RAMADHAN BERSAMA BAZNAS (8). Sedekah Tidak Menunggu Kaya, Orang Pelit Justru Tak Pernah Merasa Kaya
26/02/2026 | Penulis: HM.Ashar Tamanggong
Dr.HM.Ashar Tamanggong (ATM)
Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Ada satu kalimat yang sering kita dengar, bahkan mungkin pernah kita ucapkan:
“Nanti kalau sudah kaya, baru saya banyak sedekah.”
Kalimat ini terdengar bijak. Seolah-olah realistis. Seolah-olah penuh perhitungan matang. Padahal kalau direnungkan, kalimat itu sering jadi alasan paling sopan untuk menunda kebaikan.
Karena faktanya sederhana: Orang pelit tidak pernah merasa cukup untuk memberi.
Masalahnya bukan pada jumlah harta. Masalahnya pada rasa cukup di dalam dada. Dan rasa cukup itu tidak otomatis muncul ketika angka di rekening bertambah.
Banyak orang yang ketika penghasilannya kecil berkata, “Tunggu nanti kalau usaha saya berkembang.” Begitu usahanya berkembang, katanya, “Tunggu nanti kalau stabil.”
Begitu stabil, katanya lagi, “Tunggu nanti kalau sudah benar-benar aman.” Akhirnya? Sedekahnya tetap menunggu.
Dan kaya yang ditunggu-tunggu tidak pernah terasa cukup. Allah sudah memberikan satu prinsip penting dalam Al-Qur’an:
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali Imran: 92)
Yang diuji bukan sisa harta. Yang diuji adalah yang kita cintai. Artinya, sedekah itu memang terasa berat. Karena yang dikeluarkan bukan yang tidak berarti, tapi yang ada nilainya di hati. Di situlah letak pendidikannya.
Orang yang menunggu kaya untuk bersedekah biasanya sedang menunggu perasaan aman total. Padahal rasa aman total di dunia itu ilusi. Selalu ada kebutuhan baru. Selalu ada target baru. Selalu ada standar hidup yang naik.
Kalau hari ini kita merasa belum cukup untuk memberi, bisa jadi bukan hartanya yang kurang, tapi rasa qana’ah yang tipis.
Uniknya, banyak orang yang ketika gajinya kecil masih bisa berbagi. Tapi ketika gajinya besar, justru makin berhitung. Dulu 10 ribu terasa ringan. Sekarang 100 ribu terasa berat. Bukan karena tidak mampu, tapi karena gaya hidup ikut naik bersama penghasilan.
Sedekah tidak pernah menunggu kaya. Sedekah justru sering menjadi jalan menuju kaya—minimal kaya hati. Dan kaya hati itu mahal. Tidak semua orang yang kaya harta memilikinya.
Orang pelit biasanya hidup dalam mode takut kehilangan. Takut saldo turun. Takut masa depan tidak aman. Padahal semakin ditahan, justru semakin gelisah. Karena hatinya bergantung pada angka, bukan pada Allah.
Sedekah melatih kita percaya. Bahwa rezeki bukan berhenti di tangan kita. Bahwa yang memberi hari ini bisa memberi lagi esok hari. Bahwa tangan yang terbuka tidak pernah benar-benar kosong.
Ada orang yang hartanya biasa saja, tapi hidupnya tenang. Ada pula yang hartanya luar biasa, tapi hidupnya penuh kecemasan. Bedanya sering kali bukan pada jumlah, tapi pada cara memandang harta.
Orang yang gemar sedekah tahu bahwa harta hanyalah alat. Ia dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bukan untuk meninggikan diri di hadapan manusia.
Sedekah juga mendidik kita untuk tidak terlalu cinta pada dunia. Karena setiap kali kita memberi, kita sedang berkata: “Ya Allah, Engkau lebih saya percaya daripada harta ini.”
Dan itu bukan kalimat ringan. Kalau hari ini kita merasa belum mampu bersedekah banyak, jangan tunggu kaya. Mulailah dari yang kecil. Karena yang dinilai bukan besarannya, tapi keikhlasan dan konsistensinya.
Bisa jadi, bukan kita yang sedang membantu orang lain lewat sedekah. Tapi Allah yang sedang menyelamatkan kita dari hati yang keras dan cinta dunia yang berlebihan.
Karena pada akhirnya, orang pelit bukan sekadar jarang memberi. Ia juga jarang merasa cukup. Dan orang yang tidak pernah merasa cukup, meski hartanya banyak, sebenarnya sedang hidup dalam kemiskinan yang paling sunyi.
Maka jangan tunggu kaya untuk sedekah. Karena bisa jadi, sedekahlah yang membuat kita benar-benar kaya. Wallahu A'lam.
Artikel Lainnya
Ramadhan Bersama BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (1). Awal Ramadhan, Akhirnya Kita Berbeda Lagi
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi
Tips Mengelola Penghasilan Bulanan
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?
Mengenal Kafarat Dalam Islam : Macam-Macam dan Tata Cara Penebusannya
Dakwah Itu Jalan Cinta
Amalan Sebelum Tidur Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW
Rukun Islam
Ramadhan Bersama BAZNAS (10). Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?
Ramadhan bersama BAZNAS Makassar (6). Zakat: Cara Islam Menyelamatkan Orang Kaya dari Hartanya Sendiri
Ramadhan bersama Baznas (2). Dompet Tipis Tak Apa, Asal Hati Tidak Pelit
Perhatian Rasulullah kepada umatnya

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Makasar.
Lihat Daftar Rekening →