Artikel Terbaru
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (13). Sedekah Konten vs Sedekah Benaran: Mana yang Lebih Kita Cari?
Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Zaman sekarang ini unik. Sedekah pun bisa punya dua versi: versi asli dan versi kamera. Ada yang memberi karena Allah. Ada yang memberi karena angle bagus. Kita hidup di era di mana setiap kebaikan berpotensi jadi konten. Mau berbagi nasi? Rekam dulu. Mau bantu dhuafa? Pastikan lighting cukup. Mau transfer donasi? Screenshot jangan lupa.
Pertanyaannya bukan salah atau benar. Pertanyaannya lebih halus: yang kita cari itu ridha Allah, atau validasi manusia?
Allah sudah memberi pengingat yang sangat jelas: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)
Ayat ini bukan cuma soal menyebut-nyebut. Tapi soal niat yang rusak setelah memberi. Sedekah itu bisa batal bukan karena jumlahnya kecil, tapi karena hatinya berubah arah.
Di zaman media sosial, riya itu tidak selalu terasa. Kadang niatnya baik, tapi lama-lama senang juga lihat komentar: “MasyaAllah dermawan sekali.” “Semoga rezekinya lancar.” Lama-lama bukan Allah yang kita tunggu balasannya, tapi notifikasi.
Lucunya lagi, kadang yang lebih semangat bukan memberi, tapi memposting. Kalau tidak diposting, rasanya seperti tidak terjadi. Seolah-olah amal itu harus punya saksi publik agar terasa sah.
Padahal amal paling kuat justru yang sunyi. Yang hanya Allah dan pelakunya yang tahu. Bukan berarti semua sedekah yang dipublikasikan salah. Ada kalanya itu untuk menginspirasi. Tapi hati itu licin. Awalnya ingin mengajak, lama-lama ingin diakui.
Perbedaan tipis antara inspirasi dan pencitraan itu ada di niat. Dan niat itu tidak terlihat di kamera. Hanya Allah yang tahu.
Sedekah konten biasanya cepat viral. Tapi sedekah yang benar-benar ikhlas mungkin tidak pernah trending. Namun di sisi Allah, yang tidak trending di bumi bisa jadi paling bercahaya di langit.
Ada orang yang memberi besar tapi ingin diketahui. Ada pula yang memberi kecil tapi diam-diam. Yang kedua sering lebih berat, karena ia harus melawan keinginan untuk dihargai. Kita ini manusia. Senang dipuji itu wajar. Tapi kalau pujian jadi tujuan, sedekah berubah fungsi. Dari ibadah menjadi pencitraan.
Ironisnya, kadang kita lebih peduli pada caption daripada penerima manfaat. Lebih sibuk memilih kata-kata daripada memastikan orang itu benar-benar terbantu.
Sedekah beneran itu fokus pada manfaat, bukan pada sorotan. Fokus pada meringankan beban orang lain, bukan pada menaikkan citra diri. Kalau setelah bersedekah hati terasa ringan, itu tanda sehat. Tapi kalau setelah bersedekah hati sibuk mengecek respons orang, itu alarm kecil yang perlu diperiksa.
Ayat di atas mengingatkan bahwa sedekah bisa batal. Dan pembatalnya bukan cuma omongan kasar, tapi juga niat yang melenceng. Amal itu bukan cuma soal aksi, tapi juga soal arah hati.
Coba sesekali bersedekah tanpa ada yang tahu. Tanpa update. Tanpa cerita. Rasakan sensasinya. Ada rasa intim antara kita dan Allah. Ada ketenangan yang berbeda.
Karena sejatinya, sedekah bukan untuk menaikkan nama kita. Tapi untuk membersihkan jiwa kita. Kalau kita jujur, yang paling susah bukan memberi uang. Yang paling susah itu menjaga hati tetap lurus setelah memberi.
Di era digital ini, tantangannya bukan kurangnya peluang beramal. Tapi menjaga amal tetap murni. Maka sebelum menekan tombol “posting”, mungkin ada baiknya kita bertanya pelan dalam hati: “Kalau tidak ada yang lihat, apakah saya tetap akan melakukan ini?”
Kalau jawabannya iya, insyaAllah hati masih aman. Kalau jawabannya ragu, mungkin perlu diluruskan dulu niatnya.
Karena pada akhirnya, yang sampai ke langit bukan videonya, bukan captionnya, bukan jumlah like-nya. Yang sampai adalah keikhlasannya. Dan di situlah letak nilai sedekah yang sebenarnya. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar Tamanggong)
ARTIKEL03/03/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?
Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Kalau harta kita bisa bicara, kira-kira dia akan bilang apa? Mungkin bukan, “Tambah lagi saya.” Bukan juga, “Simpan saya lebih lama.”
Bisa jadi dia justru berbisik pelan: “Tolong keluarkan zakat saya… sebelum saya jadi masalah buatmu.”
Kita sering merasa harta itu milik kita sepenuhnya. Kita yang cari. Kita yang capek. Kita yang lembur. Kita yang jungkir balik. Tapi jarang kita sadar, harta itu sebenarnya cuma titipan. Dan titipan itu ada aturannya.
Allah sudah jelaskan dengan sangat jelas: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103) Baca pelan-pelan ayat di atas. Yang dibersihkan itu bukan cuma hartanya.
Tapi kita. Artinya, kalau zakat tidak keluar, yang kotor bukan uangnya saja — tapi hatinya juga bisa ikut berdebu. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan protes: “Kenapa saya ditahan terus? Saya ini bukan pajangan. Saya ada hak orang lain di dalamnya.”
Bayangkan uang di rekening kita gelisah. Setiap akhir tahun dia batuk kecil. “Eh… sudah cukup haulnya, belum? Jangan sampai saya mengeras di sini.”
Lucu juga membayangkannya. Tapi sebenarnya serius. Harta itu seperti air. Kalau mengalir, ia jernih. Kalau ditahan terus, lama-lama bau. Zakat itu bukan sekadar kewajiban administratif. Ia sistem pembersihan ilahi. Tanpa zakat, harta bisa berubah jadi beban.
Ada orang yang hartanya banyak, tapi hidupnya gelisah. Ada yang asetnya luas, tapi tidurnya tipis. Bisa jadi bukan karena kurang, tapi karena ada hak orang lain yang belum dilepas.
Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan berkata: “Saya ini amanah. Jangan bikin saya jadi saksi yang memberatkanmu nanti.” Karena dalam Islam, harta bukan benda mati tanpa makna. Ia akan dipertanggungjawabkan. Dari mana datangnya. Ke mana perginya.
Kita sering takut uang berkurang kalau zakat dikeluarkan. Padahal 2,5 persen itu kecil sekali dibandingkan nikmat yang kita terima setiap hari. Oksigen gratis. Jantung berdetak tanpa biaya. Mata melihat tanpa sewa. Tapi anehnya, begitu dengar angka 2,5 persen, hati langsung terasa 25 persen.
Kalau harta bisa bicara, mungkin dia juga akan berkata: “Saya lebih aman kalau dizakati. Kalau tidak, saya bisa berubah jadi fitnah.”
Dan memang benar. Banyak orang jatuh bukan karena miskin, tapi karena kaya tanpa kendali. Harta yang tidak dizakati bisa menumbuhkan kesombongan pelan-pelan. Tidak terasa, tapi nyata.
Zakat itu seperti servis rutin kendaraan. Bukan karena mobil rusak, tapi supaya tetap sehat. Harta yang rutin dizakati biasanya lebih berkah. Mungkin angkanya biasa saja, tapi cukup. Selalu ada jalan. Selalu ada kemudahan.
Sebaliknya, harta yang ditahan-tahan sering terasa seret. Banyak, tapi seperti kurang. Ada saja kebutuhan mendadak. Ada saja kebocoran tak terduga.
Bisa jadi hartanya sedang “protes halus”. Kalau harta bisa bicara, mungkin dia akan memohon: “Jangan jadikan saya alasan kamu jauh dari Allah. Jadikan saya jembatan kamu dekat kepada-Nya.”
Karena sejatinya, harta itu netral. Ia bisa jadi tangga ke surga. Bisa juga jadi beban ke neraka. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya.
Kita ini sering terlalu sayang pada harta. Padahal harta tidak ikut dikuburkan bersama kita. Yang ikut hanyalah amal. Bayangkan nanti di akhirat, harta itu bersaksi. Kalau dia sudah dizakati, mungkin dia akan berkata:
“Ya Allah, pemilikku ini pernah melepaskanku karena-Mu.” Tapi kalau tidak? Semoga saja dia tidak berkata yang lain.
Maka sebelum harta itu “bicara” dalam bentuk yang kita tidak inginkan, lebih baik kita dengarkan bisikannya sekarang. Zakat bukan membuat kita miskin. Zakat justru menjaga kita tetap waras. Mengingatkan bahwa kita bukan pemilik mutlak. Hanya pengelola sementara.
Dan kalau jujur, yang sebenarnya butuh zakat itu bukan hartanya. Tapi hati kita. Karena hati yang tidak dilatih berbagi, lama-lama mengeras. Dan hati yang keras lebih berbahaya daripada dompet yang kosong.
Jadi, kalau hari ini kita buka rekening dan lihat saldo, coba bayangkan dia sedang tersenyum kecil sambil berkata: “Tenang… keluarkan saja zakatku. Aku tidak akan habis. Yang habis itu justru ketenanganmu kalau kau terus menahanku.”
Lucu ya. Tapi semoga, lucu yang bikin kita berpikir. Dan berpikir yang bikin kita bergerak. Sebelum harta benar-benar “bicara” di hari yang tidak bisa kita jawab lagi. Wallahu A'lam. (ATM-Ashar Tamanggong)
ARTIKEL02/03/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama
Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Ada pemandangan yang sering kita lihat dan anggap biasa: masjid ramai, saf rapat, suara doa menggema. Tapi di luar masjid, ada dapur yang sunyi, panci kosong, dan tetangga yang menahan lapar. Ironisnya, dua pemandangan ini bisa berdampingan tanpa saling menyapa.
Ini bukan cerita jauh. Ini potret kita. Ibadah rajin, tapi kepedulian sering tertinggal. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan ibadah yang putus dari realitas sosial. Ibadah yang benar seharusnya melahirkan empati, bukan hanya ketenangan pribadi. Kalau ibadah membuat kita sibuk dengan diri sendiri tapi cuek dengan sekitar, jangan-jangan kita salah membaca agama.
Allah menegur dengan cara yang sangat keras tapi jujur: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)
Ayat ini tidak bicara soal shalat dulu. Yang disorot justru sikap sosial.
Seolah Allah ingin berkata: jangan bangga dulu dengan ibadah ritual kalau urusan tetangga saja masih gagal. Agama bukan cuma urusan sajadah, tapi juga urusan piring tetangga.
Kita sering mengira iman itu soal rajin hadir di masjid. Padahal iman juga soal hadir di saat orang lain butuh. Bisa jadi shalat kita panjang, tapi langkah kita ke tetangga pendek.
Lucunya lagi, banyak orang takut shalatnya tidak diterima, tapi tidak takut tetangganya kelaparan. Padahal Rasulullah SAW menegaskan, orang yang kenyang sementara tetangganya lapar bukanlah cermin iman yang sehat.
Kita hidup di zaman individualis. Urusan ibadah sangat personal. Urusan sosial dianggap pilihan. Padahal dalam Islam, kepedulian itu kewajiban kolektif. Zakat, infak, dan sedekah bukan hiasan iman, tapi tiangnya.
Banyak orang berkata, “Itu urusan lembaga zakat.” Betul. Tapi lembaga tidak akan bekerja kalau hati umat mati rasa. Lembaga itu alat. Yang menggerakkan tetap iman personal.
Ironisnya, kita bisa hafal jadwal kajian, tapi tidak tahu kondisi tetangga. Bisa hafal doa panjang, tapi tidak hafal siapa yang butuh bantuan. Agama kita fasih di lisan, tapi sering gagap di tindakan.
Ayat Al-Ma’un tadi menampar kita pelan tapi dalam. Bahwa agama yang dipisahkan dari kepedulian sosial bukan agama yang hidup. Itu agama yang kering, yang hanya sibuk mengurus diri sendiri.
Islam tidak ingin umatnya saleh sendirian. Islam ingin umatnya saleh dan menyelamatkan. Karena kebaikan yang berhenti di diri sendiri itu egois, meski dibungkus ayat dan doa.
Kalau hari ini masjid kita penuh, tapi tetangga kita masih kelaparan, itu bukan prestasi. Itu PR iman. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk menyadarkan diri.
Zakat, infak, dan sedekah adalah jembatan agar ibadah kita tidak terputus dari realitas. Agar shalat kita punya kaki. Agar puasa kita punya tangan. Agar doa kita punya arah.
Jangan sampai kita rajin menyebut nama Allah, tapi lupa menyebut nama tetangga. Jangan sampai kita sibuk mencari pahala pribadi, tapi lupa bahwa pahala sosial sering lebih berat timbangannya.
Agama tidak diukur dari seberapa sering kita sujud, tapi juga dari seberapa sering kita peduli. Karena sujud yang benar seharusnya membuat kita lebih manusiawi.
Kalau ibadah rajin tapi tetangga masih lapar, mungkin yang perlu diperbaiki bukan jadwal ibadah, tapi cara kita memahami agama. Karena agama yang benar itu bukan hanya yang mengangkat tangan ke langit, tapi yang mengulurkan tangan ke sekitar. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Kota Makassar)
ARTIKEL01/03/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS (10). Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Kita ini kadang unik. Setiap Ramadhan, semangat berbagi naik drastis. Kotak amal ramai, transfer zakat lancar, sedekah mengalir deras. Luar biasa. Tapi pertanyaannya: setelah Ramadhan lewat, apakah kekuatan umat ikut naik? Atau hanya saldo rekening yang sempat mampir lalu pergi?
Zakat, infak, dan sedekah adalah pilar penting dalam Islam. Al-Qur'an berulang kali menggandengkan shalat dengan zakat. Bahkan di masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang menolak zakat diperangi karena dianggap merusak sistem sosial umat. Artinya, zakat bukan sekadar ibadah personal, tapi fondasi peradaban.
Namun, kalau kita ingin berbicara tentang kekuatan umat, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar karitas (charity). Kita butuh pemberdayaan. Kita butuh sistem. Kita butuh keberlanjutan.
Di sinilah wakaf menjadi “senjata rahasia” yang sering kurang disadari kedahsyatannya.
Zakat: Menolong yang Lemah
Zakat itu seperti ambulans. Ia datang ketika ada yang sakit, tertimpa musibah, kekurangan makan, terlilit utang. Ia menyelamatkan. Ia meringankan. Ia mengobati. Tapi ambulans tidak membangun rumah sakit.
Zakat bersifat konsumtif sekaligus produktif, tapi tetap terbatas pada delapan asnaf. Ia menjaga agar yang miskin tidak semakin tenggelam. Namun untuk membuat umat berdiri tegak, kita perlu instrumen yang membangun infrastruktur jangka panjang.
Wakaf: Membangun Sistem dan Peradaban
Wakaf bukan sekadar memberi, tapi “mengunci aset” untuk kemaslahatan umat selamanya. Tanah diwakafkan, dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, kebun produktif, gedung usaha — hasilnya terus mengalir.
Lihat sejarah. Universitas tertua di dunia seperti Universitas Al-Azhar berdiri dan bertahan berabad-abad karena sistem wakaf. Banyak rumah sakit dan lembaga pendidikan di dunia Islam klasik hidup dari aset wakaf.
Bahkan di masa Umar bin Khattab, ketika beliau mendapatkan tanah di Khaibar, Nabi menyarankan agar pokoknya ditahan dan hasilnya disedekahkan. Itulah konsep wakaf produktif pertama dalam sejarah Islam.
Coba bayangkan kalau setiap pengusaha Muslim punya satu aset wakaf produktif. Satu ruko saja. Disewakan, hasilnya untuk beasiswa. Sepuluh tahun kemudian, lahir ratusan sarjana dari keluarga dhuafa. Dua puluh tahun kemudian, mereka jadi dokter, insinyur, pemimpin. Itu bukan lagi sedekah sesaat. Itu rekayasa masa depan.
Umat Lemah Bukan Karena Kurang Sedekah
Mari jujur. Umat ini bukan kekurangan orang baik. Setiap ada bencana, donasi deras. Setiap ada pembangunan masjid, cepat terkumpul. Tapi kenapa kita masih sering tertinggal dalam ekonomi, pendidikan, dan riset?
Karena kita kuat di “memberi ikan”, tapi belum serius membangun “kolam dan tambaknya”.
Zakat itu jaring pengaman sosial. Wakaf adalah mesin penggerak ekonomi umat.
Bayangkan jika dana zakat dikelola optimal oleh lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional, lalu didukung ekosistem wakaf produktif yang profesional. Umat tidak hanya menerima bantuan, tapi punya akses modal, pendidikan, layanan kesehatan, bahkan lapangan kerja.Itulah lompatan dari belas kasihan menuju kemandirian.
Mengubah Pola Pikir: Dari Dermawan ke Visioner
Kita sering bangga disebut dermawan. Tapi umat butuh lebih dari itu — umat butuh visioner. Dermawan berpikir: “Hari ini saya bantu.” Visioner berpikir: “Bagaimana agar 50 tahun lagi mereka tidak perlu dibantu lagi?”
Wakaf melatih kita berpikir jangka panjang. Ia memaksa kita memikirkan tata kelola, manajemen, investasi, keberlanjutan.
Wakaf bukan hanya soal pahala yang mengalir, tapi juga soal manajemen yang profesional.
Kalau tidak dikelola dengan baik, aset wakaf bisa tidur. Tanah kosong bertahun-tahun. Bangunan terbengkalai. Padahal potensinya luar biasa.
Saatnya Integrasi: ZISWAF sebagai Ekosistem
Bukan berarti zakat, infak, dan sedekah tidak penting. Justru semuanya harus disinergikan. Zakat menjaga yang lemah. Infak dan sedekah memperluas kebaikan. Wakaf membangun fondasi jangka panjang.
Bayangkan skema seperti ini:
Zakat untuk pemberdayaan mustahik. Infak untuk program sosial fleksibel. Wakaf untuk membangun aset produktif yang hasilnya membiayai program tanpa henti. Kalau ini berjalan serius, umat tidak lagi hanya reaktif terhadap masalah, tapi proaktif menciptakan solusi.
Dahsyatnya Wakaf Uang
Hari ini, wakaf tidak harus menunggu kaya raya atau punya tanah luas. Wakaf uang membuka pintu bagi siapa saja. Seratus ribu, satu juta, berapapun — jika dikelola profesional — bisa menjadi modal usaha, proyek properti syariah, atau investasi sosial.
Hasilnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi. Inilah sedekah yang “beranak-pinak”. Dari Emosional ke Institusional Kekuatan umat tidak bisa hanya dibangun dengan semangat musiman. Ia harus dibangun dengan sistem. Dari gerakan emosional menjadi gerakan institusional.
Kita tetap tunaikan zakat. Kita rajin bersedekah. Tapi mari naik kelas. Mari berpikir wakaf. Mari bangun aset, bukan hanya habiskan kas. Karena umat yang kuat bukan hanya umat yang murah hati, tapi umat yang punya strategi. Dan mungkin, di situlah letak kedahsyatannya. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar TYamanggong/ketua BAZNAS Makassar)
ARTIKEL28/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
RAMADHAN BERSAMA BAZNAS (8). Sedekah Tidak Menunggu Kaya, Orang Pelit Justru Tak Pernah Merasa Kaya
Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Ada satu kalimat yang sering kita dengar, bahkan mungkin pernah kita ucapkan:
“Nanti kalau sudah kaya, baru saya banyak sedekah.”
Kalimat ini terdengar bijak. Seolah-olah realistis. Seolah-olah penuh perhitungan matang. Padahal kalau direnungkan, kalimat itu sering jadi alasan paling sopan untuk menunda kebaikan.
Karena faktanya sederhana: Orang pelit tidak pernah merasa cukup untuk memberi.
Masalahnya bukan pada jumlah harta. Masalahnya pada rasa cukup di dalam dada. Dan rasa cukup itu tidak otomatis muncul ketika angka di rekening bertambah.
Banyak orang yang ketika penghasilannya kecil berkata, “Tunggu nanti kalau usaha saya berkembang.” Begitu usahanya berkembang, katanya, “Tunggu nanti kalau stabil.”
Begitu stabil, katanya lagi, “Tunggu nanti kalau sudah benar-benar aman.” Akhirnya? Sedekahnya tetap menunggu.
Dan kaya yang ditunggu-tunggu tidak pernah terasa cukup. Allah sudah memberikan satu prinsip penting dalam Al-Qur’an:
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali Imran: 92)
Yang diuji bukan sisa harta. Yang diuji adalah yang kita cintai. Artinya, sedekah itu memang terasa berat. Karena yang dikeluarkan bukan yang tidak berarti, tapi yang ada nilainya di hati. Di situlah letak pendidikannya.
Orang yang menunggu kaya untuk bersedekah biasanya sedang menunggu perasaan aman total. Padahal rasa aman total di dunia itu ilusi. Selalu ada kebutuhan baru. Selalu ada target baru. Selalu ada standar hidup yang naik.
Kalau hari ini kita merasa belum cukup untuk memberi, bisa jadi bukan hartanya yang kurang, tapi rasa qana’ah yang tipis.
Uniknya, banyak orang yang ketika gajinya kecil masih bisa berbagi. Tapi ketika gajinya besar, justru makin berhitung. Dulu 10 ribu terasa ringan. Sekarang 100 ribu terasa berat. Bukan karena tidak mampu, tapi karena gaya hidup ikut naik bersama penghasilan.
Sedekah tidak pernah menunggu kaya. Sedekah justru sering menjadi jalan menuju kaya—minimal kaya hati. Dan kaya hati itu mahal. Tidak semua orang yang kaya harta memilikinya.
Orang pelit biasanya hidup dalam mode takut kehilangan. Takut saldo turun. Takut masa depan tidak aman. Padahal semakin ditahan, justru semakin gelisah. Karena hatinya bergantung pada angka, bukan pada Allah.
Sedekah melatih kita percaya. Bahwa rezeki bukan berhenti di tangan kita. Bahwa yang memberi hari ini bisa memberi lagi esok hari. Bahwa tangan yang terbuka tidak pernah benar-benar kosong.
Ada orang yang hartanya biasa saja, tapi hidupnya tenang. Ada pula yang hartanya luar biasa, tapi hidupnya penuh kecemasan. Bedanya sering kali bukan pada jumlah, tapi pada cara memandang harta.
Orang yang gemar sedekah tahu bahwa harta hanyalah alat. Ia dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bukan untuk meninggikan diri di hadapan manusia.
Sedekah juga mendidik kita untuk tidak terlalu cinta pada dunia. Karena setiap kali kita memberi, kita sedang berkata: “Ya Allah, Engkau lebih saya percaya daripada harta ini.”
Dan itu bukan kalimat ringan. Kalau hari ini kita merasa belum mampu bersedekah banyak, jangan tunggu kaya. Mulailah dari yang kecil. Karena yang dinilai bukan besarannya, tapi keikhlasan dan konsistensinya.
Bisa jadi, bukan kita yang sedang membantu orang lain lewat sedekah. Tapi Allah yang sedang menyelamatkan kita dari hati yang keras dan cinta dunia yang berlebihan.
Karena pada akhirnya, orang pelit bukan sekadar jarang memberi. Ia juga jarang merasa cukup. Dan orang yang tidak pernah merasa cukup, meski hartanya banyak, sebenarnya sedang hidup dalam kemiskinan yang paling sunyi.
Maka jangan tunggu kaya untuk sedekah. Karena bisa jadi, sedekahlah yang membuat kita benar-benar kaya. Wallahu A'lam.
ARTIKEL26/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (7). Infak Kecil Tapi Rutin, Lebih Berisik di Langit
Kita hidup di zaman yang suka yang besar-besar. Target besar. Angka besar. Donasi pun maunya besar. Kalau kecil, rasanya malu. Padahal dalam urusan iman, yang sering membuat geger di langit justru yang kecil tapi konsisten.
Masalahnya, banyak orang menunggu momen “besar” untuk berbagi. Nunggu kaya. Nunggu mapan. Nunggu ada sisa. Akhirnya, tidak pernah mulai. Yang ada cuma niat baik yang menua di kepala.
Infak sering kalah pamor dengan pengeluaran lain. Bukan karena tidak penting, tapi karena tidak kelihatan dampaknya secara instan. Beli barang, langsung dapat. Infak, hasilnya di akhirat. Dan kita hidup di era yang kurang sabar menunggu.
Padahal Rasulullah SAW sudah memberi standar yang sangat jelas: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini sederhana, tapi menyentil keras. Allah tidak menanyakan besar kecilnya nominal. Yang ditanya: rutin atau tidak.
Infak kecil tapi rutin itu seperti tetesan air. Sekilas tidak mengesankan. Tapi kalau terus-menerus, ia bisa melubangi batu. Sedekah besar sekali-sekali memang terasa wah, tapi infak kecil yang istiqamah justru membentuk karakter iman.
Kita ini kadang lucu, untuk urusan dunia, kita paham betul soal konsistensi. Bayar langganan bulanan jalan terus. Pulsa rutin. Paket data tidak pernah lupa. Tapi untuk infak, kita sering lupa. Seolah-olah iman tidak butuh maintenance.
Banyak orang merasa infaknya terlalu kecil untuk berarti. Padahal yang kecil di mata manusia, bisa jadi besar di sisi Allah. Terutama kalau itu dikeluarkan dengan berat hati yang sedang dilawan, bukan dengan sisa yang tak terasa.
Infak kecil tapi rutin juga mendidik kita satu hal penting: melawan pelit setiap hari. Pelit itu tidak selalu soal jumlah, tapi soal kebiasaan menahan. Dan kebiasaan itu hanya bisa dilawan dengan kebiasaan baru: memberi, meski sedikit.
Islam tidak ingin umatnya heroik sesaat, lalu absen lama. Islam ingin umatnya hadir terus, meski dengan langkah kecil. Karena iman itu tidak dibangun dengan lonjakan, tapi dengan langkah-langkah kecil yang setia.
Ada orang yang jarang infak, tapi sekali memberi langsung besar. Setelah itu, istirahat panjang. Ada juga yang infaknya kecil, tapi setiap hari. Yang pertama terlihat dermawan di mata manusia. Yang kedua sering diam-diam dicintai langit.
Infak kecil tapi rutin juga menyelamatkan kita dari sifat pamer. Karena yang kecil biasanya tidak layak diposting. Tidak cukup untuk dipuji. Dan di situlah keindahannya. Iman tumbuh tanpa sorak-sorai.
Kadang kita terlalu sibuk menunggu uang banyak, sampai lupa bahwa hati yang siap memberi lebih mahal daripada saldo besar. Dan kesiapan itu dilatih dari hal-hal kecil.
Jangan remehkan uang receh. Jangan remehkan infak seribu-dua ribu. Jangan remehkan sedekah harian. Karena bisa jadi, justru itu yang menjadi penolong terberat kita di hari hisab.
Infak kecil tapi rutin juga mengajarkan kita disiplin spiritual. Ia membuat kita sadar bahwa setiap hari ada hak orang lain di rezeki kita. Bukan menunggu kaya, tapi menunggu sadar.
Karena harta itu seperti air. Kalau mengalir, ia jernih. Kalau mengendap, ia keruh. Infak kecil tapi rutin adalah cara sederhana agar rezeki kita terus mengalir.
Dan jangan khawatir soal kekurangan. Yang membuat hidup sesak bukan karena terlalu sering memberi, tapi karena terlalu sering menahan. Infak tidak pernah membuat bangkrut. Yang sering bikin bangkrut itu gengsi dan gaya hidup.
Maka jangan tunggu besar. Mulailah dari kecil. Jangan tunggu momen. Mulailah dari hari ini.
Karena di langit, yang paling berisik bukan yang besar dan sesekali, tapi yang kecil, tulus, dan istiqamah.
Wallahu A'lam. (KULTUM-Kuliah Teserah Antum)
ARTIKEL25/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan bersama BAZNAS Makassar (6). Zakat: Cara Islam Menyelamatkan Orang Kaya dari Hartanya Sendiri
Orang miskin punya satu masalah utama: kekurangan harta. Orang kaya punya masalah yang sering tidak disadari: kelebihan harta, tapi tidak tahu cara mengelolanya secara iman. Yang satu pusing karena tidak punya. Yang satu pusing karena terlalu punya.
Di sinilah Islam datang dengan solusi yang sangat elegan bernama zakat. Bukan untuk menyusahkan orang kaya, tapi justru menyelamatkan mereka—dari hartanya sendiri.
Karena harta itu aneh. Kalau tidak dituntun iman, ia bisa berubah dari nikmat menjadi jerat. Dari alat ibadah menjadi alat pamer. Dari sumber syukur menjadi sumber sombong. Banyak orang tidak jatuh karena miskin, tapi tergelincir karena kaya.
Rasulullah SAW sudah mengingatkan dengan bahasa yang sangat tegas tapi penuh kasih:
“Tidaklah seorang pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan zakatnya, melainkan pada hari kiamat hartanya akan dipanaskan di neraka Jahannam, lalu disetrikakan ke lambung, dahi, dan punggungnya.” (HR. Muslim)
Hadits ini bukan untuk menakut-nakuti orang miskin. Ini alarm keras untuk orang kaya.
Pesannya jelas: harta yang tidak dizakati itu bukan netral. Ia bisa berubah menjadi saksi yang memberatkan. Yang kita simpan mati-matian di dunia, justru bisa menyeret kita di akhirat.
Masalahnya, banyak orang kaya merasa sudah aman. Merasa tidak mengambil hak orang. Merasa tidak berbuat jahat. Padahal dalam Islam, tidak berbuat jahat saja belum cukup. Ada kewajiban aktif: mengeluarkan zakat.
Zakat itu bukan hadiah. Bukan pula sedekah sukarela. Ia kewajiban struktural agar kekayaan tidak berputar di lingkaran yang itu-itu saja.
Sebagian orang kaya sangat disiplin urusan bisnis. Laporan rapi. Pajak tepat waktu. Audit rutin. Tapi urusan zakat? Penuh toleransi. “Nanti dulu.” “Belum sempat.” “Masih dihitung.” Seolah-olah Allah bisa diajak kompromi soal kewajiban.
Padahal zakat itu rem darurat. Rem agar harta tidak membuat kita kebablasan. Rem agar rasa memiliki tidak berubah jadi rasa paling berkuasa. Rem agar kaya tetap manusia, bukan merasa setengah dewa.
Islam tidak pernah anti orang kaya. Justru Islam butuh orang kaya yang selamat imannya. Kaya yang tangannya ringan, bukan berat. Kaya yang hartanya mengalir, bukan mengendap. Karena harta yang mengendap terlalu lama biasanya bau—bau kesombongan.
Zakat menyelamatkan orang kaya dari dua penyakit kronis: merasa paling berjasa, dan merasa paling berhak. Saat kita berzakat, kita dipaksa jujur: ternyata tidak semua yang ada di tangan kita itu milik kita. Ada hak orang lain yang dititipkan. Dan penjaga yang baik tahu kapan harus menyerahkan titipan.
Ironisnya, banyak orang takut miskin setelah zakat, tapi tidak takut miskin iman karena menahan zakat. Takut saldo berkurang, tapi tidak takut hati mengeras. Padahal yang bikin hidup sengsara itu bukan saldo nol, tapi iman yang macet.
Zakat juga menyelamatkan orang kaya dari hidup yang capek. Capek jaga harta. Capek mikir aset. Capek takut rugi. Orang yang rutin berzakat biasanya lebih tenang. Bukan karena hartanya sedikit, tapi karena beban batinnya berkurang.
Karena sejatinya, harta yang tidak dibersihkan itu berat. Ia menuntut. Ia membebani. Ia membuat kita susah tidur meski kasur empuk.
Zakat mengubah fungsi harta. Dari sekadar milik pribadi menjadi sumber pahala kolektif. Dari alat pamer menjadi alat penolong. Dari beban akhirat menjadi tabungan keselamatan.
Dan jangan salah, zakat tidak hanya menyelamatkan mustahik. Ia juga menyelamatkan muzakki. Menyelamatkan dari doa orang miskin yang terabaikan. Menyelamatkan dari hisab yang panjang. Menyelamatkan dari penyesalan yang datang terlambat.
Kalau orang miskin diuji dengan sabar, orang kaya diuji dengan berbagi. Dan seringkali, ujian orang kaya lebih berat, karena yang diminta bukan menahan, tapi melepaskan. Maka jangan lihat zakat sebagai potongan. Lihatlah ia sebagai asuransi iman.
Sebagai bukti bahwa harta tidak menguasai kita, tapi kita yang menguasai harta. Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bukanlah orang kaya yang banyak harta, melainkan orang kaya yang tidak selamat dari hartanya sendiri. Dan zakat—itulah tali penyelamatnya.
Wallahu A'lam. (Kultum--Kuliah Terserah Antum)
ARTIKEL24/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?
Zakat itu cuma 2,5 persen. Bukan 25 persen. Bukan juga 52 persen. Cuma dua koma lima. Tapi anehnya, beratnya bisa sampai 25 ton di hati.
Kalau diskon 2,5 persen, kita bilang, “Ah kecil sekali.”
Kalau kena potongan 2,5 persen untuk zakat, kita bilang, “Wah lumayan juga ya…”
Lucu ya?
Padahal yang mewajibkan zakat itu bukan RT, bukan negara, bukan juga panitia masjid. Yang mewajibkan adalah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, perintah zakat sering sekali digandengkan dengan shalat. Coba buka Al-Qur'an, kita akan temukan ayat seperti:
“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat…”
Shalat dan zakat itu saudara kembar. Tapi anehnya, kita sering memisahkan keduanya. Shalat kita jaga, zakat kita tunda. Shalat tepat waktu, zakat tepat alasan.
Kenapa berat?
Pertama, karena kita merasa harta itu hasil kerja keras kita sendiri.
Kita bilang, “Ini kan hasil keringat saya.”
Padahal keringat pun Allah yang beri. Nafas Allah yang kasih. Kesempatan Allah yang buka. Rezeki Allah yang atur.
Kita lupa bahwa dalam harta kita ada hak orang lain. Bukan sedekah. Bukan bonus. Tapi hak.
Zakat bukan memberi, tapi mengembalikan.
Kalau ada orang mengambil hak kita 2,5 persen saja, kita bisa marah tujuh turunan. Tapi ketika kita menahan hak orang lain 2,5 persen, hati kita tenang-tenang saja.
Berarti ada yang salah dengan rasa.
Kedua, karena kita takut miskin.
Padahal Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa setan menakut-nakuti dengan kemiskinan, sementara Allah menjanjikan ampunan dan karunia. Tapi kita lebih percaya pada bisikan setan daripada janji Tuhan.
Logika kita sering terbalik.
Belanja gadget baru: berani.
Upgrade mobil: yakin.
Zakat: mikir dulu.
Padahal mobil bisa turun harga. Gadget bisa usang. Tapi zakat? Itu investasi akhirat yang tidak pernah rugi.
Ketiga, karena cinta dunia terlalu lengket.
Harta itu seperti permen karet. Kalau cuma dipegang, tidak masalah. Tapi kalau ditempel di hati, susah dilepas.
Masalahnya bukan pada uangnya. Masalahnya pada hati yang terlalu sayang.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” Hadits ini diriwayatkan oleh Sahih Muslim.
Tapi kita tetap merasa berkurang.
Kenapa? Karena kita menghitung dengan kalkulator dunia, bukan dengan kalkulator iman.
Padahal zakat itu bukan mengurangi, tapi membersihkan. Kata “zakat” sendiri artinya suci dan tumbuh. Jadi setiap kali kita membayar zakat, seharusnya kita sedang menyucikan harta dan menumbuhkan keberkahan.
Tapi sering kali kita memperlakukan zakat seperti denda.
Bayar karena takut.
Bayar karena malu.
Bayar karena ditagih.
Bukan karena cinta.
Bukan karena syukur.
Bukan karena sadar.
Keempat, karena kita jarang melihat dampaknya.
Kita tidak melihat langsung siapa yang terbantu. Kita tidak tahu wajah anak yatim yang tersenyum. Kita tidak mendengar doa ibu yang terbebas dari hutang. Maka hati kita tidak tersentuh.
Padahal kalau kita mau menyalurkan melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional, pengelolaannya profesional, programnya jelas, dan manfaatnya nyata. Tinggal kita mau atau tidak membuka hati.
Zakat bukan sekadar transfer angka. Ia adalah transfer empati.
Dan yang paling dalam, mungkin karena kita belum benar-benar sadar bahwa hidup ini sementara.
Orang yang sadar kematian biasanya lebih ringan memberi. Karena dia tahu, yang dibawa mati bukan saldo, tapi amal.
Coba bayangkan. Jika malam ini adalah malam terakhir kita. Apakah kita masih ingin menunda zakat? Atau justru kita akan berkata, “Andai saja dulu saya lebih ringan berbagi…”
Harta yang tidak dizakati itu seperti air yang tidak mengalir. Lama-lama keruh. Bahkan bisa jadi musibah.
Banyak orang hartanya banyak, tapi hidupnya gelisah. Mungkin bukan kurang uangnya. Mungkin kurang bersih hartanya.
Zakat itu bukan untuk membuat orang miskin jadi kaya. Tapi untuk membuat orang kaya jadi selamat.
Karena harta yang tidak dibersihkan bisa menjadi beban di akhirat. Bayangkan ketika ditanya, “Dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan?”
Saat itu, tidak ada lagi cicilan. Tidak ada lagi alasan. Tidak ada lagi tempo. Semua lunas.
Maka sebenarnya yang berat itu bukan zakatnya. Yang berat itu ego kita. Yang berat itu rasa memiliki yang berlebihan. Yang berat itu hati yang belum sepenuhnya percaya pada janji Allah.
Coba sekali-kali kita ubah cara pandang. Jangan merasa kita sedang mengeluarkan uang. Rasakan bahwa kita sedang membeli ketenangan. Sedang membeli keberkahan. Sedang membeli keselamatan.
Dan percayalah, orang yang rutin menunaikan zakat biasanya lebih tenang menghadapi hidup. Karena ia tahu ada bagian hartanya yang sudah “diamankan” untuk akhirat.
Jadi kalau masih terasa berat, mungkin bukan karena 2,5 persennya terlalu besar. Tapi karena keyakinan kita yang masih terlalu kecil.
Semoga kita bukan termasuk orang yang rajin menghitung saldo, tapi lupa menghitung amal.
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukan harta yang kita kumpulkan. Tapi harta yang kita keluarkan di jalan Allah.
Dan zakat… hanyalah 2,5 persen. Tapi dampaknya bisa 100 persen untuk keselamatan kita. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum)
ARTIKEL23/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi
Mari kita jujur ??sebentar. Kalau soal ngopi, kita jarang lupa. Pagi ada kopi, sore ada kopi, malam kadang masih kopi. Bahkan ada yang hafal nama barista, tapi lupa nama mustahik di sekitar rumah. Bukan karena tidak peduli— katanya—tapi karena tidak kepikiran.
Lucu ya. Yang rutin itu bukan berbagi, tapi ngopi.
Padahal harga segelas kopi hari ini kadang setara dengan makan sehari orang lain. Tapi kita belinya sambil tersenyum. Tidak pakai mikir. Tidak pakai istikharah. Sementara ketika kotak infak lewat, tangan tiba-tiba kaku, mata melirik ke kiri-kanan, dompet terasa berat seperti berisi batu.
Masalahnya bukan kopi. Islam tidak anti kopi. Yang jadi soal adalah prioritas hati. Kita sangat cepat memenuhi keinginan, tapi sangat lambat menunaikan kewajiban sosial.
Allah mengingatkan dengan cara yang sangat halus namun menohok:
“Kamu tidak akan memperoleh pencerahan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali 'Imran: 92)
Ayat ini mengingatkan kita. Bukan harta yang tidak kita suka. Bukan yang sisa. Tapi yang kita cintai.
Dan di zaman sekarang, salah satu yang kita sukai… ya kopi, nongkrong, jajan, gaya hidup. Tidak salah. Tapi ketika semua itu selalu didahulukan, sementara berbagi selalu di belakang, jangan heran kalau iman kita mandek di kepala, tidak turun ke tangan.
Kita sering merasa sudah baik karena tidak mengambil hak orang. Padahal dalam Islam, tidak mengambil hak orang saja belum cukup. Ada hak orang lain di harta kita yang wajib dikeluarkan. Zakat, infak, sedekah—itu bukan bonus pahala, tapi standar kepantasan iman.
Ironisnya, banyak orang lebih takut kopi tidak kebeli daripada takut doa orang miskin terlewatkan. Lebih takut ketinggalan nongkrong daripada ketinggalan pahala. Lebih cemas jika saldo menipis daripada jika hati berlebihan.
Ngopi itu menyenangkan. Berbagi itu menenangkan.
Sayangnya, kita sering memilih yang menyenangkan dulu, lupa yang tenang.
Sedekah tidak pernah meminta kita berhenti ngopi. Tapi sedekah ingin kita jujur: apakah kopi lebih kita cintai daripada sesama? Apakah gengsi lebih kita jaga daripada empati?
Ada orang yang rajin ke masjid, duduk di saf depan, tapi tetangganya kesulitan makan. Ada yang fasih bicara ukhuwah, tapi saat diminta berbagi, alasan banyak. Ini bukan soal jahat atau baik. Ini soal iman yang belum selesai.
Ayat tadi menegaskan: kebaikan itu ada padanya. Dan itu tidak lain adalah melepaskan sesuatu yang kita suka. Kebaikan itu kalau memberi selalu terasa muda.
Kalau memberi masih sedikit terasa berat, disitulah masalahnya.
Kadang kita merasa sudah banyak bersedekah. Tapi coba bandingkan: berapa yang keluar untuk gaya hidup, dan berapa yang keluar untuk berbagi? Kalau grafiknya timpang, mungkin masalahnya bukan rezeki, tapi sensitif.
Islam ingin umatnya seimbang. Dunia jalan, akhirat juga jalan. Ngopi boleh, tapi jangan sampai hak orang lain ikut terminum. Nongkrong silakan, tapi jangan sampai empati ikut pulang lebih dulu.
Berbagi itu bukan soal kaya atau miskin. Ia soal siapa yang menguasai keputusan kita. Hawa nafsu atau iman. Keinginan atau kepedulian.
Kalau hari ini kita bisa menghabiskan uang tanpa mikir untuk hal yang kita suka, seharusnya kita juga bisa sedikit berpikir untuk hal yang Allah suka.
Karena pada akhirnya, segelas kopi habis dalam satu jam.
Tapi sedekah, meski kecil, rasanya bisa menemani kita sampai akhir hayat.
Maka tidak ada yang salah dengan ngopi.
Yang perlu ditanya: apakah setelah ngopi, kita masih ingat berbagi?
Kalau rajin ngopi tapi lupa berbagi, mungkin yang perlu dikurangi bukan kopinya—
tapi ego kita. Hehehe. Wallahu A'lam. (Kultum--Kuliah Terserah Antum)
ARTIKEL22/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (3). Sedekah itu Investasi, Bukan Sisa Uang Jajan
Ada kebiasaan kecil yang sering kita anggap wajar: sedekah dari sisa.
Kalau uang jajan masih ada, kita berbagi. Kalau tidak ada sisa, kita bilang, “Niatnya ada.” Padahal niat tanpa aksi itu cuma rencana yang tidak jadi-jadi.
Sedekah sering diposisikan sebagai pengeluaran paling belakang. Setelah makan, setelah ngopi, setelah cicilan, setelah keinginan. Kalau masih ada receh, baru ingat kotak amal. Kalau tidak, kita hibur diri dengan kalimat sakti: “Allah Maha Tahu.”
Padahal, sedekah dalam Islam itu bukan urusan recehan. Ia urusan prioritas iman. Bukan soal berapa yang diberikan, tapi kapan dan dari mana ia dikeluarkan.
Rasulullah SAW pernah bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)
Hadits ini singkat, tapi bikin banyak orang tidak tenang.
Karena logika kita berkata sebaliknya. Memberi ya berkurang. Itu hitungan matematika. Tapi hadits ini mengajak kita naik kelas: berhenti menghitung dengan kalkulator, mulai percaya pada Allah.
Masalahnya, banyak dari kita masih pakai logika kasir saat beribadah. Semua dihitung, ditimbang, dipikirkan untung-ruginya. Kalau terasa rugi, ditunda. Kalau terasa aman, baru jalan. Padahal iman tidak pernah tumbuh dari rasa aman, tapi dari keberanian percaya.
Sedekah itu bukan sisa uang jajan. Ia adalah investasi jangka panjang. Bedanya dengan investasi dunia, hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Tapi justru di situlah ujiannya. Kita diminta percaya sebelum melihat, memberi sebelum merasa cukup.
Untuk urusan dunia, kita berani ambil risiko. Modal usaha dikeluarkan, saham dibeli, cicilan disetujui. Tapi untuk sedekah, kita ingin serba pasti. Padahal yang menjamin keuntungan dunia belum tentu Allah, tapi yang menjamin pahala sedekah itu Allah sendiri.
Ada orang rajin bersedekah tapi hidupnya sederhana. Ada juga yang jarang bersedekah tapi hidupnya tampak mewah. Lalu orang bertanya, “Katanya sedekah bikin kaya?” Pertanyaannya keliru. Sedekah itu membuat cukup, bukan selalu membuat berlebih.
Orang yang cukup itu tenang. Orang yang tenang itu bahagia. Dan itu kekayaan yang tidak bisa dibeli.
Sedekah mengajarkan kita satu hal penting: melepaskan sebelum dipaksa. Karena kalau tidak dilepas dengan ikhlas, bisa jadi nanti dilepas lewat jalan yang tidak kita suka. Sakit, musibah, kehilangan—semuanya bisa menjadi cara Allah mengambil harta yang tidak kita titipkan di jalan-Nya.
Banyak orang menunda sedekah karena takut masa depan. Padahal, sedekah justru cara paling aman mengirim harta ke masa depan. Kita tidak tahu apa yang menunggu kita nanti, tapi kita tahu satu hal: apa yang kita titipkan di sisi Allah tidak akan pernah hilang.
Rasulullah SAW tidak pernah menunggu kaya untuk bersedekah. Para sahabat pun tidak menunggu mapan untuk berbagi. Yang ada justru sebaliknya: mereka berbagi, lalu Allah mencukupkan.
Sedekah tidak meminta kita memberi sampai kosong. Ia hanya meminta kita jujur: mana kebutuhan, mana keinginan. Karena seringkali yang kita jaga mati-matian itu bukan kebutuhan, tapi gengsi.
Kalau sedekah selalu menunggu sisa, biasanya yang tersisa bukan uang, tapi alasan. Dan alasan tidak pernah mengenyangkan siapa pun.
Sedekah itu latihan iman. Semakin sering dilakukan, semakin kuat rasa percaya. Semakin jarang, semakin dominan rasa takut. Maka jangan tunggu sisa. Sisihkan di awal. Kecil tidak apa-apa. Yang penting sadar.
Karena di hadapan Allah, sedekah bukan dinilai dari besar kecilnya nominal, tapi dari keberanian melawan cinta dunia.
Sedekah bukan soal kaya atau miskin.
Ia soal: siapa yang menguasai hati kita—harta, atau Allah.
Dan pada akhirnya, kita semua akan sadar: uang jajan habis hari ini, sedekah hidup selamanya.
Wallahu A'lam. (KULTUM-Kuliah Terserah Antum)
ARTIKEL21/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan bersama Baznas (2). Dompet Tipis Tak Apa, Asal Hati Tidak Pelit
Ada satu penyakit yang tidak bisa dideteksi lewat cek darah, tapi dampaknya luar biasa: pelit. Uniknya, penyakit ini tidak kenal kelas sosial. Orang miskin bisa pelit, orang kaya apalagi. Bahkan kadang, semakin tebal dompet, semakin tipis hati.
Padahal Islam tidak pernah memerintahkan kita punya dompet tebal. Yang diwajibkan justru punya hati yang lapang. Soal isi dompet, itu bonus. Soal isi hati, itu urusan iman.
Banyak orang merasa belum pantas bersedekah karena dompetnya “masih tipis”. Padahal, dompet tipis itu biasa. Yang tidak biasa—dan berbahaya—adalah hati yang pelit. Dompet bisa kosong hari ini, terisi besok. Tapi hati pelit, kalau dibiarkan, bisa mengeras seumur hidup.
Kita sering terjebak pada kalimat klasik: “Nanti kalau sudah kaya.”
Masalahnya, orang yang menunggu kaya untuk berbagi, biasanya tidak akan pernah merasa kaya. Karena pelit bukan soal jumlah harta, tapi soal cara pandang.
Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Allah tidak bertanya: “Seberapa tebal dompetmu?”
Yang ditanya adalah: “Mau ditanam atau tidak?”
Sedekah itu bukan soal kaya atau miskin. Ia soal percaya atau tidak percaya. Percaya bahwa memberi tidak membuat miskin. Percaya bahwa rezeki tidak berhenti di tangan kita. Percaya bahwa Allah tidak pernah salah hitung.
Banyak orang lebih percaya promo diskon daripada janji Allah. Diskon 50 persen dikejar. Tapi janji dilipatgandakan sampai 700 kali? Masih ragu. Katanya beriman, tapi urusan dompet tetap minta bukti dulu.
Islam tidak menyuruh kita memberi sampai bangkrut. Tapi Islam juga tidak mendidik kita hidup dengan mental penimbun. Karena harta yang ditahan terlalu lama akan berubah fungsi: dari alat ibadah menjadi sumber kecemasan.
Orang yang pelit itu sebenarnya hidup capek. Takut berkurang. Takut habis. Takut tidak cukup. Padahal, yang bikin cukup bukan jumlah, tapi rasa syukur. Ada orang dompetnya tipis, tapi hidupnya tenang.
Ada juga yang dompetnya tebal, tapi tidur tidak nyenyak. Bedanya? Yang satu ringan tangan, yang satu berat hati.
Sedekah itu seperti olahraga hati. Sedikit tapi rutin, bikin iman sehat. Tidak perlu nunggu besar. Yang penting konsisten. Karena di hadapan Allah, nilai sedekah bukan di nominal, tapi di keikhlasan dan keberanian melawan pelit.
Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang keluar, sampai lupa menghitung apa yang masuk. Nafas masih gratis. Kesehatan masih diberi. Kesempatan hidup masih dipanjangkan. Tapi giliran diminta berbagi, kita mendadak merasa paling kekurangan.
Padahal, hati yang tidak pelit itu sumber kebahagiaan. Orang yang mudah memberi biasanya lebih mudah tersenyum. Lebih jarang iri. Lebih cepat bersyukur. Karena sedekah itu bukan hanya mengalirkan harta, tapi membersihkan hati dari rasa takut kehilangan.
Islam ingin umatnya kuat, bukan hanya kaya. Dan kekuatan itu lahir dari solidaritas, bukan dari saldo semata. Zakat, infak, dan sedekah adalah cara Islam memastikan: yang kuat tidak meninggalkan yang lemah, dan yang punya tidak memalingkan wajah dari yang membutuhkan.
Kalau hari ini dompet kita tipis, itu bukan aib. Tapi kalau hari ini hati kita pelit, itu alarm iman. Karena dompet tipis masih bisa diisi. Tapi hati yang pelit, kalau tidak dilatih berbagi, bisa mati rasa.
Sedekah tidak menunggu kaya. Justru seringkali, sedekahlah yang mengantar seseorang pada rasa cukup. Maka jangan tunggu dompet tebal untuk berbagi. Cukup pastikan satu hal: hati kita masih hidup, masih lembut, dan masih mau memberi. Karena di hadapan Allah, yang paling mahal bukan isi dompet kita, melainkan isi hati kita. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum)
ARTIKEL20/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (1). Awal Ramadhan, Akhirnya Kita Berbeda Lagi
Setiap tahun, menjelang Ramadhan, ada satu pertanyaan sakral yang lebih viral dari promo sirup dan diskon kurma: “Mulai kapan puasanya?”
Sebagian sudah tarawih tadi malam . Sebagian lagi masih santai sambil berkata, “Tunggu pengumuman resmi.” Ada yang sudah pasang status “Marhaban ya Ramadhan,” ada yang masih update, “Besok masih makan siang, ya.”
Begitulah kita. Umat yang besar. Saking besarnya, masuk bulan yang sama saja kadang beda pintu.
Padahal Ramadhan itu satu. Bulannya satu. Qur’annya satu. Tuhannya satu. Tapi cara masuknya… bisa dua bahkan tiga.
Lucunya, yang belum tentu shalat Subuh berjamaah, tiba-tiba jadi pakar rukyat dan hisab. Yang biasanya tidak pernah ke masjid kecuali Idul Fitri, mendadak ahli astronomi dadakan. Timeline penuh analisis hilal. Seakan-akan NASA saja perlu konfirmasi ke grup WhatsApp keluarga.
Di sinilah kadang kita lupa: Ramadhan bukan lomba siapa paling cepat masuk. Juga bukan kompetisi siapa paling benar memulai.
Ramadhan itu bukan soal tanggal. Ramadhan itu soal hati. Kalau hati kita belum siap, mau mulai hari ini atau besok, tetap saja kosong.
Kalau hati kita masih penuh dendam, beda sehari pun tidak akan membuatnya bersih. Kalau hati kita masih pelit, beda metode tidak akan membuatnya dermawan.
Kita ini kadang lucu. Untuk beda awal Ramadhan saja bisa panas. Tapi untuk beda pendapat dalam rumah tangga, kita diam saja sambil simpan bom waktu.
Padahal yang lebih berbahaya bukan beda mulai puasanya. Yang lebih berbahaya adalah sama-sama masuk Ramadhan, tapi tidak ada yang benar-benar masuk ke dalam jiwa.
Ada yang mulai hari ini, tapi niatnya masih setengah. Ada yang mulai besok, tapi hatinya masih dengki.
Allah tidak pernah bertanya, “Kamu mulai tanggal berapa?” Yang ditanya nanti: “Apa yang kamu lakukan selama Ramadhan?”
Kalau kita jujur, problem kita bukan beda awal. Problem kita adalah beda niat. Sebagian masuk Ramadhan dengan niat kurus. Sebagian lagi niat balas dendam makan saat buka. Sebagian niat konten.
Sebagian niat pamer ibadah. Jarang sekali yang masuk dengan niat: “Ya Allah, ini mungkin Ramadhan terakhirku.”
Setiap tahun kita ribut soal hilal. Tapi jarang merenung: umur kita ini sudah di ujung mana? Jangan-jangan ini Ramadhan terakhir, tapi kita malah sibuk debat awalannya. Bayangkan nanti di kubur, malaikat tidak akan bertanya, “Kamu ikut yang mana?”
Yang ditanya: “Puasa kamu bagaimana? Shalat kamu bagaimana? Zakat kamu bagaimana?” Beda awal tidak pernah membatalkan pahala. Tapi hati yang sombong bisa menghapusnya.
Yang mulai duluan jangan merasa lebih suci. Yang mulai belakangan jangan merasa paling benar. Karena Ramadhan bukan tentang siapa paling cepat. Ramadhan tentang siapa paling taat. Kalau kita mau jujur lagi, beda awal Ramadhan itu cuma satu hari. Tapi beda akhlak bisa seumur hidup.
Lucu ya… Untuk beda satu hari kita bisa panjang diskusi. Untuk beda akhlak kita sering tidak peduli. Ada yang puasanya duluan, tapi lisannya tetap tajam. Ada yang puasanya belakangan, tapi hatinya sok suci. Kira-kira Allah lebih melihat yang mana?
Ramadhan itu sekolah. Dan sekolah tidak pernah bertanya, “Kamu masuk lewat gerbang mana?” Yang ditanya adalah, “Nilaimu berapa?”
Nilai sabar. Nilai ikhlas. Nilai sedekah. Nilai menahan marah. Kalau beda awal membuat kita saling mencela, berarti kita belum paham tujuan puasa. Puasa itu latihan menahan diri. Termasuk menahan diri untuk tidak merasa paling benar.
Saya membayangkan Allah tersenyum melihat hamba-hamba-Nya. Ada yang sudah sahur. Ada yang masih tidur nyenyak. Tapi Allah tahu siapa yang benar-benar rindu.
Karena yang paling penting bukan tanggal di kalender. Tapi getar di dada. Mau mulai hari ini atau besok, pertanyaannya cuma satu: Apakah kita benar-benar ingin berubah? Atau Ramadhan hanya jadi ritual tahunan? Datang, ramai, lalu pergi tanpa bekas.
Jangan sampai kita ini seperti orang yang ribut memilih pintu masuk masjid, tapi setelah masuk malah tidur. Ramadhan itu bukan soal masuknya. Tapi apa yang kita lakukan setelah masuk. Kalau kita berbeda memulainya, jangan berbeda dalam persaudaraan. Kalau kita berbeda metodenya, jangan berbeda dalam doanya.
Karena di malam pertama itu, di antara takbir dan doa, semua hati sebenarnya sama: berharap ampunan. Dan mungkin, justru perbedaan ini mengajarkan satu hal penting:
Bahwa persatuan itu bukan berarti seragam. Persatuan itu tetap saling menghormati walau tidak sama. Akhirnya, mari kita jujur pada diri sendiri.
Beda awal Ramadhan itu biasa. Yang luar biasa adalah kalau kita bisa keluar dari Ramadhan dalam keadaan berbeda—lebih baik, lebih lembut, lebih dermawan, lebih dekat kepada Allah.
Kalau setelah sebulan kita masih sama saja… Nah itu baru masalah besar. Jadi, mau mulai hari ini atau besok, pastikan kita mulai dengan hati yang bersih. Karena bisa jadi… Ini Ramadhan terakhir kita.
Dan alangkah ruginya kalau Ramadhan terakhir kita dihabiskan untuk debat tanggal, bukan memperbaiki akhlak. Selamat memasuki Ramadhan—kapan pun kita memulainya. Yang penting, jangan hanya berbeda di awal. Berbedalah dalam kualitas takwa. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum--Graha Anisa Permai, 30 Sya’ban / 1 Ramadhan 1447 H)
ARTIKEL19/02/2026 | HM.Ashar Tamanggong
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa
1. Segera Berbuka dan Akhirkan Sahur
Rasulullah SAW bersabda: “Umatku selalu dalam kebaikan selama bergegas dalam berbuka puasa dan mengakhirkan sahur” (HR Ahmad No 21350 dari Abu Dzar)
2. Meninggalkan Perkataan dan Perbuatan Tercela
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan buruk dan mengamalkannya, maka tidak butuh bagi Allah orang tersebut meninggalkan makanan dan minuman” (HR Ahmad, al-Bukhari, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah dari Abu Hurairah)
3. Memberi Takjil Buka Puasa
Zaid bin Khalid Al-Juhani berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa memberi buka puasa bagi orang puasa, maka iamendapatkan seperti pahala orang yang berbuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang puasa sedikitpun” (HR Tirmidz)
4. Doa Saat Berbuka Puasa
Saat berbuka puasa adalah waktu mustajabah sehingga dianjurkan berdoa seperti sabda Nabi SAW:“Ada 3 orang yang tidak ditolak doanya... (salah satunya) orang berpuasa saat berbuka...” (HR Ibnu Hibban)
ARTIKEL09/02/2026 | Badal Awan
Mengenal Kafarat Dalam Islam : Macam-Macam dan Tata Cara Penebusannya
Normal
0
false
false
false
EN-ID
X-NONE
X-NONE
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri",sans-serif;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-font-kerning:1.0pt;
mso-ligatures:standardcontextual;
mso-fareast-language:EN-US;}
Kafarat adalah denda atau tebusan wajib dalam Islam yang harus dibayar seseorang karena telah melakukan pelanggaran hukum agama atau melalaikan kewajiban tertentu. Secara bahasa, kafarat berasal dari kata kafarat yang berarti "menutupi", dengan tujuan untuk menutupi dosa agar tidak berakibat buruk di dunia maupun akhirat.
1. Kafarat Sumpah
Seseorang yang melanggar sumpah (atas nama Allah) wajib membayar penebusan dengan urutan yang telah dijelaskan dalam surah al Maidah ayat 89 yaitu:
1. Memberi makan sepuluh orang miskin (makanan yang biasa dikonsumsi keluarga)
2. Atau memberi pakaian kepada mereka
3. Atau memerdekakan seorang budak
4. Jika tidak mampu, maka berpuasa selama tiga hari.
Contoh perbuatan melanggar sumpah :
Seseorang berkata: "Demi Allah, saya tidak akan datang ke kebun itu lagi". Namun beberapa hari kemudian karena suatu alasan lalu ia datang ke kebun itu. Maka, ia telah melanggar sumpahnya dan wajib membayar kafarat.
2. Kafarat Puasa Ramadhan
Kafarat ini berlaku bagi orang yang melakukan hubungan suami istri di siang hari pada Bulan Ramadhan sebagaimana kisah sahabat yang datang mengadu kepada Nabi SAW setelah menggauli istrinya.
Denda akibat melakukan perbuatan tersebut dapat ditebus dengan cara
1. Memerdekakan seorang budak
2. Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut
3. Jika tetap tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin.
3. Kafarat Melakukan Pembunuhan Tidak Sengaja
Bagi orang yang membunuh orang beriman secara tidak sengaja sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 92, wajib menebus denda dengan cara:
1. Memerdekakan seorang budak yang beriman dan membayar diyat (tebusan) kepada keluarga korban.
2. Jika tidak mampu memerdekakan budak maka wajib berpuasa dua bulan berturut-turut
4. Kafarat Zihar
Zihar adalah ucapan suami yang menyamakan istrinya dengan ibunya (untuk mengharamkan hubungan). Dalilnya sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S. Al Mujadilah Ayat 3-4
Berikut adalah beberapa contoh kalimat zihar:
a. Kalimat Klasik / Sharih (jelas): "Kamu bagiku seperti punggung ibuku". (ini adalah kalimat yang paling umum digunakan dalam literatur fikih)
b. Menyamakan dengan anggota tubuh mahram: "kamu bagiku seperti perut saudara perempuanku" atau "Bagian tubuhmu ini (yang biasanya haram dilihat pada mahram) sama seperti milik ibuku"
c. Niat mengharamkan istri: "Engkau haram bagiku seperti haramnya ibuku kepadaku"
Cara menebus denda zihar adalah:
1. Memerdekakan budak sebelum berhubungan kembali.
2. Jika tidak ada, berpuasa dua bulan berturut-turut.
3. Jika tidak mampu, memberikan makan kepada 60 orang miskin
Kafarat Zihar wajib disegerakan sebelum suami kembali menggauli istrinya.
ARTIKEL05/02/2026 | Badal Awan
Dakwah Itu Jalan Cinta
Dakwah adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling mulia di antara sesama hamba Allah. Ketika kita mendakwahi seseorang, kita tidak hanya menyampaikan pesan kebaikan, tetapi juga menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka. Dakwah bukan hanya tentang mengubah orang lain, tetapi juga tentang berbagi kasih dan kebaikan dengan mereka.
.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman, "Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS. Al-Anbiya: 107). Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, termasuk bagi umat manusia. Dakwah adalah salah satu bentuk rahmat yang dapat kita berikan kepada orang lain.
.
Ketika kita mendakwahi seseorang, kita menunjukkan bahwa kita peduli dengan kebaikan dan keselamatan mereka. Kita ingin membantu mereka menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT. Dakwah juga dapat membantu memperkuat hubungan kita dengan orang lain, karena kita berbagi nilai-nilai kebaikan dan kasih sayang.
.
Namun, dakwah tidak selalu mudah. Terkadang kita menghadapi tantangan dan kesulitan ketika menyampaikan pesan kebaikan kepada orang lain. Tapi, kita tidak boleh menyerah. Kita harus terus berusaha dan berdoa agar Allah SWT membimbing kita dan memberikan kita kekuatan untuk terus berdakwah.
.
Dalam mendakwahi, kita juga harus ingat bahwa setiap orang memiliki jalan dan cara yang berbeda-beda dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita harus menghormati perbedaan dan tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Dakwah harus dilakukan dengan cara yang bijak, sabar, dan penuh kasih sayang.
.
Dengan demikian, dakwah dapat menjadi jalan cinta yang membawa kita lebih dekat dengan Allah SWT dan dengan sesama hamba-Nya. Kita dapat menunjukkan kasih sayang dan kebaikan kita kepada orang lain, dan membantu mereka menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT. Dakwah adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling mulia, dan kita harus terus berusaha untuk menjadi bagian dari jalan cinta ini.
ARTIKEL23/09/2025 | Badal Awan
Mengoptimalkan Sedekah untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
.
Sedekah biasanya diartikan oleh kebanyakan masyarakat adalah pemberian uang atau makanan kepada pengemis di jalan. Sejatinya definisi sedekah tidak sesempit itu sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran :
Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan (kepada) Allah pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) kepada mereka dan baginya (diberikan) ganjaran yang sangat mulia (surga).
[Qs Al-Hadid ayat 18].
.
Maka dari pada itu kita bisa memaknai sedekah dengan lebih luas, ia bukan hanya sekedar membantu sesaat tetapi bisa menjadi solusi dalam kurangnya kesejahteraan sosial bagi masyarakat dan juga bisa menjadi bekal besar kita di akhirat kelak.
Cara Mengoptimalkan Sedekah
Ada beberapa cara yang bis kita lakukan untuk menyalurkan atau memberikan sedekah agar apa yang kita berikan tidak hilang atau habis dalam sekejap sehingga menjadi bantuan jangka panjang :
Salurkan lewat lembaga pengelola sedekah
Menyalurkan sedekah lewat lembaga yang terpercaya bisa menjadi bantuan jangka panjang bagi masyarakat. Karna biasanya lembaga pengelola sedekah memiliki program kerja yang lebih jelas, misalnya bantuan dana pendidikan, bantuan pengusaha, bantuan perjalanan bagi musafir maupun bantuan kesehatan. Dengan begitu sedekah yang kita berikan baik jumlahnya sedikit ataupun banyak akan terpakai dengan jelas dan tidak tercecer.
Fokus kepada pemberdayaan
Memberikan sedekah tidak terbatas sampai kepada pengemis di jalan saja tetapi kita juga bisa membantu dalam pemberdayaan terkhusus misalnya, memberikan modal kepada pengusaha-pengusaha kecil, membelikan peralatan kerja, dan pelatihan keterampilan. Sehingga mereka tidak terus bergantung terhadap bantuan tapi akan bangkit bahkan dapat membantu orang lain.
Upaya jangka panjang
Jika kita ingin melihat dampak jangka panjang sedekah yang kita berikan akan berkesinambungan. Bukan hanya secara instan tapi menjadi bekal dimasa depan yaitu dengan cara menyalurkan bantuan sedekah berupa bantuan pendidikan kepada anak yatim, bantuan kesehatan gratis dan pelatihan keterampilan kerja bagi pemuda pemudi.
Menggunakan teknologi
Kita hidup di zaman modern atau era digital, teknologi banyak berperan penting salah satunya dapat membantu kita dalam menyalurkan sedekah, banyak platform aplikasi yang menyediakan layanan sedekah secara cepat, instan dan teratur. Donatur dapat memilih jenis bantuan yang ingin diberikan misalnya bantuan kesehatan, bantuan pendidikan, bantuan bencana dan bantun mesjid. Dan laporan bantuan dapat dipantau sehingga kita lebih tenang dan percaya.
.
Manfaat melakukan sedekah
Ketika kita melakukan sedekah banyak sekali manfaat luar biasa yang bisa kita lihat misalnya, orang yang miskin dapat buka usaha kecil-kecilan, anak-anak kurang mampu dapat melanjutkan pendidikan, banyak fasilitas umum bisa kita gunakan. Sedekah pun berubah dari yang hanya memberi bantuan menjadi manfaat bagi sosial serta menciptakan senyuman di kalangan masyarakat.
ARTIKEL23/09/2025 | Aqsa (mahasiswa UIN Alauddin Makassar)
Amalan Sebelum Tidur Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW
Amalan sebelum tidur yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW dapat membantu kita mendapatkan tidur yang berkualitas, ketenangan jiwa, dan keberkahan hidup. Berikut beberapa amalan yang dianjurkan:
.
Amalan Sebelum Tidur
.
Membaca Doa Sebelum Tidur
"Allahumma bismika ahya wa bismika amut" yang artinya "Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati" (HR. Bukhari).
Doa lain yang dapat dibaca adalah "Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa" yang berarti "Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati".
.
Berwudhu Sebelum Tidur
Berwudhu sebelum tidur dapat membersihkan tubuh dari hadas kecil dan memberikan rasa tenang.
Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu hendak tidur, maka berwudhulah seperti wudhumu untuk salat" (HR. Bukhari dan Muslim).
.
Tidur di Sisi Kanan
Tidur dengan posisi miring ke kanan dapat melancarkan pernapasan dan menjaga fungsi organ tubuh. Rasulullah SAW bersabda, "Berbaringlah pada sisi kananmu" (HR. Bukhari).
.
Membersihkan Tempat Tidur
Membersihkan tempat tidur sebelum tidur dapat dilakukan dengan mengibaskan kain sambil mengucapkan "Bismillah". Rasulullah SAW mengajarkan untuk membersihkan tempat tidur sebelum digunakan (HR. Bukhari dan Muslim).
.
Membaca Surah Al-Mulk dan Ayat Kursi
Membaca Surah Al-Mulk dapat melindungi dari siksa kubur, sedangkan membaca Ayat Kursi dapat memberikan perlindungan dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, "Surah Al-Mulk adalah pelindung dari siksa kubur" (HR. Tirmidzi).
.
Membaca Tiga Surat Pendek
Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum tidur dapat memberikan ketenangan dan perlindungan. Rasulullah SAW selalu membaca ketiga surah ini sebelum tidur (HR. Bukhari No. 5017).
.
Mengingat Allah dengan Zikir
Berdzikir sebelum tidur dapat menenangkan hati dan memberikan ketenangan.
Contoh zikir yang dapat dibaca adalah "Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar".
.
Mengatur Niat untuk Shalat Subuh
Mengatur niat untuk bangun tepat waktu untuk melaksanakan shalat Subuh dapat membantu kita mendapatkan pahala dan keberkahan.
.
Memperbanyak Istighfar
Memperbanyak istighfar sebelum tidur dapat membantu kita memohon ampun kepada Allah SWT dan mendapatkan ketenangan jiwa.
.
Dengan mengamalkan amalan-amalan ini, kita dapat mendapatkan tidur yang berkualitas, ketenangan jiwa, dan keberkahan hidup. Selain itu, kita juga dapat meningkatkan kualitas hidup kita sebagai hamba-Nya dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
ARTIKEL22/09/2025 | Badal Awan
Tips Mengelola Penghasilan Bulanan
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut untuk masing-masing item dalam tips mengelola gaji yang memuat sedekah:
.
1. Tentukan Prioritas dan Anggaran
Tentukan apa yang paling penting untuk Anda dan keluarga, seperti kebutuhan pokok, tagihan, dan kebutuhan sekunder.
Buat rencana keuangan bulanan yang mencakup semua kebutuhan dan prioritas Anda. Pastikan untuk memasukkan sedekah sebagai bagian dari anggaran Anda.
.
2. Alokasikan Dana Sedekah
Sisihkan dana untuk sedekah sebagai bagian dari anggaran Anda. Anda dapat menentukan persentase tertentu dari penghasilan Anda untuk disedekahkan.
Pastikan sedekah menjadi prioritas dalam anggaran Anda, sehingga Anda tidak lupa untuk menyisihkan dana untuk sedekah.
.
3. Kontrol Pengeluaran
Catat setiap pengeluaran Anda untuk memantau dan mengontrol keuangan. Ini akan membantu Anda mengidentifikasi area penghematan dan membuat keputusan keuangan yang lebih bijak.
Evaluasi pengeluaran bulanan Anda untuk memastikan bahwa Anda tidak melebihi anggaran yang telah ditentukan.
.
4. Investasi dan Tabungan
Sisihkan dana untuk investasi yang menguntungkan dan sesuai dengan profil risiko Anda. Investasi dapat membantu Anda mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Sisihkan dana untuk tabungan guna mencapai tujuan keuangan jangka pendek dan panjang. Tabungan dapat membantu Anda menghadapi kebutuhan keuangan yang tidak terduga.
.
5. Sedekah sebagai Bagian dari Keuangan
Sedekah bukan hanya tentang memberi uang, tapi juga tentang membantu orang lain. Anda dapat menyisihkan waktu dan sumber daya untuk membantu orang lain.
Sedekah dapat membantu Anda merasa lebih bahagia dan puas, serta membantu orang lain yang membutuhkan.
.
6. Manfaatkan Teknologi
Gunakan aplikasi keuangan untuk memantau pengeluaran dan mengelola anggaran. Aplikasi keuangan dapat membantu Anda membuat keputusan keuangan yang lebih bijak.
Manfaatkan fitur pengingat tagihan untuk membayar tagihan tepat waktu dan menghindari keterlambatan.
.
Dengan memahami dan menerapkan item-item di atas, Anda dapat mengelola gaji dengan bijak dan memasukkan sedekah sebagai bagian dari keuangan Anda.
ARTIKEL22/09/2025 | Badal Awan
Perhatian Rasulullah kepada umatnya
Rasulullah Jadi Manusia Pertama yg Dibangkitkan dari Kubur
Disebutkan dalam sebuah hadits, dari pamannya Abbas ra, bahwa Rasulullah bersabda: " Orang yg pertama kali dibangkitkan dari kubur di hari kiamat nanti adalah Muhammad. Saat itu, malaikat Jibril datang ke hadapan Rasulullah dengan membawa kendaraan buraq. Lalu, malaikat Israfil membawa bendera & mahkota kemuliaan, sedangkan malaikat Izrail datang dengan membawa pakaian kemuliaan.
|
Israfil berkata "Wahai Roh yg baik, kembalilah ke tubuh yg baik" , maka kubur terbelah 2. Pada seruan yg kedua pula, kubur mulai terbongkar.
Pada seruan yg ketiga, ketika Rasulullah berdiri, Sang Nabi Muhammad membersihkan tanah dari atas kepala & janggutnya. Kemudian dilihatnya kondisi di sekitar yg sudah rata dengan tanah. Nabi Muhammad kemudian menangis sehingga mengalir air mata ke pipinya.
Beliau bersabda, "Kekasihku Jibril, gembirakanlah aku". Jibril berkata, "Lihatlah apa yg ada di hadapanmu". Rasulullah bersabda, "Bukan seperti itu pertanyaanku". Jibril kembali berkata "Adakah kau tidak melihat bendera puji²an yg terpasang di atasnya".
|
Rasulullah bersabda, "Bukan itu maksud pertanyaanku, aku bertanya kepadamu akan umatku. Di mana umatku bagaimana keadaannya umatku bagaimana perjanjian mereka? Niscaya akan kuatlah pertolongan pada hari ini. Aku akan mensyafa'atkan umatku".
|
Rasulullah Beri Syafa'at di Padang Mahsyar
Rasulullah menjadi satu²ya Nabi yg menyanggupi permintaan dari para mukmin untuk memberikan syafa'at. Bahkan, ketika sudah berada di dalam surga sekalipun, beliau Rasulullah masih sibuk memikirkan umatnya dengan terus memohon kepada Allah agar bisa menolong umatnya dengan mengeluarkan umatnya dari dalam neraka apabila sudah ada ketentuan takdir dari Allah SWT umatnya Rasulullah di izinkan untuk bisa dikeluarkan dari dalam neraka.
|
Hal ini bukan sebuah kebetulan, Rasulullah memang Rasul yg sangat sayang sekali kepada umatnya yg selalu memperhatikan keselamatan para umatnya.
Bahkan saat diberikan pilihan oleh Allah, antara memilih separuh umatnya masuk surga dengan syafa'at, maka Rasulullah memilih syafa'at. Sebab cakupan syafa'at lebih luas & menjadi hak setiap muslim yg beriman.
|
Diungkapkan dalam sebuah hadits beliau bersabda. "Apakah kalian tahu apa yg dipilihkan Tuhanku malam ini?" Para sahabat menjawab, "Allah & Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau melanjutkan, "Sesungguhnya DIA ALLAH memberi pilihan kepadaku antara separuh umatku masuk surga dengan syafaat, maka aku memilih syafaat,"
(HR Thabrani).
|
Bahkan, ketika Nabi lain menggunakan doa mustajabnya untuk di dunia, Rasulullah mempersiapkan doa mustajab untuk mensyafaati umatnya. Sebagaimana dalam hadits berikut:
"Setiap Nabi memiliki doa mustajab yg dapat dipergunakannya. Namun, aku ingin menyimpan doa (mustajab)-ku untuk memberi syafaat kepada umatku di akhirat,"
(HR Bukhari).
|
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya beban penderitaanmu (umatnya), sangat menginginkan (keimanan & keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang² mukmin.
Surah At Taubah ayat 128
|
Inilah sifat sayangnya dan cintanya Rasulullah kepada umatnya yg sungguh sangat tidak tega melihat umatnya mendapatkan penderitaan dari adzab Allah SWT didunia kita yg di ingat sewaktu Rasulullah diakhir sakaratul mautnya dengan berkata ummati ummati ummati bahkan sampai di akhiratpun Rasulullah sangat sibuk memperhatikan & memperjuangkan umatnya dengan menyelamatkan umatnya.
ARTIKEL21/09/2025 | Humas BAZNAS Kota Makassar
Rukun Islam
Rukun Islam adalah lima pilar dasar amalan lahiriah umat Muslim yang wajib dijalankan: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa Ramadan, dan Haji bagi yang mampu. Rukun-rukun ini menjadi fondasi kehidupan seorang Muslim untuk mencapai ridho Allah SWT dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kesempurnaan iman.
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai kelima rukun Islam:
1. Syahadat:
Mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu "Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah," yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah".
2. Shalat:
Mendirikan shalat lima waktu setiap hari sebagai bentuk ibadah dan komunikasi langsung dengan Allah SWT.
3. Zakat
Menunaikan zakat, yaitu mengeluarkan sebagian harta yang wajib diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya (mustahik), yang menunjukkan kepedulian dan empati kepada sesama.
4. Puasa Ramadan
Berpuasa sebulan penuh di bulan suci Ramadan untuk melatih diri, mengendalikan hawa nafsu, dan meningkatkan kedekatan dengan Allah.
5. Haji
Menunaikan ibadah haji ke Baitullah di Mekah bagi umat Islam yang mampu, baik secara fisik maupun finansial, sebagai bentuk penyempurnaan amalan dan perjalanan spiritual.
ARTIKEL18/09/2025 | Badal Awan

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Makasar.
Lihat Daftar Rekening →