WhatsApp Icon

Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (3). Sedekah itu Investasi, Bukan Sisa Uang Jajan

21/02/2026  |  Penulis: HM.Ashar Tamanggong

Bagikan:URL telah tercopy
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (3). Sedekah itu Investasi, Bukan Sisa Uang Jajan

Ashar Tamanggong (Ketua BAZNAS Makassar)

Ada kebiasaan kecil yang sering kita anggap wajar: sedekah dari sisa.

Kalau uang jajan masih ada, kita berbagi. Kalau tidak ada sisa, kita bilang, “Niatnya ada.” Padahal niat tanpa aksi itu cuma rencana yang tidak jadi-jadi.

Sedekah sering diposisikan sebagai pengeluaran paling belakang. Setelah makan, setelah ngopi, setelah cicilan, setelah keinginan. Kalau masih ada receh, baru ingat kotak amal. Kalau tidak, kita hibur diri dengan kalimat sakti: “Allah Maha Tahu.”

Padahal, sedekah dalam Islam itu bukan urusan recehan. Ia urusan prioritas iman. Bukan soal berapa yang diberikan, tapi kapan dan dari mana ia dikeluarkan.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)

Hadits ini singkat, tapi bikin banyak orang tidak tenang.

Karena logika kita berkata sebaliknya. Memberi ya berkurang. Itu hitungan matematika. Tapi hadits ini mengajak kita naik kelas: berhenti menghitung dengan kalkulator, mulai percaya pada Allah.

Masalahnya, banyak dari kita masih pakai logika kasir saat beribadah. Semua dihitung, ditimbang, dipikirkan untung-ruginya. Kalau terasa rugi, ditunda. Kalau terasa aman, baru jalan. Padahal iman tidak pernah tumbuh dari rasa aman, tapi dari keberanian percaya.

Sedekah itu bukan sisa uang jajan. Ia adalah investasi jangka panjang. Bedanya dengan investasi dunia, hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Tapi justru di situlah ujiannya. Kita diminta percaya sebelum melihat, memberi sebelum merasa cukup.

Untuk urusan dunia, kita berani ambil risiko. Modal usaha dikeluarkan, saham dibeli, cicilan disetujui. Tapi untuk sedekah, kita ingin serba pasti. Padahal yang menjamin keuntungan dunia belum tentu Allah, tapi yang menjamin pahala sedekah itu Allah sendiri.

Ada orang rajin bersedekah tapi hidupnya sederhana. Ada juga yang jarang bersedekah tapi hidupnya tampak mewah. Lalu orang bertanya, “Katanya sedekah bikin kaya?” Pertanyaannya keliru. Sedekah itu membuat cukup, bukan selalu membuat berlebih.

Orang yang cukup itu tenang. Orang yang tenang itu bahagia. Dan itu kekayaan yang tidak bisa dibeli.

Sedekah mengajarkan kita satu hal penting: melepaskan sebelum dipaksa. Karena kalau tidak dilepas dengan ikhlas, bisa jadi nanti dilepas lewat jalan yang tidak kita suka. Sakit, musibah, kehilangan—semuanya bisa menjadi cara Allah mengambil harta yang tidak kita titipkan di jalan-Nya.

Banyak orang menunda sedekah karena takut masa depan. Padahal, sedekah justru cara paling aman mengirim harta ke masa depan. Kita tidak tahu apa yang menunggu kita nanti, tapi kita tahu satu hal: apa yang kita titipkan di sisi Allah tidak akan pernah hilang.

Rasulullah SAW tidak pernah menunggu kaya untuk bersedekah. Para sahabat pun tidak menunggu mapan untuk berbagi. Yang ada justru sebaliknya: mereka berbagi, lalu Allah mencukupkan.

Sedekah tidak meminta kita memberi sampai kosong. Ia hanya meminta kita jujur: mana kebutuhan, mana keinginan. Karena seringkali yang kita jaga mati-matian itu bukan kebutuhan, tapi gengsi.

Kalau sedekah selalu menunggu sisa, biasanya yang tersisa bukan uang, tapi alasan. Dan alasan tidak pernah mengenyangkan siapa pun.

Sedekah itu latihan iman. Semakin sering dilakukan, semakin kuat rasa percaya. Semakin jarang, semakin dominan rasa takut. Maka jangan tunggu sisa. Sisihkan di awal. Kecil tidak apa-apa. Yang penting sadar.

Karena di hadapan Allah, sedekah bukan dinilai dari besar kecilnya nominal, tapi dari keberanian melawan cinta dunia.

Sedekah bukan soal kaya atau miskin.

Ia soal: siapa yang menguasai hati kita—harta, atau Allah.

Dan pada akhirnya, kita semua akan sadar: uang jajan habis hari ini, sedekah hidup selamanya.

Wallahu A'lam. (KULTUM-Kuliah Terserah Antum)

Bagikan:URL telah tercopy
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat