit
20/02/2026 | Penulis: HM.Ashar Tamanggong
HM.Ashar Tamanggong (Ketua BAZNAS Makassar)
Ada satu penyakit yang tidak bisa dideteksi lewat cek darah, tapi dampaknya luar biasa: pelit. Uniknya, penyakit ini tidak kenal kelas sosial. Orang miskin bisa pelit, orang kaya apalagi. Bahkan kadang, semakin tebal dompet, semakin tipis hati.
Padahal Islam tidak pernah memerintahkan kita punya dompet tebal. Yang diwajibkan justru punya hati yang lapang. Soal isi dompet, itu bonus. Soal isi hati, itu urusan iman.
Banyak orang merasa belum pantas bersedekah karena dompetnya “masih tipis”. Padahal, dompet tipis itu biasa. Yang tidak biasa—dan berbahaya—adalah hati yang pelit. Dompet bisa kosong hari ini, terisi besok. Tapi hati pelit, kalau dibiarkan, bisa mengeras seumur hidup.
Kita sering terjebak pada kalimat klasik: “Nanti kalau sudah kaya.”
Masalahnya, orang yang menunggu kaya untuk berbagi, biasanya tidak akan pernah merasa kaya. Karena pelit bukan soal jumlah harta, tapi soal cara pandang.
Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Allah tidak bertanya: “Seberapa tebal dompetmu?”
Yang ditanya adalah: “Mau ditanam atau tidak?”
Sedekah itu bukan soal kaya atau miskin. Ia soal percaya atau tidak percaya. Percaya bahwa memberi tidak membuat miskin. Percaya bahwa rezeki tidak berhenti di tangan kita. Percaya bahwa Allah tidak pernah salah hitung.
Banyak orang lebih percaya promo diskon daripada janji Allah. Diskon 50 persen dikejar. Tapi janji dilipatgandakan sampai 700 kali? Masih ragu. Katanya beriman, tapi urusan dompet tetap minta bukti dulu.
Islam tidak menyuruh kita memberi sampai bangkrut. Tapi Islam juga tidak mendidik kita hidup dengan mental penimbun. Karena harta yang ditahan terlalu lama akan berubah fungsi: dari alat ibadah menjadi sumber kecemasan.
Orang yang pelit itu sebenarnya hidup capek. Takut berkurang. Takut habis. Takut tidak cukup. Padahal, yang bikin cukup bukan jumlah, tapi rasa syukur. Ada orang dompetnya tipis, tapi hidupnya tenang.
Ada juga yang dompetnya tebal, tapi tidur tidak nyenyak. Bedanya? Yang satu ringan tangan, yang satu berat hati.
Sedekah itu seperti olahraga hati. Sedikit tapi rutin, bikin iman sehat. Tidak perlu nunggu besar. Yang penting konsisten. Karena di hadapan Allah, nilai sedekah bukan di nominal, tapi di keikhlasan dan keberanian melawan pelit.
Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang keluar, sampai lupa menghitung apa yang masuk. Nafas masih gratis. Kesehatan masih diberi. Kesempatan hidup masih dipanjangkan. Tapi giliran diminta berbagi, kita mendadak merasa paling kekurangan.
Padahal, hati yang tidak pelit itu sumber kebahagiaan. Orang yang mudah memberi biasanya lebih mudah tersenyum. Lebih jarang iri. Lebih cepat bersyukur. Karena sedekah itu bukan hanya mengalirkan harta, tapi membersihkan hati dari rasa takut kehilangan.
Islam ingin umatnya kuat, bukan hanya kaya. Dan kekuatan itu lahir dari solidaritas, bukan dari saldo semata. Zakat, infak, dan sedekah adalah cara Islam memastikan: yang kuat tidak meninggalkan yang lemah, dan yang punya tidak memalingkan wajah dari yang membutuhkan.
Kalau hari ini dompet kita tipis, itu bukan aib. Tapi kalau hari ini hati kita pelit, itu alarm iman. Karena dompet tipis masih bisa diisi. Tapi hati yang pelit, kalau tidak dilatih berbagi, bisa mati rasa.
Sedekah tidak menunggu kaya. Justru seringkali, sedekahlah yang mengantar seseorang pada rasa cukup. Maka jangan tunggu dompet tebal untuk berbagi. Cukup pastikan satu hal: hati kita masih hidup, masih lembut, dan masih mau memberi. Karena di hadapan Allah, yang paling mahal bukan isi dompet kita, melainkan isi hati kita. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum)
Artikel Lainnya
Dakwah Itu Jalan Cinta
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (3). Sedekah itu Investasi, Bukan Sisa Uang Jajan
Tips Mengelola Penghasilan Bulanan
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (7). Infak Kecil Tapi Rutin, Lebih Berisik di Langit
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (1). Awal Ramadhan, Akhirnya Kita Berbeda Lagi
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (13). Sedekah Konten vs Sedekah Benaran: Mana yang Lebih Kita Cari?
RAMADHAN BERSAMA BAZNAS (8). Sedekah Tidak Menunggu Kaya, Orang Pelit Justru Tak Pernah Merasa Kaya
Ramadhan Bersama BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama
Mengenal Kafarat Dalam Islam : Macam-Macam dan Tata Cara Penebusannya
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?
Ramadhan Bersama BAZNAS (10). Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa
Mengoptimalkan Sedekah untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Perhatian Rasulullah kepada umatnya
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Makasar.
Lihat Daftar Rekening →