WhatsApp Icon

Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi

22/02/2026  |  Penulis: HM.Ashar Tamanggong

Bagikan:URL telah tercopy
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi

HM.Ashar Tamanggong (Ketua BAZNAS Makassar)

Mari kita jujur ??sebentar. Kalau soal ngopi, kita jarang lupa. Pagi ada kopi, sore ada kopi, malam kadang masih kopi. Bahkan ada yang hafal nama barista, tapi lupa nama mustahik di sekitar rumah. Bukan karena tidak peduli— katanya—tapi karena tidak kepikiran.

Lucu ya. Yang rutin itu bukan berbagi, tapi ngopi.

Padahal harga segelas kopi hari ini kadang setara dengan makan sehari orang lain. Tapi kita belinya sambil tersenyum. Tidak pakai mikir. Tidak pakai istikharah. Sementara ketika kotak infak lewat, tangan tiba-tiba kaku, mata melirik ke kiri-kanan, dompet terasa berat seperti berisi batu.

Masalahnya bukan kopi. Islam tidak anti kopi. Yang jadi soal adalah prioritas hati. Kita sangat cepat memenuhi keinginan, tapi sangat lambat menunaikan kewajiban sosial.

Allah mengingatkan dengan cara yang sangat halus namun menohok:

“Kamu tidak akan memperoleh pencerahan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”

(QS. Ali 'Imran: 92)

Ayat ini mengingatkan kita. Bukan harta yang tidak kita suka. Bukan yang sisa. Tapi yang kita cintai.

Dan di zaman sekarang, salah satu yang kita sukai… ya kopi, nongkrong, jajan, gaya hidup. Tidak salah. Tapi ketika semua itu selalu didahulukan, sementara berbagi selalu di belakang, jangan heran kalau iman kita mandek di kepala, tidak turun ke tangan.

Kita sering merasa sudah baik karena tidak mengambil hak orang. Padahal dalam Islam, tidak mengambil hak orang saja belum cukup. Ada hak orang lain di harta kita yang wajib dikeluarkan. Zakat, infak, sedekah—itu bukan bonus pahala, tapi standar kepantasan iman.

Ironisnya, banyak orang lebih takut kopi tidak kebeli daripada takut doa orang miskin terlewatkan. Lebih takut ketinggalan nongkrong daripada ketinggalan pahala. Lebih cemas jika saldo menipis daripada jika hati berlebihan.

Ngopi itu menyenangkan. Berbagi itu menenangkan.

Sayangnya, kita sering memilih yang menyenangkan dulu, lupa yang tenang.

Sedekah tidak pernah meminta kita berhenti ngopi. Tapi sedekah ingin kita jujur: apakah kopi lebih kita cintai daripada sesama? Apakah gengsi lebih kita jaga daripada empati?

Ada orang yang rajin ke masjid, duduk di saf depan, tapi tetangganya kesulitan makan. Ada yang fasih bicara ukhuwah, tapi saat diminta berbagi, alasan banyak. Ini bukan soal jahat atau baik. Ini soal iman yang belum selesai.

Ayat tadi menegaskan: kebaikan itu ada padanya. Dan itu tidak lain adalah melepaskan sesuatu yang kita suka. Kebaikan itu kalau memberi selalu terasa muda.

Kalau memberi masih sedikit terasa berat, disitulah masalahnya.

Kadang kita merasa sudah banyak bersedekah. Tapi coba bandingkan: berapa yang keluar untuk gaya hidup, dan berapa yang keluar untuk berbagi? Kalau grafiknya timpang, mungkin masalahnya bukan rezeki, tapi sensitif.

Islam ingin umatnya seimbang. Dunia jalan, akhirat juga jalan. Ngopi boleh, tapi jangan sampai hak orang lain ikut terminum. Nongkrong silakan, tapi jangan sampai empati ikut pulang lebih dulu.

Berbagi itu bukan soal kaya atau miskin. Ia soal siapa yang menguasai keputusan kita. Hawa nafsu atau iman. Keinginan atau kepedulian.

Kalau hari ini kita bisa menghabiskan uang tanpa mikir untuk hal yang kita suka, seharusnya kita juga bisa sedikit berpikir untuk hal yang Allah suka.

Karena pada akhirnya, segelas kopi habis dalam satu jam.

Tapi sedekah, meski kecil, rasanya bisa menemani kita sampai akhir hayat.

Maka tidak ada yang salah dengan ngopi.

Yang perlu ditanya: apakah setelah ngopi, kita masih ingat berbagi?

Kalau rajin ngopi tapi lupa berbagi, mungkin yang perlu dikurangi bukan kopinya—

tapi ego kita. Hehehe. Wallahu A'lam. (Kultum--Kuliah Terserah Antum)

Bagikan:URL telah tercopy
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat