Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (13). Sedekah Konten vs Sedekah Benaran: Mana yang Lebih Kita Cari?
03/03/2026 | Penulis: HM.Ashar Tamanggong
Ketua BAZNAS Kota Makassar
Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Zaman sekarang ini unik. Sedekah pun bisa punya dua versi: versi asli dan versi kamera. Ada yang memberi karena Allah. Ada yang memberi karena angle bagus. Kita hidup di era di mana setiap kebaikan berpotensi jadi konten. Mau berbagi nasi? Rekam dulu. Mau bantu dhuafa? Pastikan lighting cukup. Mau transfer donasi? Screenshot jangan lupa.
Pertanyaannya bukan salah atau benar. Pertanyaannya lebih halus: yang kita cari itu ridha Allah, atau validasi manusia?
Allah sudah memberi pengingat yang sangat jelas: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)
Ayat ini bukan cuma soal menyebut-nyebut. Tapi soal niat yang rusak setelah memberi. Sedekah itu bisa batal bukan karena jumlahnya kecil, tapi karena hatinya berubah arah.
Di zaman media sosial, riya itu tidak selalu terasa. Kadang niatnya baik, tapi lama-lama senang juga lihat komentar: “MasyaAllah dermawan sekali.” “Semoga rezekinya lancar.” Lama-lama bukan Allah yang kita tunggu balasannya, tapi notifikasi.
Lucunya lagi, kadang yang lebih semangat bukan memberi, tapi memposting. Kalau tidak diposting, rasanya seperti tidak terjadi. Seolah-olah amal itu harus punya saksi publik agar terasa sah.
Padahal amal paling kuat justru yang sunyi. Yang hanya Allah dan pelakunya yang tahu. Bukan berarti semua sedekah yang dipublikasikan salah. Ada kalanya itu untuk menginspirasi. Tapi hati itu licin. Awalnya ingin mengajak, lama-lama ingin diakui.
Perbedaan tipis antara inspirasi dan pencitraan itu ada di niat. Dan niat itu tidak terlihat di kamera. Hanya Allah yang tahu.
Sedekah konten biasanya cepat viral. Tapi sedekah yang benar-benar ikhlas mungkin tidak pernah trending. Namun di sisi Allah, yang tidak trending di bumi bisa jadi paling bercahaya di langit.
Ada orang yang memberi besar tapi ingin diketahui. Ada pula yang memberi kecil tapi diam-diam. Yang kedua sering lebih berat, karena ia harus melawan keinginan untuk dihargai. Kita ini manusia. Senang dipuji itu wajar. Tapi kalau pujian jadi tujuan, sedekah berubah fungsi. Dari ibadah menjadi pencitraan.
Ironisnya, kadang kita lebih peduli pada caption daripada penerima manfaat. Lebih sibuk memilih kata-kata daripada memastikan orang itu benar-benar terbantu.
Sedekah beneran itu fokus pada manfaat, bukan pada sorotan. Fokus pada meringankan beban orang lain, bukan pada menaikkan citra diri. Kalau setelah bersedekah hati terasa ringan, itu tanda sehat. Tapi kalau setelah bersedekah hati sibuk mengecek respons orang, itu alarm kecil yang perlu diperiksa.
Ayat di atas mengingatkan bahwa sedekah bisa batal. Dan pembatalnya bukan cuma omongan kasar, tapi juga niat yang melenceng. Amal itu bukan cuma soal aksi, tapi juga soal arah hati.
Coba sesekali bersedekah tanpa ada yang tahu. Tanpa update. Tanpa cerita. Rasakan sensasinya. Ada rasa intim antara kita dan Allah. Ada ketenangan yang berbeda.
Karena sejatinya, sedekah bukan untuk menaikkan nama kita. Tapi untuk membersihkan jiwa kita. Kalau kita jujur, yang paling susah bukan memberi uang. Yang paling susah itu menjaga hati tetap lurus setelah memberi.
Di era digital ini, tantangannya bukan kurangnya peluang beramal. Tapi menjaga amal tetap murni. Maka sebelum menekan tombol “posting”, mungkin ada baiknya kita bertanya pelan dalam hati: “Kalau tidak ada yang lihat, apakah saya tetap akan melakukan ini?”
Kalau jawabannya iya, insyaAllah hati masih aman. Kalau jawabannya ragu, mungkin perlu diluruskan dulu niatnya.
Karena pada akhirnya, yang sampai ke langit bukan videonya, bukan captionnya, bukan jumlah like-nya. Yang sampai adalah keikhlasannya. Dan di situlah letak nilai sedekah yang sebenarnya. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar Tamanggong)
Artikel Lainnya
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?
Ramadhan bersama BAZNAS Makassar (6). Zakat: Cara Islam Menyelamatkan Orang Kaya dari Hartanya Sendiri
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (7). Infak Kecil Tapi Rutin, Lebih Berisik di Langit
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa
RAMADHAN BERSAMA BAZNAS (8). Sedekah Tidak Menunggu Kaya, Orang Pelit Justru Tak Pernah Merasa Kaya
Dakwah Itu Jalan Cinta
Perhatian Rasulullah kepada umatnya
Rukun Islam
Ramadhan Bersama BAZNAS (10). Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Ramadhan Bersama BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama
Tips Mengelola Penghasilan Bulanan
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?
Mengoptimalkan Sedekah untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (3). Sedekah itu Investasi, Bukan Sisa Uang Jajan

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Makasar.
Lihat Daftar Rekening →