WhatsApp Icon

Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (1). Awal Ramadhan, Akhirnya Kita Berbeda Lagi

19/02/2026  |  Penulis: HM.Ashar Tamanggong

Bagikan:URL telah tercopy
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (1). Awal Ramadhan, Akhirnya Kita Berbeda Lagi

HM.Ashar Tamanggong Ketua BAZNAS Makassar

Setiap tahun, menjelang Ramadhan, ada satu pertanyaan sakral yang lebih viral dari promo sirup dan diskon kurma: “Mulai kapan puasanya?”

Sebagian sudah tarawih tadi malam . Sebagian lagi masih santai sambil berkata, “Tunggu pengumuman resmi.” Ada yang sudah pasang status “Marhaban ya Ramadhan,” ada yang masih update, “Besok masih makan siang, ya.”

Begitulah kita. Umat yang besar. Saking besarnya, masuk bulan yang sama saja kadang beda pintu.

Padahal Ramadhan itu satu. Bulannya satu. Qur’annya satu. Tuhannya satu. Tapi cara masuknya… bisa dua bahkan tiga.

Lucunya, yang belum tentu shalat Subuh berjamaah, tiba-tiba jadi pakar rukyat dan hisab. Yang biasanya tidak pernah ke masjid kecuali Idul Fitri, mendadak ahli astronomi dadakan. Timeline penuh analisis hilal. Seakan-akan NASA saja perlu konfirmasi ke grup WhatsApp keluarga.

Di sinilah kadang kita lupa: Ramadhan bukan lomba siapa paling cepat masuk. Juga bukan kompetisi siapa paling benar memulai.

Ramadhan itu bukan soal tanggal. Ramadhan itu soal hati. Kalau hati kita belum siap, mau mulai hari ini atau besok, tetap saja kosong.

Kalau hati kita masih penuh dendam, beda sehari pun tidak akan membuatnya bersih. Kalau hati kita masih pelit, beda metode tidak akan membuatnya dermawan.

Kita ini kadang lucu. Untuk beda awal Ramadhan saja bisa panas. Tapi untuk beda pendapat dalam rumah tangga, kita diam saja sambil simpan bom waktu.

Padahal yang lebih berbahaya bukan beda mulai puasanya. Yang lebih berbahaya adalah sama-sama masuk Ramadhan, tapi tidak ada yang benar-benar masuk ke dalam jiwa.

Ada yang mulai hari ini, tapi niatnya masih setengah. Ada yang mulai besok, tapi hatinya masih dengki.

Allah tidak pernah bertanya, “Kamu mulai tanggal berapa?” Yang ditanya nanti: “Apa yang kamu lakukan selama Ramadhan?”

Kalau kita jujur, problem kita bukan beda awal. Problem kita adalah beda niat. Sebagian masuk Ramadhan dengan niat kurus. Sebagian lagi niat balas dendam makan saat buka. Sebagian niat konten.

Sebagian niat pamer ibadah. Jarang sekali yang masuk dengan niat: “Ya Allah, ini mungkin Ramadhan terakhirku.”

Setiap tahun kita ribut soal hilal. Tapi jarang merenung: umur kita ini sudah di ujung mana? Jangan-jangan ini Ramadhan terakhir, tapi kita malah sibuk debat awalannya. Bayangkan nanti di kubur, malaikat tidak akan bertanya, “Kamu ikut yang mana?”

Yang ditanya: “Puasa kamu bagaimana? Shalat kamu bagaimana? Zakat kamu bagaimana?” Beda awal tidak pernah membatalkan pahala. Tapi hati yang sombong bisa menghapusnya.

Yang mulai duluan jangan merasa lebih suci. Yang mulai belakangan jangan merasa paling benar. Karena Ramadhan bukan tentang siapa paling cepat. Ramadhan tentang siapa paling taat. Kalau kita mau jujur lagi, beda awal Ramadhan itu cuma satu hari. Tapi beda akhlak bisa seumur hidup.

Lucu ya… Untuk beda satu hari kita bisa panjang diskusi. Untuk beda akhlak kita sering tidak peduli. Ada yang puasanya duluan, tapi lisannya tetap tajam. Ada yang puasanya belakangan, tapi hatinya sok suci. Kira-kira Allah lebih melihat yang mana?

Ramadhan itu sekolah. Dan sekolah tidak pernah bertanya, “Kamu masuk lewat gerbang mana?” Yang ditanya adalah, “Nilaimu berapa?”

Nilai sabar. Nilai ikhlas. Nilai sedekah. Nilai menahan marah. Kalau beda awal membuat kita saling mencela, berarti kita belum paham tujuan puasa. Puasa itu latihan menahan diri. Termasuk menahan diri untuk tidak merasa paling benar.

Saya membayangkan Allah tersenyum melihat hamba-hamba-Nya. Ada yang sudah sahur. Ada yang masih tidur nyenyak. Tapi Allah tahu siapa yang benar-benar rindu.

Karena yang paling penting bukan tanggal di kalender. Tapi getar di dada. Mau mulai hari ini atau besok, pertanyaannya cuma satu: Apakah kita benar-benar ingin berubah? Atau Ramadhan hanya jadi ritual tahunan? Datang, ramai, lalu pergi tanpa bekas.

Jangan sampai kita ini seperti orang yang ribut memilih pintu masuk masjid, tapi setelah masuk malah tidur. Ramadhan itu bukan soal masuknya. Tapi apa yang kita lakukan setelah masuk. Kalau kita berbeda memulainya, jangan berbeda dalam persaudaraan. Kalau kita berbeda metodenya, jangan berbeda dalam doanya.

Karena di malam pertama itu, di antara takbir dan doa, semua hati sebenarnya sama: berharap ampunan. Dan mungkin, justru perbedaan ini mengajarkan satu hal penting:

Bahwa persatuan itu bukan berarti seragam. Persatuan itu tetap saling menghormati walau tidak sama. Akhirnya, mari kita jujur pada diri sendiri.

Beda awal Ramadhan itu biasa. Yang luar biasa adalah kalau kita bisa keluar dari Ramadhan dalam keadaan berbeda—lebih baik, lebih lembut, lebih dermawan, lebih dekat kepada Allah.

Kalau setelah sebulan kita masih sama saja… Nah itu baru masalah besar. Jadi, mau mulai hari ini atau besok, pastikan kita mulai dengan hati yang bersih. Karena bisa jadi… Ini Ramadhan terakhir kita.

Dan alangkah ruginya kalau Ramadhan terakhir kita dihabiskan untuk debat tanggal, bukan memperbaiki akhlak. Selamat memasuki Ramadhan—kapan pun kita memulainya. Yang penting, jangan hanya berbeda di awal. Berbedalah dalam kualitas takwa. Wallahu A'lam. (KULTUM--Kuliah Terserah Antum--Graha Anisa Permai, 30 Sya’ban / 1 Ramadhan 1447 H)

Bagikan:URL telah tercopy
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat