Ramadhan bersama BAZNAS Makassar (6). Zakat: Cara Islam Menyelamatkan Orang Kaya dari Hartanya Sendiri
24/02/2026 | Penulis: HM.Ashar Tamanggong
Dr.H.Ashar Tamanggong (Ketua BAZNAS Kota Makassar)
Orang miskin punya satu masalah utama: kekurangan harta. Orang kaya punya masalah yang sering tidak disadari: kelebihan harta, tapi tidak tahu cara mengelolanya secara iman. Yang satu pusing karena tidak punya. Yang satu pusing karena terlalu punya.
Di sinilah Islam datang dengan solusi yang sangat elegan bernama zakat. Bukan untuk menyusahkan orang kaya, tapi justru menyelamatkan mereka—dari hartanya sendiri.
Karena harta itu aneh. Kalau tidak dituntun iman, ia bisa berubah dari nikmat menjadi jerat. Dari alat ibadah menjadi alat pamer. Dari sumber syukur menjadi sumber sombong. Banyak orang tidak jatuh karena miskin, tapi tergelincir karena kaya.
Rasulullah SAW sudah mengingatkan dengan bahasa yang sangat tegas tapi penuh kasih:
“Tidaklah seorang pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan zakatnya, melainkan pada hari kiamat hartanya akan dipanaskan di neraka Jahannam, lalu disetrikakan ke lambung, dahi, dan punggungnya.” (HR. Muslim)
Hadits ini bukan untuk menakut-nakuti orang miskin. Ini alarm keras untuk orang kaya.
Pesannya jelas: harta yang tidak dizakati itu bukan netral. Ia bisa berubah menjadi saksi yang memberatkan. Yang kita simpan mati-matian di dunia, justru bisa menyeret kita di akhirat.
Masalahnya, banyak orang kaya merasa sudah aman. Merasa tidak mengambil hak orang. Merasa tidak berbuat jahat. Padahal dalam Islam, tidak berbuat jahat saja belum cukup. Ada kewajiban aktif: mengeluarkan zakat.
Zakat itu bukan hadiah. Bukan pula sedekah sukarela. Ia kewajiban struktural agar kekayaan tidak berputar di lingkaran yang itu-itu saja.
Sebagian orang kaya sangat disiplin urusan bisnis. Laporan rapi. Pajak tepat waktu. Audit rutin. Tapi urusan zakat? Penuh toleransi. “Nanti dulu.” “Belum sempat.” “Masih dihitung.” Seolah-olah Allah bisa diajak kompromi soal kewajiban.
Padahal zakat itu rem darurat. Rem agar harta tidak membuat kita kebablasan. Rem agar rasa memiliki tidak berubah jadi rasa paling berkuasa. Rem agar kaya tetap manusia, bukan merasa setengah dewa.
Islam tidak pernah anti orang kaya. Justru Islam butuh orang kaya yang selamat imannya. Kaya yang tangannya ringan, bukan berat. Kaya yang hartanya mengalir, bukan mengendap. Karena harta yang mengendap terlalu lama biasanya bau—bau kesombongan.
Zakat menyelamatkan orang kaya dari dua penyakit kronis: merasa paling berjasa, dan merasa paling berhak. Saat kita berzakat, kita dipaksa jujur: ternyata tidak semua yang ada di tangan kita itu milik kita. Ada hak orang lain yang dititipkan. Dan penjaga yang baik tahu kapan harus menyerahkan titipan.
Ironisnya, banyak orang takut miskin setelah zakat, tapi tidak takut miskin iman karena menahan zakat. Takut saldo berkurang, tapi tidak takut hati mengeras. Padahal yang bikin hidup sengsara itu bukan saldo nol, tapi iman yang macet.
Zakat juga menyelamatkan orang kaya dari hidup yang capek. Capek jaga harta. Capek mikir aset. Capek takut rugi. Orang yang rutin berzakat biasanya lebih tenang. Bukan karena hartanya sedikit, tapi karena beban batinnya berkurang.
Karena sejatinya, harta yang tidak dibersihkan itu berat. Ia menuntut. Ia membebani. Ia membuat kita susah tidur meski kasur empuk.
Zakat mengubah fungsi harta. Dari sekadar milik pribadi menjadi sumber pahala kolektif. Dari alat pamer menjadi alat penolong. Dari beban akhirat menjadi tabungan keselamatan.
Dan jangan salah, zakat tidak hanya menyelamatkan mustahik. Ia juga menyelamatkan muzakki. Menyelamatkan dari doa orang miskin yang terabaikan. Menyelamatkan dari hisab yang panjang. Menyelamatkan dari penyesalan yang datang terlambat.
Kalau orang miskin diuji dengan sabar, orang kaya diuji dengan berbagi. Dan seringkali, ujian orang kaya lebih berat, karena yang diminta bukan menahan, tapi melepaskan. Maka jangan lihat zakat sebagai potongan. Lihatlah ia sebagai asuransi iman.
Sebagai bukti bahwa harta tidak menguasai kita, tapi kita yang menguasai harta. Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bukanlah orang kaya yang banyak harta, melainkan orang kaya yang tidak selamat dari hartanya sendiri. Dan zakat—itulah tali penyelamatnya.
Wallahu A'lam. (Kultum--Kuliah Terserah Antum)
Artikel Lainnya
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?
Ramadhan Bersama BAZNAS (10). Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Mengoptimalkan Sedekah untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi
Ramadhan bersama Baznas (2). Dompet Tipis Tak Apa, Asal Hati Tidak Pelit
RAMADHAN BERSAMA BAZNAS (8). Sedekah Tidak Menunggu Kaya, Orang Pelit Justru Tak Pernah Merasa Kaya
Perhatian Rasulullah kepada umatnya
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (7). Infak Kecil Tapi Rutin, Lebih Berisik di Langit
Rukun Islam
Dakwah Itu Jalan Cinta
Amalan Sebelum Tidur Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (3). Sedekah itu Investasi, Bukan Sisa Uang Jajan
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (13). Sedekah Konten vs Sedekah Benaran: Mana yang Lebih Kita Cari?
Ramadhan Bersama BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Makasar.
Lihat Daftar Rekening →