WhatsApp Icon
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (13).  Sedekah Konten vs Sedekah Benaran: Mana yang Lebih Kita Cari?

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

By ATM

 

Zaman sekarang ini unik. Sedekah pun bisa punya dua versi: versi asli dan versi kamera. Ada yang memberi karena Allah. Ada yang memberi karena angle bagus. Kita hidup di era di mana setiap kebaikan berpotensi jadi konten. Mau berbagi nasi? Rekam dulu. Mau bantu dhuafa? Pastikan lighting cukup. Mau transfer donasi? Screenshot jangan lupa.

Pertanyaannya bukan salah atau benar. Pertanyaannya lebih halus: yang kita cari itu ridha Allah, atau validasi manusia?

Allah sudah memberi pengingat yang sangat jelas: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)

Ayat ini bukan cuma soal menyebut-nyebut. Tapi soal niat yang rusak setelah memberi. Sedekah itu bisa batal bukan karena jumlahnya kecil, tapi karena hatinya berubah arah.

Di zaman media sosial, riya itu tidak selalu terasa. Kadang niatnya baik, tapi lama-lama senang juga lihat komentar: “MasyaAllah dermawan sekali.” “Semoga rezekinya lancar.” Lama-lama bukan Allah yang kita tunggu balasannya, tapi notifikasi.

Lucunya lagi, kadang yang lebih semangat bukan memberi, tapi memposting. Kalau tidak diposting, rasanya seperti tidak terjadi. Seolah-olah amal itu harus punya saksi publik agar terasa sah.

Padahal amal paling kuat justru yang sunyi. Yang hanya Allah dan pelakunya yang tahu. Bukan berarti semua sedekah yang dipublikasikan salah. Ada kalanya itu untuk menginspirasi. Tapi hati itu licin. Awalnya ingin mengajak, lama-lama ingin diakui.

Perbedaan tipis antara inspirasi dan pencitraan itu ada di niat. Dan niat itu tidak terlihat di kamera. Hanya Allah yang tahu.

Sedekah konten biasanya cepat viral. Tapi sedekah yang benar-benar ikhlas mungkin tidak pernah trending. Namun di sisi Allah, yang tidak trending di bumi bisa jadi paling bercahaya di langit.

Ada orang yang memberi besar tapi ingin diketahui. Ada pula yang memberi kecil tapi diam-diam. Yang kedua sering lebih berat, karena ia harus melawan keinginan untuk dihargai. Kita ini manusia. Senang dipuji itu wajar. Tapi kalau pujian jadi tujuan, sedekah berubah fungsi. Dari ibadah menjadi pencitraan.

Ironisnya, kadang kita lebih peduli pada caption daripada penerima manfaat. Lebih sibuk memilih kata-kata daripada memastikan orang itu benar-benar terbantu.

Sedekah beneran itu fokus pada manfaat, bukan pada sorotan. Fokus pada meringankan beban orang lain, bukan pada menaikkan citra diri. Kalau setelah bersedekah hati terasa ringan, itu tanda sehat. Tapi kalau setelah bersedekah hati sibuk mengecek respons orang, itu alarm kecil yang perlu diperiksa.

Ayat di atas mengingatkan bahwa sedekah bisa batal. Dan pembatalnya bukan cuma omongan kasar, tapi juga niat yang melenceng. Amal itu bukan cuma soal aksi, tapi juga soal arah hati.

Coba sesekali bersedekah tanpa ada yang tahu. Tanpa update. Tanpa cerita. Rasakan sensasinya. Ada rasa intim antara kita dan Allah. Ada ketenangan yang berbeda.

Karena sejatinya, sedekah bukan untuk menaikkan nama kita. Tapi untuk membersihkan jiwa kita. Kalau kita jujur, yang paling susah bukan memberi uang. Yang paling susah itu menjaga hati tetap lurus setelah memberi.

Di era digital ini, tantangannya bukan kurangnya peluang beramal. Tapi menjaga amal tetap murni. Maka sebelum menekan tombol “posting”, mungkin ada baiknya kita bertanya pelan dalam hati: “Kalau tidak ada yang lihat, apakah saya tetap akan melakukan ini?”

Kalau jawabannya iya, insyaAllah hati masih aman. Kalau jawabannya ragu, mungkin perlu diluruskan dulu niatnya.

Karena pada akhirnya, yang sampai ke langit bukan videonya, bukan captionnya, bukan jumlah like-nya. Yang sampai adalah keikhlasannya. Dan di situlah letak nilai sedekah yang sebenarnya. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar Tamanggong)

03/03/2026 | Kontributor: HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

By ATM

 

Kalau harta kita bisa bicara, kira-kira dia akan bilang apa? Mungkin bukan, “Tambah lagi saya.” Bukan juga, “Simpan saya lebih lama.”

Bisa jadi dia justru berbisik pelan: “Tolong keluarkan zakat saya… sebelum saya jadi masalah buatmu.”

Kita sering merasa harta itu milik kita sepenuhnya. Kita yang cari. Kita yang capek. Kita yang lembur. Kita yang jungkir balik. Tapi jarang kita sadar, harta itu sebenarnya cuma titipan. Dan titipan itu ada aturannya.

Allah sudah jelaskan dengan sangat jelas: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

(QS. At-Taubah: 103) Baca pelan-pelan ayat di atas. Yang dibersihkan itu bukan cuma hartanya.

Tapi kita. Artinya, kalau zakat tidak keluar, yang kotor bukan uangnya saja — tapi hatinya juga bisa ikut berdebu. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan protes: “Kenapa saya ditahan terus? Saya ini bukan pajangan. Saya ada hak orang lain di dalamnya.”

Bayangkan uang di rekening kita gelisah. Setiap akhir tahun dia batuk kecil. “Eh… sudah cukup haulnya, belum? Jangan sampai saya mengeras di sini.”

Lucu juga membayangkannya. Tapi sebenarnya serius. Harta itu seperti air. Kalau mengalir, ia jernih. Kalau ditahan terus, lama-lama bau. Zakat itu bukan sekadar kewajiban administratif. Ia sistem pembersihan ilahi. Tanpa zakat, harta bisa berubah jadi beban.

Ada orang yang hartanya banyak, tapi hidupnya gelisah. Ada yang asetnya luas, tapi tidurnya tipis. Bisa jadi bukan karena kurang, tapi karena ada hak orang lain yang belum dilepas.

Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan berkata: “Saya ini amanah. Jangan bikin saya jadi saksi yang memberatkanmu nanti.” Karena dalam Islam, harta bukan benda mati tanpa makna. Ia akan dipertanggungjawabkan. Dari mana datangnya. Ke mana perginya.

Kita sering takut uang berkurang kalau zakat dikeluarkan. Padahal 2,5 persen itu kecil sekali dibandingkan nikmat yang kita terima setiap hari. Oksigen gratis. Jantung berdetak tanpa biaya. Mata melihat tanpa sewa. Tapi anehnya, begitu dengar angka 2,5 persen, hati langsung terasa 25 persen.

Kalau harta bisa bicara, mungkin dia juga akan berkata: “Saya lebih aman kalau dizakati. Kalau tidak, saya bisa berubah jadi fitnah.”

Dan memang benar. Banyak orang jatuh bukan karena miskin, tapi karena kaya tanpa kendali. Harta yang tidak dizakati bisa menumbuhkan kesombongan pelan-pelan. Tidak terasa, tapi nyata.

Zakat itu seperti servis rutin kendaraan. Bukan karena mobil rusak, tapi supaya tetap sehat. Harta yang rutin dizakati biasanya lebih berkah. Mungkin angkanya biasa saja, tapi cukup. Selalu ada jalan. Selalu ada kemudahan.

Sebaliknya, harta yang ditahan-tahan sering terasa seret. Banyak, tapi seperti kurang. Ada saja kebutuhan mendadak. Ada saja kebocoran tak terduga.

Bisa jadi hartanya sedang “protes halus”. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan memohon: “Jangan jadikan saya alasan kamu jauh dari Allah. Jadikan saya jembatan kamu dekat kepada-Nya.”

Karena sejatinya, harta itu netral. Ia bisa jadi tangga ke surga. Bisa juga jadi beban ke neraka. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya.

Kita ini sering terlalu sayang pada harta. Padahal harta tidak ikut dikuburkan bersama kita. Yang ikut hanyalah amal. Bayangkan nanti di akhirat, harta itu bersaksi. Kalau dia sudah dizakati, mungkin dia akan berkata:

“Ya Allah, pemilikku ini pernah melepaskanku karena-Mu.” Tapi kalau tidak? Semoga saja dia tidak berkata yang lain.

Maka sebelum harta itu “bicara” dalam bentuk yang kita tidak inginkan, lebih baik kita dengarkan bisikannya sekarang. Zakat bukan membuat kita miskin. Zakat justru menjaga kita tetap waras. Mengingatkan bahwa kita bukan pemilik mutlak. Hanya pengelola sementara.

Dan kalau jujur, yang sebenarnya butuh zakat itu bukan hartanya. Tapi hati kita. Karena hati yang tidak dilatih berbagi, lama-lama mengeras. Dan hati yang keras lebih berbahaya daripada dompet yang kosong.

Jadi, kalau hari ini kita buka rekening dan lihat saldo, coba bayangkan dia sedang tersenyum kecil sambil berkata: “Tenang… keluarkan saja zakatku. Aku tidak akan habis. Yang habis itu justru ketenanganmu kalau kau terus menahanku.”

Lucu ya. Tapi semoga, lucu yang bikin kita berpikir. Dan berpikir yang bikin kita bergerak. Sebelum harta benar-benar “bicara” di hari yang tidak bisa kita jawab lagi. Wallahu A'lam. (ATM-Ashar Tamanggong)

02/03/2026 | Kontributor: HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama  BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

By ATM

 

Ada pemandangan yang sering kita lihat dan anggap biasa: masjid ramai, saf rapat, suara doa menggema. Tapi di luar masjid, ada dapur yang sunyi, panci kosong, dan tetangga yang menahan lapar. Ironisnya, dua pemandangan ini bisa berdampingan tanpa saling menyapa.

Ini bukan cerita jauh. Ini potret kita. Ibadah rajin, tapi kepedulian sering tertinggal. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan ibadah yang putus dari realitas sosial. Ibadah yang benar seharusnya melahirkan empati, bukan hanya ketenangan pribadi. Kalau ibadah membuat kita sibuk dengan diri sendiri tapi cuek dengan sekitar, jangan-jangan kita salah membaca agama.

Allah menegur dengan cara yang sangat keras tapi jujur: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)

Ayat ini tidak bicara soal shalat dulu. Yang disorot justru sikap sosial.

Seolah Allah ingin berkata: jangan bangga dulu dengan ibadah ritual kalau urusan tetangga saja masih gagal. Agama bukan cuma urusan sajadah, tapi juga urusan piring tetangga.

Kita sering mengira iman itu soal rajin hadir di masjid. Padahal iman juga soal hadir di saat orang lain butuh. Bisa jadi shalat kita panjang, tapi langkah kita ke tetangga pendek.

Lucunya lagi, banyak orang takut shalatnya tidak diterima, tapi tidak takut tetangganya kelaparan. Padahal Rasulullah SAW menegaskan, orang yang kenyang sementara tetangganya lapar bukanlah cermin iman yang sehat.

Kita hidup di zaman individualis. Urusan ibadah sangat personal. Urusan sosial dianggap pilihan. Padahal dalam Islam, kepedulian itu kewajiban kolektif. Zakat, infak, dan sedekah bukan hiasan iman, tapi tiangnya.

Banyak orang berkata, “Itu urusan lembaga zakat.” Betul. Tapi lembaga tidak akan bekerja kalau hati umat mati rasa. Lembaga itu alat. Yang menggerakkan tetap iman personal.

Ironisnya, kita bisa hafal jadwal kajian, tapi tidak tahu kondisi tetangga. Bisa hafal doa panjang, tapi tidak hafal siapa yang butuh bantuan. Agama kita fasih di lisan, tapi sering gagap di tindakan.

Ayat Al-Ma’un tadi menampar kita pelan tapi dalam. Bahwa agama yang dipisahkan dari kepedulian sosial bukan agama yang hidup. Itu agama yang kering, yang hanya sibuk mengurus diri sendiri.

Islam tidak ingin umatnya saleh sendirian. Islam ingin umatnya saleh dan menyelamatkan. Karena kebaikan yang berhenti di diri sendiri itu egois, meski dibungkus ayat dan doa.

Kalau hari ini masjid kita penuh, tapi tetangga kita masih kelaparan, itu bukan prestasi. Itu PR iman. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk menyadarkan diri.

Zakat, infak, dan sedekah adalah jembatan agar ibadah kita tidak terputus dari realitas. Agar shalat kita punya kaki. Agar puasa kita punya tangan. Agar doa kita punya arah.

Jangan sampai kita rajin menyebut nama Allah, tapi lupa menyebut nama tetangga. Jangan sampai kita sibuk mencari pahala pribadi, tapi lupa bahwa pahala sosial sering lebih berat timbangannya.

Agama tidak diukur dari seberapa sering kita sujud, tapi juga dari seberapa sering kita peduli. Karena sujud yang benar seharusnya membuat kita lebih manusiawi.

Kalau ibadah rajin tapi tetangga masih lapar, mungkin yang perlu diperbaiki bukan jadwal ibadah, tapi cara kita memahami agama. Karena agama yang benar itu bukan hanya yang mengangkat tangan ke langit, tapi yang mengulurkan tangan ke sekitar.  Wallahu A'lam. (ATM--Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Kota Makassar)

01/03/2026 | Kontributor: HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama  BAZNAS (10).  Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

By ATM

Kita ini kadang unik. Setiap Ramadhan, semangat berbagi naik drastis. Kotak amal ramai, transfer zakat lancar, sedekah mengalir deras. Luar biasa. Tapi pertanyaannya: setelah Ramadhan lewat, apakah kekuatan umat ikut naik? Atau hanya saldo rekening yang sempat mampir lalu pergi?

Zakat, infak, dan sedekah adalah pilar penting dalam Islam. Al-Qur'an berulang kali menggandengkan shalat dengan zakat. Bahkan di masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang menolak zakat diperangi karena dianggap merusak sistem sosial umat. Artinya, zakat bukan sekadar ibadah personal, tapi fondasi peradaban.

Namun, kalau kita ingin berbicara tentang kekuatan umat, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar karitas (charity). Kita butuh pemberdayaan. Kita butuh sistem. Kita butuh keberlanjutan.

Di sinilah wakaf menjadi “senjata rahasia” yang sering kurang disadari kedahsyatannya.

Zakat: Menolong yang Lemah

Zakat itu seperti ambulans. Ia datang ketika ada yang sakit, tertimpa musibah, kekurangan makan, terlilit utang. Ia menyelamatkan. Ia meringankan. Ia mengobati. Tapi ambulans tidak membangun rumah sakit.

Zakat bersifat konsumtif sekaligus produktif, tapi tetap terbatas pada delapan asnaf. Ia menjaga agar yang miskin tidak semakin tenggelam. Namun untuk membuat umat berdiri tegak, kita perlu instrumen yang membangun infrastruktur jangka panjang.

Wakaf: Membangun Sistem dan Peradaban

Wakaf bukan sekadar memberi, tapi “mengunci aset” untuk kemaslahatan umat selamanya. Tanah diwakafkan, dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, kebun produktif, gedung usaha — hasilnya terus mengalir.

Lihat sejarah. Universitas tertua di dunia seperti Universitas Al-Azhar berdiri dan bertahan berabad-abad karena sistem wakaf. Banyak rumah sakit dan lembaga pendidikan di dunia Islam klasik hidup dari aset wakaf.

Bahkan di masa Umar bin Khattab, ketika beliau mendapatkan tanah di Khaibar, Nabi menyarankan agar pokoknya ditahan dan hasilnya disedekahkan. Itulah konsep wakaf produktif pertama dalam sejarah Islam.

Coba bayangkan kalau setiap pengusaha Muslim punya satu aset wakaf produktif. Satu ruko saja. Disewakan, hasilnya untuk beasiswa. Sepuluh tahun kemudian, lahir ratusan sarjana dari keluarga dhuafa. Dua puluh tahun kemudian, mereka jadi dokter, insinyur, pemimpin. Itu bukan lagi sedekah sesaat. Itu rekayasa masa depan.

Umat Lemah Bukan Karena Kurang Sedekah

Mari jujur. Umat ini bukan kekurangan orang baik. Setiap ada bencana, donasi deras. Setiap ada pembangunan masjid, cepat terkumpul. Tapi kenapa kita masih sering tertinggal dalam ekonomi, pendidikan, dan riset?

Karena kita kuat di “memberi ikan”, tapi belum serius membangun “kolam dan tambaknya”.

Zakat itu jaring pengaman sosial. Wakaf adalah mesin penggerak ekonomi umat.

Bayangkan jika dana zakat dikelola optimal oleh lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional, lalu didukung ekosistem wakaf produktif yang profesional. Umat tidak hanya menerima bantuan, tapi punya akses modal, pendidikan, layanan kesehatan, bahkan lapangan kerja.Itulah lompatan dari belas kasihan menuju kemandirian.

Mengubah Pola Pikir: Dari Dermawan ke Visioner

Kita sering bangga disebut dermawan. Tapi umat butuh lebih dari itu — umat butuh visioner. Dermawan berpikir: “Hari ini saya bantu.” Visioner berpikir: “Bagaimana agar 50 tahun lagi mereka tidak perlu dibantu lagi?”

Wakaf melatih kita berpikir jangka panjang. Ia memaksa kita memikirkan tata kelola, manajemen, investasi, keberlanjutan.

 Wakaf bukan hanya soal pahala yang mengalir, tapi juga soal manajemen yang profesional.

Kalau tidak dikelola dengan baik, aset wakaf bisa tidur. Tanah kosong bertahun-tahun. Bangunan terbengkalai. Padahal potensinya luar biasa.

Saatnya Integrasi: ZISWAF sebagai Ekosistem

Bukan berarti zakat, infak, dan sedekah tidak penting. Justru semuanya harus disinergikan. Zakat menjaga yang lemah. Infak dan sedekah memperluas kebaikan. Wakaf membangun fondasi jangka panjang.

Bayangkan skema seperti ini:

Zakat untuk pemberdayaan mustahik. Infak untuk program sosial fleksibel. Wakaf untuk membangun aset produktif yang hasilnya membiayai program tanpa henti. Kalau ini berjalan serius, umat tidak lagi hanya reaktif terhadap masalah, tapi proaktif menciptakan solusi.

Dahsyatnya Wakaf Uang

Hari ini, wakaf tidak harus menunggu kaya raya atau punya tanah luas. Wakaf uang membuka pintu bagi siapa saja. Seratus ribu, satu juta, berapapun — jika dikelola profesional — bisa menjadi modal usaha, proyek properti syariah, atau investasi sosial.

Hasilnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi. Inilah sedekah yang “beranak-pinak”. Dari Emosional ke Institusional Kekuatan umat tidak bisa hanya dibangun dengan semangat musiman. Ia harus dibangun dengan sistem. Dari gerakan emosional menjadi gerakan institusional.

Kita tetap tunaikan zakat. Kita rajin bersedekah. Tapi mari naik kelas. Mari berpikir wakaf. Mari bangun aset, bukan hanya habiskan kas. Karena umat yang kuat bukan hanya umat yang murah hati, tapi umat yang punya strategi. Dan mungkin, di situlah letak kedahsyatannya. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar TYamanggong/ketua BAZNAS Makassar)

28/02/2026 | Kontributor: HM.Ashar Tamanggong
RAMADHAN BERSAMA BAZNAS (8). Sedekah Tidak Menunggu Kaya, Orang Pelit Justru Tak Pernah Merasa Kaya

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

By ATM

 

Ada satu kalimat yang sering kita dengar, bahkan mungkin pernah kita ucapkan:

“Nanti kalau sudah kaya, baru saya banyak sedekah.”

Kalimat ini terdengar bijak. Seolah-olah realistis. Seolah-olah penuh perhitungan matang. Padahal kalau direnungkan, kalimat itu sering jadi alasan paling sopan untuk menunda kebaikan.

Karena faktanya sederhana: Orang pelit tidak pernah merasa cukup untuk memberi.

Masalahnya bukan pada jumlah harta. Masalahnya pada rasa cukup di dalam dada. Dan rasa cukup itu tidak otomatis muncul ketika angka di rekening bertambah.

Banyak orang yang ketika penghasilannya kecil berkata, “Tunggu nanti kalau usaha saya berkembang.” Begitu usahanya berkembang, katanya, “Tunggu nanti kalau stabil.”

Begitu stabil, katanya lagi, “Tunggu nanti kalau sudah benar-benar aman.” Akhirnya? Sedekahnya tetap menunggu.

Dan kaya yang ditunggu-tunggu tidak pernah terasa cukup. Allah sudah memberikan satu prinsip penting dalam Al-Qur’an:

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”

(QS. Ali Imran: 92)

Yang diuji bukan sisa harta. Yang diuji adalah yang kita cintai. Artinya, sedekah itu memang terasa berat. Karena yang dikeluarkan bukan yang tidak berarti, tapi yang ada nilainya di hati. Di situlah letak pendidikannya.

Orang yang menunggu kaya untuk bersedekah biasanya sedang menunggu perasaan aman total. Padahal rasa aman total di dunia itu ilusi. Selalu ada kebutuhan baru. Selalu ada target baru. Selalu ada standar hidup yang naik.

Kalau hari ini kita merasa belum cukup untuk memberi, bisa jadi bukan hartanya yang kurang, tapi rasa qana’ah yang tipis.

Uniknya, banyak orang yang ketika gajinya kecil masih bisa berbagi. Tapi ketika gajinya besar, justru makin berhitung. Dulu 10 ribu terasa ringan. Sekarang 100 ribu terasa berat. Bukan karena tidak mampu, tapi karena gaya hidup ikut naik bersama penghasilan.

Sedekah tidak pernah menunggu kaya. Sedekah justru sering menjadi jalan menuju kaya—minimal kaya hati. Dan kaya hati itu mahal. Tidak semua orang yang kaya harta memilikinya.

Orang pelit biasanya hidup dalam mode takut kehilangan. Takut saldo turun. Takut masa depan tidak aman. Padahal semakin ditahan, justru semakin gelisah. Karena hatinya bergantung pada angka, bukan pada Allah.

Sedekah melatih kita percaya. Bahwa rezeki bukan berhenti di tangan kita. Bahwa yang memberi hari ini bisa memberi lagi esok hari. Bahwa tangan yang terbuka tidak pernah benar-benar kosong.

Ada orang yang hartanya biasa saja, tapi hidupnya tenang. Ada pula yang hartanya luar biasa, tapi hidupnya penuh kecemasan. Bedanya sering kali bukan pada jumlah, tapi pada cara memandang harta.

Orang yang gemar sedekah tahu bahwa harta hanyalah alat. Ia dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bukan untuk meninggikan diri di hadapan manusia.

Sedekah juga mendidik kita untuk tidak terlalu cinta pada dunia. Karena setiap kali kita memberi, kita sedang berkata: “Ya Allah, Engkau lebih saya percaya daripada harta ini.”

Dan itu bukan kalimat ringan. Kalau hari ini kita merasa belum mampu bersedekah banyak, jangan tunggu kaya. Mulailah dari yang kecil. Karena yang dinilai bukan besarannya, tapi keikhlasan dan konsistensinya.

Bisa jadi, bukan kita yang sedang membantu orang lain lewat sedekah. Tapi Allah yang sedang menyelamatkan kita dari hati yang keras dan cinta dunia yang berlebihan.

Karena pada akhirnya, orang pelit bukan sekadar jarang memberi. Ia juga jarang merasa cukup. Dan orang yang tidak pernah merasa cukup, meski hartanya banyak, sebenarnya sedang hidup dalam kemiskinan yang paling sunyi.

Maka jangan tunggu kaya untuk sedekah. Karena bisa jadi, sedekahlah yang membuat kita benar-benar kaya. Wallahu A'lam. 

26/02/2026 | Kontributor: HM.Ashar Tamanggong

Artikel Terbaru

Tentang Sedekah
Tentang Sedekah
Sedekah merupakan amalan yang dicintai Allah SWT. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang sedekah, salah satunya dalam surat Al-Baqarah ayat 271, “Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah: 271). Keutamaan Sedekah 1. Sedekah Tidak Mengurangi Harta “Sedekah adalah ibadah yang tidak akan mengurangi harta, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda untuk mengingatkan kita dalam sebuah riwayat Muslim, “sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim). Mengapa sedekah tidak akan mengurangi harta? Karena meskipun secara tersurat harta terlihat berkurang, namun kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala di sisi Allah SWT dan akan terus bertambah kelipatannya menjadi lebih banyak. Hal ini merupakan janji Allah yang termaktub dalam surat Saba “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). 2. Sedekah Menghapus Dosa Sebagai makhluk Allah SWT yang tak luput dari dosa, umat Islam senantiasa diberikan berbagai keistimewaan agar berkesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Salah satunya dengan sedekah. Sedekah merupakan ibadah yang istimewa, ia dapat memudahkan kita dalam menghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api. (HR. At-Tirmidzi). 3. Sedekah Melipatgandakan Pahala Sedekah memberikan banyak keistimewaan kepada pelakunya, salah satu diantaranya adalah Allah SWT akan memberikan pahala yang banyak untuk orang yang bersedekah. Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18) Itulah beberapa keistimewaan sedekah. Begitu banyak nikmat Allah dalam bersedekah, semoga kita termasuk ke dalam orang orang yang diringankan dalam melakukan ibadah istimewa ini. Aamiin.
ARTIKEL18/09/2025 | Badal Awan
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Makasar.

Lihat Daftar Rekening →