Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?
23/02/2026 | Penulis: HM.Ashar Tamanggong
H.Ashar Tamanggong (Ketua BAZNAS Makassar)
Zakat itu cuma 2,5 persen. Bukan 25 persen. Bukan juga 52 persen. Cuma dua koma lima. Tapi anehnya, beratnya bisa sampai 25 ton di hati.
Kalau diskon 2,5 persen, kita bilang, “Ah kecil sekali.”
Kalau kena potongan 2,5 persen untuk zakat, kita bilang, “Wah lumayan juga ya…”
Lucu ya?
Padahal yang mewajibkan zakat itu bukan RT, bukan negara, bukan juga panitia masjid. Yang mewajibkan adalah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, perintah zakat sering sekali digandengkan dengan shalat. Coba buka Al-Qur'an, kita akan temukan ayat seperti:
“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat…”
Shalat dan zakat itu saudara kembar. Tapi anehnya, kita sering memisahkan keduanya. Shalat kita jaga, zakat kita tunda. Shalat tepat waktu, zakat tepat alasan.
Kenapa berat?
Pertama, karena kita merasa harta itu hasil kerja keras kita sendiri.
Kita bilang, “Ini kan hasil keringat saya.”
Padahal keringat pun Allah yang beri. Nafas Allah yang kasih. Kesempatan Allah yang buka. Rezeki Allah yang atur.
Kita lupa bahwa dalam harta kita ada hak orang lain. Bukan sedekah. Bukan bonus. Tapi hak.
Zakat bukan memberi, tapi mengembalikan.
Kalau ada orang mengambil hak kita 2,5 persen saja, kita bisa marah tujuh turunan. Tapi ketika kita menahan hak orang lain 2,5 persen, hati kita tenang-tenang saja.
Berarti ada yang salah dengan rasa.
Kedua, karena kita takut miskin.
Padahal Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa setan menakut-nakuti dengan kemiskinan, sementara Allah menjanjikan ampunan dan karunia. Tapi kita lebih percaya pada bisikan setan daripada janji Tuhan.
Logika kita sering terbalik.
Belanja gadget baru: berani.
Upgrade mobil: yakin.
Zakat: mikir dulu.
Padahal mobil bisa turun harga. Gadget bisa usang. Tapi zakat? Itu investasi akhirat yang tidak pernah rugi.
Ketiga, karena cinta dunia terlalu lengket.
Harta itu seperti permen karet. Kalau cuma dipegang, tidak masalah. Tapi kalau ditempel di hati, susah dilepas.
Masalahnya bukan pada uangnya. Masalahnya pada hati yang terlalu sayang.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” Hadits ini diriwayatkan oleh Sahih Muslim.
Tapi kita tetap merasa berkurang.
Kenapa? Karena kita menghitung dengan kalkulator dunia, bukan dengan kalkulator iman.
Padahal zakat itu bukan mengurangi, tapi membersihkan. Kata “zakat” sendiri artinya suci dan tumbuh. Jadi setiap kali kita membayar zakat, seharusnya kita sedang menyucikan harta dan menumbuhkan keberkahan.
Tapi sering kali kita memperlakukan zakat seperti denda.
Bayar karena takut.
Bayar karena malu.
Bayar karena ditagih.
Bukan karena cinta.
Bukan karena syukur.
Bukan karena sadar.
Keempat, karena kita jarang melihat dampaknya.
Kita tidak melihat langsung siapa yang terbantu. Kita tidak tahu wajah anak yatim yang tersenyum. Kita tidak mendengar doa ibu yang terbebas dari hutang. Maka hati kita tidak tersentuh.
Padahal kalau kita mau menyalurkan melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional, pengelolaannya profesional, programnya jelas, dan manfaatnya nyata. Tinggal kita mau atau tidak membuka hati.
Zakat bukan sekadar transfer angka. Ia adalah transfer empati.
Dan yang paling dalam, mungkin karena kita belum benar-benar sadar bahwa hidup ini sementara.
Orang yang sadar kematian biasanya lebih ringan memberi. Karena dia tahu, yang dibawa mati bukan saldo, tapi amal.
Coba bayangkan. Jika malam ini adalah malam terakhir kita. Apakah kita masih ingin menunda zakat? Atau justru kita akan berkata, “Andai saja dulu saya lebih ringan berbagi…”
Harta yang tidak dizakati itu seperti air yang tidak mengalir. Lama-lama keruh. Bahkan bisa jadi musibah.
Banyak orang hartanya banyak, tapi hidupnya gelisah. Mungkin bukan kurang uangnya. Mungkin kurang bersih hartanya.
Zakat itu bukan untuk membuat orang miskin jadi kaya. Tapi untuk membuat orang kaya jadi selamat.
Karena harta yang tidak dibersihkan bisa menjadi beban di akhirat. Bayangkan ketika ditanya, “Dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan?”
Saat itu, tidak ada lagi cicilan. Tidak ada lagi alasan. Tidak ada lagi tempo. Semua lunas.
Maka sebenarnya yang berat itu bukan zakatnya. Yang berat itu ego kita. Yang berat itu rasa memiliki yang berlebihan. Yang berat itu hati yang belum sepenuhnya percaya pada janji Allah.
Coba sekali-kali kita ubah cara pandang. Jangan merasa kita sedang mengeluarkan uang. Rasakan bahwa kita sedang membeli ketenangan. Sedang membeli keberkahan. Sedang membeli keselamatan.
Dan percayalah, orang yang rutin menunaikan zakat biasanya lebih tenang menghadapi hidup. Karena ia tahu ada bagian hartanya yang sudah “diamankan” untuk akhirat.
Jadi kalau masih terasa berat, mungkin bukan karena 2,5 persennya terlalu besar. Tapi karena keyakinan kita yang masih terlalu kecil.
Semoga kita bukan termasuk orang yang rajin menghitung saldo, tapi lupa menghitung amal.
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukan harta yang kita kumpulkan. Tapi harta yang kita keluarkan di jalan Allah.
Dan zakat… hanyalah 2,5 persen. Tapi dampaknya bisa 100 persen untuk keselamatan kita. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum)
Artikel Lainnya
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa
Amalan Sebelum Tidur Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW
Mengenal Kafarat Dalam Islam : Macam-Macam dan Tata Cara Penebusannya
Dakwah Itu Jalan Cinta
Rukun Islam

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
