Berita Terbaru
Langkah Kolaboratif BAZNAS Makassar dan Satpol-PP
Di tengah dinamika Kota Makassar yang terus berkembang, sebuah langkah kolaboratif yang sejuk dan penuh berkah terjalin antara BAZNAS Kota Makassar dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP). Langkah kolaboratif ini terjalin melalui silaturahmi hangat, di ruang Kepala Satpol-PP, Kamis, 27 Agustus 2026.
Pimpinan BAZNAS Kota Makassar masing masing H. Yusran Sofyan, Abdul Azis Ilyas, dan H. Ahyar Amnur—masing Ketua I, II, dan III bersilaturahmi dengan Kasatpol-PP diwakili Sekretaris--Muhammad Ari Fadli, S.STP, didampingi Kabag Kepegawaian--Andi Muliadi, dan Kabag Keuanga--Syafril.
Kolaborasi BAZNAS Makassar dan Satpol PP ini mengirimkan pesan positif bahwa, membangun kota tidak hanya soal infrastruktur dan ketertiban fisik semata, melainkan juga tentang merawat kepedulian sosial, dan membangun ketahanan ekonomi umat yang kuat.
Salah satu harapan BAZNAS Makassar, Satpol PP yang kesehariannya bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan sosial di jalanan—seperti penertiban pedagang kaki lima, atau penyandang masalah kesejahteraan sosial lainnya, kini memiliki jembatan langsung untuk membantu mereka melalui program-program strategis BAZNAS.
Hal lain yang mengemuka dalam silaturahmi itu menyangkut penguatan sinkronisasi ulang data muzakki aparatur lingkup Satpol PP beragama Islam untuk ber-zakat, infak, atau sedekah (ZIS), melalui sistem payroll.
Jika payroll sistem ini berjalan baik, maka azas manfaat ZIS bagi mustahik yang berada di bawah garis kemiskinan ekstrem seperti himbauan Walikota Makassar, Munafri Arifuddin dapat terlaksana baik. Terutama program Makassar Cerdas (bantuan pendidikan bagi keluarga kurang mampu), Makassar Makmur (pemberdayaan ekonomi mustahik, melalui bantuan modal usaha), Makassar Peduli (bantuan kemanusiaan bagi fakir, miskin), Makassar Sehat (layanan kesehatan dan pengobatan bagi masyarakat yang membutuhkan), serta Makassar Taqwa (kegiatan dakwah dan advokasi keagamaan).
Baik Yusran Sofyan, Abdul Azis Ilyas, maupun H.Ahyar Amnur juga sama sama mengapresiasi peran strategis Satpol PP. Pasalnya, jajaran Satpol PP selalu berada di garda terdepan penegak peraturan daerah (Perda), penjaga ketertiban, dan pemelihara keamanan kota. Namun, di balik seragam khaki, dan ketegasan mereka, terpatri potensi besar sebagai ‘motor’ kebaikan.
Sementara, Muhammad Ari Fadli, Andi Muliadi, dan Kabag Keuangan Syafril sama sama menyatakan dukungan kepada BAZNAS Makassar, sekaligus segera mendata kembali jajaran personil Satpol-PP, karena sudah ada yang berpindah tugas, dan ada personil baru.
BERITA27/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Anaknya Disunat Gratis, Penjual Kue Berterima Kasih ke BAZNAS Makassar
Di antara 71 anak keluarga dhuafa yang disunat gratis, tampak Muh Fadli, seorang bocah ditemani ibunya Fitrianti, berjalan dengan cara yang sedikit kaku—agak mengangkang. Namun, wajahnya berseri-seri, memancarkan kelegaan dan kebanggaan luar biasa.
Fitrianti, single parent yang tinggal di Jalan Adyaksa Baru ini mengaku bangga dengan BAZNAS Kota Makassar. Pasalnya, lembaga pemerintah nonstruktural ini membantu dirinya, lantaran tidak memikirkan dari mana meminjam uang untuk kebutuhan sunat anaknya.
"Saya tidak tahu harus bilang apa kepada BAZNAS Makassar. Kalau bukan karena program gratis ini, entah kapan saya bisa sunatkan anak saya. Jualan kue saya pas-pasan, buat makan saja kadang tak cukup. Terima kasih banyak kepada para muzaki yang sudah bayar zakat melalui BAZNAS Makassar. Semoga rezekinya dilipatgandakan dan semua pengurusnya selalu diberkahi Allah," tutur Fitrianti sambil sesekali mengedipkan mata akibat satu butiran air matanya.
“Dan, hari ini BAZNAS Makassar memberi saya dan anak saya ini ‘hadiah’ besar dalam hal menjalankan kewajiban agama. Anak saya disunat gratis, dan saya tidak lagi memikirkan biayanya yang cukup besar,” tuturnya lagi.
Menurut perempuan kelahiran 1986 ini, sunatan gratis oleh BAZNAS Makassar ini, memberikan ketenangan yang luar biasa. Dengan mata berkaca kaca, dia juga menceritakan hampir saja anaknya tidak jadi mengikuti sunatan gratis ini lantaran dari rumahnya ke lokasi di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Awwalul Islam Makassar, Jalan Tol Ir Sutami begitu jauh, sehingga butuh biaya lumayan.
“Lantaran tidak ada biaya ke lokasi sunatan, makanya tadi pagi, saya sudah sampaikan ke BAZNAS tidak jadi Fadli di sunat. Tetapi, saya bersyukur karena ada orang BAZNAS yang siap membayar biaya greb. Jadi bantuan BAZNAS memang besar. Saya tidak bisa berkata apa apa, kecuali menyampaikan terima kasih,” tutupnya.
Wakil Ketua II BAZNAS Makassar, Dr. Abdul Azis Ilyas, MH mengaku, kisah Fitriani dan anaknya Muh. Fadli adalah satu dari ribuan narasi sunyi tentang bagaimana zakat, infak, dan sedekah yang dikelola dengan amanah mampu menenangkan kegelisahan di kalangan bawah.
Di tangan BAZNAS Makassar, dana umat tidak semata angka di atas kertas laporan, tetapi menjadi jembatan kelegaan, mengembalikan senyum seorang ibu, dan membiarkan seorang anak menatap masa depannya dengan rasa percaya diri yang utuh.
Menyinggung ucapan terima kasih dari Fitrianti, Abdul Azis Ilyas menyebut, sebenarnya yang memiliki jasa besar adalah para ASN dan guru guru muslim dari Pemkot Makassar yang memberikan amanah dan kepercayaan kepada BAZNAS Makassar melalui donasi setiap bulannya. Donasi lainnya berasal dari karyawan, baik dari Perusda Perusda lingkup Pemot Makkassar, serta dari UPZ UPZ baik dari instansi pemerintan maupun swasta termasuk UPZ masjid.
BERITA26/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Semangati Kemerdekaan RI ke-81, BAZNAS Makassar Sunat Gratis Anak Keluarga Dhuafa
BAZNAS Kota Makassar gandeng Muhammadiyah Boarding School (MBS) Awwalul Islam Makassar, Jalan Tol Ir Sutami, menggelar sunatan anak keluarga dhuafa. Sunatan gratis bagi 71 anak ini tidak semata sekaitan pelaksanaan HUT Kemerdekaan ke-81 tahun, melainkan menunjukan kuatnya semangat kebersamaan dan gotong royong antara lembaga keagamaan dan sosial dalam mewujudkan kemaslahatan ummat, menorehkan kisah hangat yang menggetarkan hati, sekaligus hajatan begitu MULIA.
Wakil Ketua II BAZNAS Kota Makassar, Dr. Abdul Azis Ilyas, MH didampingi tim BAZNAS dan mahasiswa PKL Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Rabu, 26 Agustus mengemukakan, bagi masyarakat berada, sunatan hanyalah ritual kesehatan anak, namun bagi keluarga dhuafa, biaya sunat, menjadi beban finansial cukup berat.
“Di sinilah kehadiran BAZNAS sebagai lembaga zakat, menjelma menjadi oase di padang pasir bagi keluarga dhuafa,” ujarnya, seraya mengaku sunat bukan hanya soal kebersihan dan kesehatan organ reproduksi semata, melainkan sekaligus bagian dari fitrah dan syariat yang menandai langkah awal seorang anak laki-laki menuju baligh.
Menurutnya, BAZNAS Makassar, dengan amanah sebagai pengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS), terus membuktikan bahwa setiap rupiah yang dititipkan umat disalurkan tepat sasaran. Dan, tak kalah penting, kehadiran BAZNAS Makassar selalu ber-DAMPAK bagi ummat.
Menyinggung asal dana sunatan gratis, Abdul Azis Ilyas menyebut, berasal dari donasi ASN dan guru guru muslim Pemkot Makassar yang memberikan amanah kepada BAZNAS. Donasi dari UPZ UPZ baik dari instansi pemerintan maupun swasta termasuk masjid.
“Kita ketahui bersama bahwa, sebenarnya biaya setiap sunatan, apalagi menggunakan laser agak mahal, sekitaran dua juta rupiah. Hanya saja, sunatan melalui BAZNAS semuanya gratis. Malah, peserta juga diberi sarung, dan uang tunai pengganti transpor ke lokasi sunatan,” tuturnya.
Terpisah, Fitrianti, orang tua Muh. Fadli-- salah seorang anak yang disunat mengapresiasi BAZNAS Makassar yang telah melakukan program sunatan gratis ini. Penjual kue keliling di Jalan Adyaksa Baru ini, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan betapa sudah lama menunda rencana menyunat anaknya karena penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari.
“Bagi kami yang kurang berada ini, sunatan gratis oleh BAZNAS Makassar ini, memberikan ketenangan yang luar biasa. Anak ini sudah pisah dari bapaknya lebih setahun lalu. Sementara saya menjual kue keliling untuk menghidupi enam anak yang masih kecil kecil. Dan, alhamdulillah, tidak ada kata lain kecuali, terima kasih BAZNAS. Saya tidak perlu pusing memikirkan biaya lagi. Anak saya sekarang sudah jadi 'lelaki sejati' tanpa harus membuat dapur tidak ngebul," ujarnya penuh haru.
BERITA26/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Waka III BAZNAS Makassar : Koperasi bagi Mustahik Sangat MULIA
Siklus zakat yang ideal bukanlah mempertahankan mustahik selamanya dalam daftar penerima bantuan, melainkan menyiapkan mereka dengan program pemberdayaan. Koperasi mustahik misalnya.
Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Pelaporan, dan Keuangan BAZNAS Kota Makassar, H. Ahyar Amnur di sela sela kunjungan silaturrahim kepada Pimpinan BAZNAS RI, Rabu, 19 Agustus mengemukakan, usai bertemu Ketua BAZNAS-RI (Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc), serta Direktur Pendayagunaan serta Direktur Pendayagunaan, Layanan UPZ, dan CSR (Eka Budhi Sulistyo, S.Pt., M.A.P), mengaku mendapat sambutan positif.
Kepada H. Ahyar Amnur, Eka Budhi Sulistyo, di antaranya meminta BAZNAS Makassar membentuk koperasi untuk pendayagunaan program pemberdayaan ekonomi. Utamanya ekonomi bagi mustahik, fakir miskin dan microfinance untuk komunitas UPZ masjid, majelis taklim, dan komunitas usaha lainnya. Tujuannya membantu modal usaha, mengurangi kemiskinan, dan menghindari rentenir.
“Koperasi ini bisa bersinergi dengan BAZNAS-RI. Tentunya dengan program program pemberdayaan ekonomi di antaranya Z-Chiken, Z- Coffe, Z-Mart, Z-Laundry, Rumah Kemasan, dan lainnya. Program ini tentunya merupakan peluang untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, ekonomi musthaik. Program ini bakal menjadikan mustahik menjadi munfiq, atau jangka panjang bisa menjadi muzakki,” tutur Ahyar Amnur melalui telepon celuler malam ini.
Sebelum menutup telepon celulernya, Ahyar mengaku, koperasi bagi mustahik dalam pandangan BAZNAS merupakan manifesto tentang harapan dan keadilan sosial. Program ini adalah bukti, betapa zakat, infak, dan sedekah, ketika dikelola secara profesional, modern, dan berbasis komunitas, mampu menjadi kekuatan dahsyat, ber-DAMPAK dan menggerakkan roda ekonomi dari bawah.
“Koperasi mustahik ini begitu MULIA. Koperasi ini bukan sekadar menyimpan uang, melainkan tempat di mana martabat kemanusiaan ditegakkan. Satu rupiah dan satu anggota pada satu waktu. Dan, ketika usaha mereka mapan dan berkembang, mereka yang dulunya datang dengan membawa tangan menengadah untuk meminta zakat, perlahan-lahan akan keluar dari pintu koperasi sebagai seorang muzakki baru,” tutupnya.
BERITA20/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
BAZNAS Makassar Serahkan Beasiswa bagi Chairil Azwar, Penghafal Al-Quran 30 Juz
Di tengah hiruk-pikuk Kota Makassar yang dinamis, ada sebuah denyut ketenangan bersemayam di dada Chairil Azwar. Di usia masih muda, pria kelahiran Makassar 18 Juni 2007 ini sudah menghafal Al-Qur’an, 30 juz.
Sulung dari dua bersaudara berlatar belakang keluarga sederhana ini, apalagi dipelihara ibunya yang single parent—orang tua tunggal. Meski begitu, Chairil Azwar yang memiliki potensi luar biasa dalam penguasaan ilmu agama itu kepingin melanjutkan kuliah demi masa depannya yang lebih baik. Namun di sisi lain, bayang-bayang biaya pendidikan kerap menjadi batu sandungan, apakah mampu menyelesiakan jenjang strata satu di kampus UIN Alauddin Makassar atau tidak.
Di tengah tengah kegalauan itu, BAZNAS Kota Makassar hadir. Bagi lembaga amil amanah dan terpercaya ini, Chairil Azwar adalah huffazh—anak-anak muda, remaja, hingga dewasa yang mendedikasikan usia emasnya untuk menghafal dan menjaga keutuhan 30 juz firman Allah SWT.
Wakil Ketua I BAZNAS Kota Makassar, Yusran Sofyan, SE, S.Kom, M.Si, Rabu, 19 Agustus kemarin, bersama tim mendatangi warga Jalan Tinumbu lorong 165 AA No 275, Kelurahan Lembo, Kecamatan Tallo itu. Tujuannya, menyerahkan bantuan beasiswa kepada Chairil yang juga salah satu imam masjid di Tallo. Di sela sela penyerahan bantuan, Yusran Sofyan mengemukakan, uluran tangan untuk pembayaran SPP dari BAZNAS Makassar nantinya hingga menyelesiakan studi S1-nya.
Langkah strategis yang dilakukan BAZNAS Makassar, demikian Yusran Sofyan, tidak semata soal menyerahkan bantuan finansial, melainkan apresiasi dari umat Islam di kota yang kini dipimpin Walikota Munafri Arifuddin dan Wakil Walikota Aliyah Mustika Ilham ini, melalui dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS).
“Di sinilah BAZNAS Makassar hadir sebagai peneguh harapan. Bantuan pendidikan yang disalurkan dirancang agar para huffazh ini tidak perlu lagi cemas memikirkan SPP selama ber-kuliah. Kita harapkan agar Chairil Azwar fokus sepenuhnya untuk menjaga hafalan (muraja'ah) sekaligus mengejar prestasi akademik di institusi formal,” tutup magister Universitas Bosowa Makassar 2016 ini.
Usai menerima bantuan, Chairil Azwar dengan mata berbinar, mengemukakan, bantuan yang diberikan BAZNAS Makassar merupakan langkah begitu MULIA, sekaligus menjadi inspirasi baginya untuk terus me-MULIA-kan Al-Qur'an.
“Saya berterima kasih kepada para muzakki, utamanya dari ASN muslim, para guru, termasuk lembaga lembaga pemerintan Pemkot Makassar, dari orang perorang, hingga dari UPZ UPZ masjid, dan masyakat muslim lainnya yang memberikan ZIS melalui BAZNAS Makassar, sehingga saya bisa terbantu,” ujarnya.
BERITA20/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
BAZNAS Makassar Bantu Muh Al Indra Wahyudi, anak Tukang Cukur Kuliah di Taif University Arab Saudi
Ketua BAZNAS Kota Makassar, Dr. H. Usman Sofian, MA berharap, Muh. Al Indra Wahyudi selain nantinya akan menjadi cultural ambassador—duta bangsa, juga dapat belajar tentang moderasi beragama, kepemimpinan global, dan keluasan ilmu. Jika kelak, kembali ke Tanah Air, dia bukan hanya membawa ijazah, melainkan membawa obor pencerahan.
Harapan H. Usman Sofian itu di sela sela penyerahan bantuan bagi Muh Al Indra Wahyudi adalah salah satu dari sekian anak mustahik di Kota Makassar yang diberi bantuan tambahan biaya pendidikan keluar negeri. Bantuan ini sebagai penanda, BAZNAS Makassar menjelma menjadi jembatan baja yang menyeberangkan mimpi-mimpi anak muslim di kota yang kini dipimpin Walikota Munafri Arifuddin dan Wakil Walikota Aliyah Mustika Ilham baik di dalam, maupun hingga menembus batas geografis.
“Mungkin saja Muh Al Indra Wahyudi ini tadinya hanya bisa membaca kehebatan para ulama Timur Tengah dari halaman buku, namun kini dia berdiri sebagai mahasiswa resmi di kampus-kampus kelas dunia,” tuturnya.
Usman Sofian yang juga Sekretaris Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar ini menambahkan, seluruh bantuan yang dikeluarkan BAZNAS Makassar berasal dari Zakat, Infak, dan Sedekah kaum muslimin, termasuk di dalamnya para ASN, guru guru, orang orang kaya muslim, serta lembaga lembaga pemerintah lingkup Pemkot Makassar, dan UPZ UPZ masjid yang memberikan ZIS melalui BAZNAS Kota Makassar.
“Bantuan biaya pendidikan yang disalurkan BAZNAS Makassar, bukan sekadar urusan memberikan bantuan. Ini adalah manifestasi dari titipan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dari masyarakat muslim Kota Makassar yang disalurkan secara tepat guna dan tepat sasaran,” tutup Uso—sapaan akrab mantan Sekretaris dan ketua Tanfidziyah PC NU Kota Makassar ini.
Sementara itu, Indra—sapaan akrab Muh. Al Indra Wahyudi, akhirnya bernapas lega, setelah BAZNAS Kota Makassar, memberinya bantuan biaya tambahan pendidikan ke Arab Saudi. Penyerahan bantuan dilakukan ketua lembaga pemerintah nonstruktural itu, Dr. H. Usman Sofian, MA, Selasa, 18 Agustus 2026.
Setelah mendapat bantuan, bungsu dari lima bersaudara berdomisili di Jalan Pandang Pandang No 11, Kecamatan Panakkukang itu dalam waktu dekat terbang ke Arab Saudi untuk kuliah di Taif University. Di kampus negeri yang terletak di dataran tinggi pegunungan Sarawat, Kota Taif, Provinsi Mekkah itu, penghafal al-Qur’an 8 juz ini memilih program study Syariah.
Putera dari Kamsir Dg. Nappa--tukang cukur dalam Pasar Toddopuly mengaku bangga kepada BAZNAS Makassar yang telah menyelamatkan masa depannya berkuliah di tanah para nabi dan pencari ilmu dahulu menjejakkan kaki, guna membawa harapan baru baginya kelak.
“Bantuan dari BAZNAS Makassar ini adalah sebuah mimpi yang teramat sangat tinggi menjadi kenyataan. Terima kasih BAZNAS Makassar, terima kasih para Muzakki di Makassar, dan terima kasih ummat Islam yang telah memberi Zakat, Infak, dan Sedekah ke BAZNAS, sehingga membantu saya berkuliah di Arab Saudi,” tuturnya.
BERITA19/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Ubah Wajah Kesejahteraan Ummat, BAZNAS Makassar - Dinas Sosial Perkuat Data Tunggal
Setelah Pemerintah menghentikan praktik penumpukan dan duplikasi data penerima bantuan zakat di Indonesia melalui kolaborasi Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Agama, dan BAZNAS-RI melalui sistem Satu Data ZIS, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya (ZIS-DSKL), seperti tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) No 885 tahun 2026, maka Selasa, 18 Agustus Pimpinan BAZNAS Makassar melakukan silaturahmi ke Dinas Sosial Kota Makassar. Tujuan silaturahmi, memperkuat dan mendukung program melalu sumber data Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, atau DTSEN.
Ketua BAZNAS Kota Makassar, Dr. H. Usman Sofian, MA didampingi Wakil Ketua I (Yusran Sofyan, SE, S.Kom, M.Si), dan Wakil Ketua II ( Dr. Abdul Azis Ilyas, S.Ag, MH) di ruang Kadis Sosial H. Andi Bukti Djufrie, SP, M.Si, mengemukakan, selama ini terjadi tumpang tindih pemberian bantuan, baik oleh lembaga amil—BAZNAS dengan pemerintah. Karena itu, melalui Keputusan Menteri Agama No 885, diharapkan tidak akan terjadi lagi double-double data, terutama di dalam pemberdayaan
“ Dalam rangka mendukung program pemerintah dalam hal peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan, maka ke depan sumber data yang digunakan adalah DTSEN. Penggunaan sumber data ini agar pendistribusian zakat, infak, dan sedekah, serta penyaluran dana sosial keagamana lainnya, maupun pemberdayaan mustahik lebih transparan, akuntabel, lebih akurat, tepat sasaran,” ujarnya.
Sekretaris Forum Komunikasi Ummat Beragama (FKUB) Kota Makassar yang juga mantan Sekretaris dan Ketua Tanfidhziyah PC NU Kota Makassar itu berharap, penguatan KMA ini menjadi “bahasa universal” yang wajib digunakan bersama. Artinya, ketika BAZNAS ingin mendistribusikan zakat produktif atau bantuan darurat, dan Dinas Sosial hendak meluncurkan intervensi penanggulangan kemiskinan, acuan mereka adalah satu, data yang sama, valid, dan by name by address.
“Bagi BAZNAS, penggunaan data tunggal ini bukan semata urusan administrasi birokrasi, melainkan sebuah revolusi moral dalam amanah umat. Zakat dan dana sosial keagamaan adalah dana titipan yang harus sampai kepada tangan yang paling berhak, atau mereka yang disebut mustahik hakiki,” ujarnya seraya menambahkan, tidak akan lagi cerita mustahuik fiktif, atau distribusi yang salah alamat.
Bagi BAZNAS, ini adalah angin segar untuk mendongkrak efektivitas program pendayagunaan. Zakat tidak lagi hanya habis untuk konsumtif jangka pendek, tetapi dapat diarahkan secara strategis untuk mengentaskan kemiskinan secara permanen—seperti melalui modal usaha, beasiswa pendidikan, atau layanan kesehatan—karena profil mustahik telah dibaca secara komprehensif dalam sistem data tunggal.
Pernyataana senada dikemukakan Kadis Sosial H. Andi Bukti Djufrie, SP, M.Si. Mantan Sekwan Kota Makassar itu menambahkan, Dinas Sosial memiliki instrumen intervensi makro, sementara BAZNAS memiliki kekuatan filantropi umat. Ketika keduanya digabungkan menggunakan basis data yang sama, maka program pengentasan kemiskinan ekstrem dan stunting, misalnya, dapat dikeroyok bersama-sama.
BERITA18/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
BAZNAS dan Dinas Sosial Perkuat Program Pemkot Makassar
Di balik deru pembangunan infrastruktur dan gemerlapnya Kota Makassar, terselip sebuah ikatan kuat antara lembaga filantropi Islam, BAZNAS dengan Pemkot Makassar. Artinya, di bawah kepemimpinan yang progresif, BAZNAS Kota Makassar bertransformasi menjadi mitra strategis Pemkot Makassar, sekaligus menjadi tangan kanan pemerintah dalam mengurai benang kusut kemiskinan ekstrem dan ketimpangan sosial di ibukota Sulawesi Selatan ini.
Di bawah Pemerintah Kota Makassar yang kini dipimpin Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham, kota berpenduduk lebih 1,5 juta jiwa ini memiliki berbagai program pro-rakyat, mulai dari penguatan pengentasan kemiskinan ekstrem, hingga pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, anggaran yang disediakan pemerintah melalui APBD saja seringkali memiliki keterbatasan ruang gerak. Di sinilah BAZNAS hadir sebagai game-changer.
Demikian yang mengemuka saat pimpinan BAZNAS Kota Makassar masing masing Dr.H. Usman Sofian, MA (Ketua), Yusran Sofyan, SE, S.Kom, M.Si (Wakil Ketua I), dan Dr. Abdul Azis Ilyas, S.Ag, MH (Wakil Ketua II) bersilaturahmi dengan Kepala Dinas Sosial Kota Makassar H. Andi Bukti Djufrie,SP, M.Si, Selasa, 18 Agustus 2026. Hadir pula, Muh. Zuhur Dg.Ranca, S.STP (Kabid Rehabilitasi Sosial), Elyza, S.Sos (Kabid Pemberdayaan dan Restorasi Sosial), Ikhsan, S.Sos (Kabid Penanganan Bencana).
Dr.H. Usman Sofian mengemukakan, ketika BAZNAS Makassar memperkuat program Pemkot, maka yang diperkuat sebenarnya bukan hanya angka-angka statistik penurunan kemiskinan. Melainkan yang sedang dibangun adalah kehangatan sosial, rasa aman di hati para mustahik, dan sebuah keyakinan bahwa, tidak ada warga yang dibiarkan berjuang sendirian.
Untuk maksud itu, demikian Sekretaris FKUB Kota Makassar ini, sinergi dengan Pemkot Makassar, di antaranya Dinas Sosial Kota Makassar adalah bukti, bahwa kolaborasi antara birokrasi yang cekatan dan filantropi yang amanah, mampu melahirkan sebuah harmoni sosial, sehingga kota ini selain menjadi Makassar yang maju kotanya, bahagia warganya, dan berkah hidupnya, juga kota yuang solid, amanah, dan ber-DAMPAK.
Kadis Sosial Andi Bukti Djufrie mengemukakan, sebagai garda terdepan Pemerintah Kota Makassar, maka dinas yang dipimpinnya seringkali memikirkan keterbatasan anggaran. Sementara itu, kebutuhan sosial masyarakat sangat dinamis dan seringkali bersifat darurat. Dalam konteks inilah, BAZNAS Kota Makassar menjadi "napas buatan" yang sangat diandalkan.
BERITA18/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Pimpinan BAZNAS Pererat Silaturahmi dengan Kadis Sosial Makassar
Pimpinan BAZNAS Kota Makassar masing masing Dr.H. Usman Sofian, MA (Ketua), Yusran Sofyan, SE,S.Kom, M.Si (Wakil Ketua I), dan Dr. Abdul Azis Ilyas, S.Ag, MH (Wakil Ketua II) bersilaturahmi dengan Kepala Dinas Sosial Kota Makassar H. Andi Bukti Djufrie,SP, M.Si, Selasa, 18 Agustus 2026
Turut mendampingi Kadis Sosial, Muh. Zuhur Dg.Ranca, S.STP (Kabid Rehabilitasi Sosial), Elyza, S.Sos (Kabid Pemberdayaan dan Restorasi Sosial), Ikhsan, S.Sos (Kabid Penanganan Bencana). Sementara dari BAZNAS masing masing Asrijal Syahruddin dan Syarifuddin Pattisahusiwa.
Silaturahmi lembaga pemerintah nonstruktural ke Dinas Sosial Kota Makassar di tengah dinamika kota yang kini dipimpin Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham ini selain terus bergerak cepat, juga denyut kemanusiaan yang tak pernah henti berdetak. Denyut itu digerakkan oleh para pengelola zakat yang tak kenal lelah menjembatani tangan-tangan dermawan, atau muzakki yang didalamnya juga ada ASN muslim Dinas Sosial.
Dr. H. Usman Sofian mengemukakan, silaturahmi dengan Kepala Dinas Sosial ini menjadi momen penting untuk menyamakan frekuensi dan merajut kolaborasi yang lebih masif. Termasuk membahas dan menyapakan persepsi menyangkut persoalan sosial di kota metropolitan sebesar Makassar—mulai dari fakir miskin yang membutuhkan uluran tangan darurat—membutuhkan penanganan komprehensif.
“Di sinilah peran strategis kolaborasi antara BAZNAS Makassar, dan Dinas Sosial menjadi kunci. Kami juga membahas berbagai format sinergi, mulai dari sinkronisasi data fakir miskin (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial/DTKS) agar penyaluran zakat, infak, maupun sedekah tepat sasaran dan tidak tumpang tindih dengan bantuan pemerintah, hingga penanganan masalah sosial secara responsive dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, H.Andi Bukti Djufrie mengapresiasi peran BAZNAS yang selama ini menjadi "tangan kanan" pemerintah dalam meringankan beban dinas yang dipimpinnya, khususnya untuk urusan kesejahteraan sosial.
“Dengan bergandengan tangan dengan BAZNAS, Dinas Sosial Kota Makassar memiliki kekuatan regulasi dan jangkauan birokrasi. Kolaborasi bersama BAZNAS juga adalah resep mujarab untuk meminimalkan berbagai persoalan sosial di Kota Makassar,” ujarnya.
BERITA18/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Wakil Ketua IV BAZNAS Makassar Ketua Tim Inovasi Pangan Lokal Cegah Stunting di Desa A’bulosibatang Maros
Di Kabupaten Maros, sebuah gerakan sunyi namun berdampak masif tengah digelorakan. Di garda terdepan gerakan ini, berdiri sosok perempuan inspiratif, yakni Prof. Dr. Yusriani, S.KM, M.Kes. Wakil Ketua IV Bidang Adminitrasi, SDM, dan Umum, BAZNAS Kota Makassar ini, didaulat kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar memimpin Tim Inovasi Pangan Lokal untuk mencegah stunting di Desa A’bulosibatang, Kecamatan Marusu, Maros.
Mengapa seorang pimpinan BAZNAS dari kota metropolitan Makassar turun langsung mengorkestrasi penanganan stunting di kabupaten tetangga Kota Makassar itu? Jawabannya terletak pada esensi zakat dan filantropi Islam itu sendiri, yakni rahmatan lil ’alamin. Salah satunya, menjadi motor penggerak perubahan struktural guna mengentaskan kemiskinan ekstrem dan masalah gizi buruk.
Apa yang dilakukan Prof Yusriani adalah sebuah potret kepemimpinan transformatif. Bahwa seorang pejabat lembaga zakat, usai kegiatan internal tidak hanya berdiam diri, melainkan dapat turun ke dapur-dapur warga, mencium aroma masakan gizi lokal, dengan tujuan memastikan dan berwujud senyum sehat di bibir anak-anak desa.
Prof. Yusraini mengakui, saat ini UMI Makassar terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal. Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Tahun 2026, UMI melaksanakan kegiatan “Pemberdayaan Desa Binaan Sentra Edukasi Gizi Digital dan Diversifikasi Produk Olahan Beras untuk Penanggulangan Stunting di Desa A’bulosibatang Kabupaten Maros.”
Karena itu, bersama anggota tim yakni Prof. Dr. Ir. Hj. Aminah, MP, Andi Widya Mufilah Gaffar, ST., M.Kom., MTA, dan Asriany Tunru, SKM., M.Kes, mengintegrasikan tiga pendekatan utama, yakni penguatan produktivitas pertanian, edukasi gizi berbasis digital, dan diversifikasi pangan lokal sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan dan pencegahan stunting. Kegiatan melibatkan pemerintah desa, kelompok tani, kader kesehatan, kader Posyandu, serta masyarakat Desa A’bulosibatang.
Rangkaian kegiatan diawali dengan materi “Peningkatan Produksi Padi melalui Mekanisasi Pertanian dan Pengendalian Hama Terpadu” yang disampaikan Prof. Dr. Ir. Hj. Aminah, MP. Peserta mendapatkan pengetahuan mengenai pemanfaatan mekanisasi pertanian untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas padi, sekaligus pengendalian hama terpadu untuk mengurangi risiko kerugian akibat serangan organisme pengganggu tanaman.
Penguatan dari aspek kesehatan dilakukan melalui materi “Edukasi Gizi Digital dan Komunikasi Perubahan Perilaku untuk Pencegahan Stunting” yang disampaikan Andi Widya Mufilah Gaffar, ST., M.Kom., MTA. Peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan teknologi digital sebagai media penyebaran informasi kesehatan dan gizi serta pentingnya komunikasi perubahan perilaku dalam membangun kebiasaan hidup sehat.
Selanjutnya, Asriany Tunru, SKM., M.Kes memberikan materi “Diversifikasi Produk Olahan Beras dan Gizi Keluarga dalam Pencegahan Stunting.” Peserta mengikuti demonstrasi dan praktik pembuatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan dasar beras, antara lain bubur beras ayam lokal, bubur teri nasi, dan bebatel.
Kader Posyandu dan kader kesehatan aktif mengikuti proses pengolahan sekaligus berdiskusi mengenai kandungan gizi, teknik penyajian, serta pemanfaatan produk sebagai menu PMT maupun konsumsi keluarga. Pendekatan ini menempatkan beras bukan hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai bahan pangan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai gizi dan ekonomi.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, Tim PDB UMI juga melakukan penyerahan inovasi teknologi kepada masyarakat Desa A’bulosibatang. Teknologi yang diserahkan meliputi alat penggiling padi, alat penyemprot hama, media edukasi digital, serta teknologi pendukung diversifikasi produk olahan beras. Penyerahan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat melanjutkan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat edukasi kesehatan.
Ketua Tim Program Pemberdayaan Desa Binaan UMI, Prof. Dr. Yusriani, SKM., M.Kes, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan masyarakat berbasis potensi lokal.
“Program ini merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan masyarakat berbasis potensi lokal. Sinergi antara inovasi pertanian, edukasi kesehatan, dan pemanfaatan teknologi diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan sehat,” ujar Yusriani.
Kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan keberdayaan mitra, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, produksi, manajemen maupun aspek sosial kemasyarakatan. Hal tersebut sejalan dengan indikator validasi luaran pengabdian tahun 2026 yang menekankan bukti perubahan kondisi mitra sebelum dan sesudah pelaksanaan program.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, kelompok tani, kader Posyandu, kader kesehatan, dan masyarakat, program ini diharapkan dapat terus berkembang menjadi model pemberdayaan berbasis potensi lokal untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendukung percepatan penurunan stunting di tingkat desa.
Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Tahun 2026 didukung pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM)/ Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI). Pelaksanaan program berdasarkan Kontrak Induk Nomor 212/C3/DT.05.00/PM/2026 tanggal 13 April 2026, dengan kontrak turunan Nomor 521/LL9/PPIP.PPM/2026 tanggal 22 April 2026 dan Nomor 1353/C.06/UMI/IV/2026 tanggal 29 April 2026. Program merupakan periode tahun pertama dari rencana pelaksanaan tiga tahun.
Tim UMI menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kemdiktisaintek melalui DPPM Dirjen Risbang atas dukungan pendanaan, serta kepada pemerintah dan masyarakat Desa A’bulosibatang yang telah berpartisipasi dalam pelaksanaan program. (*)
BERITA16/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Pimpinan BAZNAS Makassar Silaturahmi ke Kakanwil Haji dan Umroh Sulsel, Kota Makassar dan UPT Asrama Haji
Jumat adalah penghulunya hari. Di hari yang MULIA ini pula, pimpinan BAZNAS Kota Makassar masing masing Dr. H. Usman Sofian (ketua), Yusran Sofyan, SE, S.Kom (wakil ketua I), serta Prof. Dr.Yusriani (wakil ketua IV), melakukan silaturahmi dengan Kakanwil Kementerian Haji dan Umroh Sulsel (H. Ikbal Ismail, S.Ag), Kakan Kementerian Haji dan Umroh Kota Makassar (H. Muh.Amrullah Arief, SH). Dan Kepala UPT Asrama Haji Ermbarkasi Makasar (H. Zulkifly Hijaz, SE,MM).
H. Usman Sofian mengemukakan, silaturahmi di ketiga lembaga yang mengurusi haji dan umroh itu berlangsung dalam suasana keakraban. Pasalnya, sama sama memiliki irisan yang kuat dalam hal pelayanan kepada ummat, khususnya di bidang keagamaan dan sosial.
“Bagi BAZNAS Makassar, tentunya silaturahmi ini selain memperkenalkan diri sebagai pimpinan baru BAZNAS Makassar periode 2026-2031, sekaligus merupakan langkah strategis dalam memperluas jangkauan kemaslahatan umat,” tuturnya.
Para pihak dalam silaturahmi ini juga menggagas skema sinergitas, yaitu bagaimana mengoptimalkan kepedulian masyarakat Islam yang diberi kelapangan rezeki berhaji, atau umroh dapat berpartisipasi dalam program pemberdayaan ummat melalui instrumen zakat dan infak yang dikelola secara profesional, transparan, serta akuntabel oleh lembaga yang diberi mandat negara, yakni BAZNAS. Pengelolaan DAM haji misalnya.
“Potensi keagamaan kita, baik haji maupun zakat, adalah raksasa yang sedang tidur. Jika keduanya disinergikan dengan baik, DAMPAK-nya sangat luar biasa bagi kesejahteraan masyarakat Islam, khususnya yang berada di bawah garis kemiskinan,” demikian yang mengemuka dalam silaturahmi ini.
BERITA14/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Ketua BAZNAS Makassar Hadiri Rakor Tanggap Darurat Bencana
Ketua BAZNAS Kota Makassar, Dr. H. Usman Sofian, MA menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) yang diselenggerakan Pemkot Makassar. Rakor yang dibuka Walikota Makassar diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. A. Irwan Bangsawan, M.Si itu berlangsung di Balaikota, Kamis, 13 Agustus hari ini.
H. Usman Sofian mengemukakan, sebenarnya, dalam kondisi tanggap darurat apapun itu, tidak perlu menunggu terlalu lama untuk dilakukan antisipasi. Artinya, instansi terkait dengan seluruh potensi yang tersedia harus melakukan koordinasi lebih intens, sehingga dampaknya tidak terlalu merugikan masyarakat.
Bagi BAZNAS Makassar, jelas Sekretaris Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar ini, kekeringan bukanlah sekadar fenomena meteorologis, melainkan darurat kemanusiaan yang menuntut aksi kolektif.
Dalam pandangan BAZNAS Makassar yang dipimpinnya bersama empat rekannya, H. Usman Sofian menyebut, dampak kekeringan bersifat multidimensional. Ketika sumur-sumur warga mengering, saluran PDAM kurang lancar, atau macet khususnya di kawasan marjinal atau dataran tinggi, seperti di Kecamatan Tamalanrea, Biringkanaya, Tallo, Ujung Tanah, Bontoala, dan Manggala mengakibatkan beban ekonomi masyarakat miskin berlipat. Mereka yang biasanya mengalokasikan uang untuk kebutuhan pangan, kini harus membelinya untuk mendapatkan air bersih.
"Karena itu, BAZNAS Makassar memandang, mitigasi kekeringan harus dilakukan secara komprehensif, memadukan pendekatan responsif (darurat) dan preventif (jangka panjang)," tutup Uso--sapaan akrab pria kelahiran Pebruari, 1980 ini.
Seperti diketahui, dalam Rakor yang juga dihadiri Kepala BPPD Kota Makassar, Muh.Fadli Tahar terungkap, per 5 Agustus 2026 tercatat kekeringan telah berdampak terhadap 13.929 kepala keluarga, atau 47.252 jiwa.
BERITA13/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
BAZNAS Makassar Akui Dai Muda Indonesia Edukator Zakat
Da'i muda adalah corong umat Islam. Suara, dan energi mereka adalah pemantik semangat anak anak muda, didengar, dan akan dicontohi anak-anak muda pula. Karena itu, mereka memiliki peran krusial sebagai agent of change, sekaligus edukator zakat, infak, maupun sedekah. Alasannya, seringkali, masyarakat hanya taat dalam hal shalat dan puasa, tetapi masih kurang teredukasi mengenai kewajiban zakat, baik mal maupun profesi.
Demikian yang mengemuka saat Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar masing masing Yusran Sofyan, dan H. Ahyar Amnur, serta Kabag I Bidang Perencanaan, Pelaporan, dan Keuangan--Badal Awan, di sela sela menerima Pengurus Ikatan Da’i Muda Indonesia (IDMI), di aula lantai II gedung lembaga pemerintah nonstruktural ini, Kamis, 13 Agustus 2026.
Wakil Sekjen IDMI, Jumardi mengemukakan, kehadiran mereka bukan sekadar berkunjung, melainkan bentuk audensi, bagaimana membangun sebuah jembatan gagasan untuk menyatukan visi, dan berkolaborasi dalam menebar kebaikan di kota yang kini dipimpin Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham ini.
Selain itu, demikian Jumardi, mempererat silaturahmi dengan pimpinan BAZNAS periode 2026-2031, memperkuat program program dakwah, utamanya menyangkut zakat, infak, dan sedekah. Termasuk membahas penekenan MoU apa yang bisa IDMI bantu, begitu pula sebaliknya, apa yang BAZNAS bantu.
Sementara itu, pimpinan BAZNAS selain menyambut baik gagasan dan ide ide dari IDMI, juga meminta dalam berdakwah da’i muda mencoba membaca zaman. Mereka setidaknya memberi tekanan tekanan bahwa, tantangan dakwah di kota metropolitan seperti Makassar hari ini jauh lebih kompleks. Mulai dari isu urban, kesenjangan sosial, hingga literasi keagamaan di kalangan generasi muda di zaman moderen ini, dengan narasi narasi ajakan ber zakat, berinfak, atau bersedekah.
Para da'i muda juga diminta memaparkan gagasan segar, dan gagasan gagasan yang benar benar menyentuh, bagaimana gerakan zakat yang merupakan kewajiban bagi ummat untuk dijalani dengan baik. Artinya, dakwah tidak boleh hanya berhenti pada tataran amar ma'ruf nahi munkar secara verbal, tetapi harus mengejawantahkan dalam aksi nyata pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan umat.
BERITA13/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
10 Mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah UMI PKL di BAZNAS Makassar
Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, UMI Makassar memilih Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar sebagai arena ber-PKL. Dengan mengenakan jas almamater kebesaran kampus hijau tersebut, ke sepuluh calon intelektual muda itu diterima Pimpinan BAZNAS Makassar masing masing Yusran Sofyan, H. Ahyar Amnur, serta Prof. Yusriani (Wakil Ketua I, III, IV), Kamis, 13 Agustus hari ini.
Selama masa PKL, pimpinan BAZNAS periode 2026-2031 itu mengajak ke-10 mahasiswa ini tidak hanya mengenali administrasi perkantoran semata, melainkan akan diterjunkan ke lapangan, agar memahami dinamika pengelolaan zakat, infak dan sedekah, atau ZIS. Mereka juga dapat melihat langsung bagaimana verifikasi data mustahik, bagaimana memantau penyaluran modal usaha, dan bagaimana akad-akad syariah diterapkan dalam program pemberdayaan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lainnya bagi ummat yang butuh.
Di sisi lain, mahasiswa juga akan membuktikan bahwa, pemahaman mereka tentang hukum Islam tidak kaku. Kaum muda ini dapat juga mengasah kompetensi hard skills di bidang hukum dan ekonomi, sekaligus menjadikan BAZNAS Makassar sebagai wadah penggemblengan soft skills. Termasuk dapat berinteraksi langsung dengan para muzakki (pemberi zakat) dari berbagai kalangan dan mustahik (penerima zakat) dengan beragam latar belakang miskin ektrem.
“Jadi, di sinilah, di BAZNAS Makassar inilah, pilihan ber-PKL yang paling tepat. Sebab, para mahasiswa bukanlah sekadar menjalani PKL, melainkan mempelajari dan membandingkan teori-teori hukum muamalah yang selama ini hanya berputar di ruang ruang kampus. Bagaimana mahasiswa dapat melihat tata kelola harta ZIS diuji langsung di medan sesungguhnya,” demikian yang mengemuka dari pimpinan BAZNAS di Aula lantai II.
Terpisah, dosen pembimbing, Auliah Alwi, SE, Ms itu mengharapkan, selama ber-PKL mahasiswa menganggap BAZNAS Makassar adalah laboratorium alam yang paling sempurna. Sebab, selama di kampus mereka hanya belajar tentang regulasi perundang-undangan zakat, dan ekonomi syariah secara normative. “Di BAZNAS ini, mereka melihat bagaimana hukum Islam bertransformasi menjadi kebijakan publik yang berdampak luas untuk mengangkat tarap hidup umat, khususnya seperti ada dalapan delapan golongan penerima zakat.
BERITA13/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Sambut Hari Merdeka, PMI Sulsel Kolaborasi BAZNAS Makassar Donor Darah Sukarela
Menyambut Hari Kemerdekaan-RI ke-81, semangat gotong royong dan kepedulian sosial kembali berkobar. Di kota yang dipimpin Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham kali ini misalnya, Palang Merah Indonesia (PMI) Sulsel berkolaborasi BAZNAS Kota Makassar mensukseskan hajatan sosial bernilai MULIA, yaitu aksi donor darah sukarela.
Kolaborasi lintas lembaga ini menjadi wujud nyata hadirnya lembaga sosial di tengah tengah era moderen saat ini. Apalagi, nasionalisme di era moderen tidak lagi diukur dengan mengangkat bambu runcing, melainkan dengan kepedulian nyata terhadap sesama. Kekurangan stok darah yang kerap terjadi di bank darah PMI menjadi musuh bersama yang harus dilawan melalui aksi sosial bagi manusia dan kelanjutan kemanusiaan.
Demikian yang mengemuka saat silaturahmi tim PMI Sulsel dengan pimpinan BAZNAS Makassar masing masing Yusran Sofyan, H. Ahyar Amnur, dan Prof. Yusriani (Wakil Ketua I, III, dan IV), Rabu, 12 Agustus sore tadi.
Ketua Bidang Pelayanan Darah dan Rumah Sakit, PMI Sulsel, Dr. Kusrini memgemukakan, bersilaturahmi dengan pimpinan BAZNAS Kota Makassar adalah hal baik. Sebab, BAZNAS tidak semata mengurusi persoalan zakat, infak, atau sedekah yang diperuntukkan kepada mustahik, melainkan kehadirannya sangat mencegah kehilangan nyawa seseorang akibat kekurangan darah.
"Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi lantaran BAZNAS menyambut baik kolaborasi yang kami tawarkan. Apalagi saat ini, kebutuhan darah di Makassar, maupun kabupaten kota di Sulsel belum cukup,” tuturnya seraya menambahkan, setetes darah yang disumbangkan adalah simbol kemerdekaan bagi pasien gagal ginjal, ibu melahirkan, korban kecelakaan, hingga penderita penyakit lainnya.
BERITA12/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
BAZNAS Makassar Sambut Tawaran Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Kuliah Program Khusus
Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis membangun kerjasama dengan BAZNAS Kota Makassar. Kolaborasi keduanya mengemuka saat tim sosialisasi penerimaan mahasiswa non reguler dipimpin ketua tim Dr. Agus Salim SR, SE, MM saat beraudensi dengan Pimpinan BAZNAS Makassar, Rabu, 12 Agustus siang tadi.
Pimpinan BAZNAS Kota Makassar masing masing Yusran Sofyan, H. Ahyar Amnur, dan Prof. Yusriani (Wakil Ketua I, III, dan IV) menyambut baik tawaran Dr. Agus Salim dan kawan kawan. Yaitu, perkuliahan yang dirancang khusus untuk profesional dan pekerja—termasuk para amil zakat yang kepingin melanjutkan pendidikan baik S1 maupun S2.
Dr. Agus Salim, didampingi Prof. Dr. Asriati SE, M,Si (wakil ketua tim), dan kawan kawan membawa satu misi, berupa program khusus yang dinamai ‘RPL’ atau Rekognisi Pembelajaran Lampau. Yakni, program resmi dari pemerintah (Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) untuk mengakui pengalaman kerja, pelatihan, atau pendidikan. RPL ini dikonversi sebagai mahasiswa non reguler.
Program penerimaan mahasiswa baru non-reguler ini bukan sekadar program kuliah kelas karyawan biasa, melainkan beberapa keistimewaan yang ditawarkan kepada amil BAZNAS Makassar. Di fakultas ini pula, mahasiswa tidak hanya diajarkan cara mencari keuntungan bisnis, tetapi juga diajarkan etika bisnis Islam, akuntansi syariah, dan manajemen zakat/wakaf yang sesuai dengan prinsip syariat.
“ Kedatangan kami di BAZNAS ini, selain silaturahmi, sekaligus menyebarkan berita baik. Di antaranya membentangkan perpaduan visi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, serta meningkatkan kapasitas human capital para pengelola dana umat memanfaatkan peluang melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Makassar,” tutup Agus Salim.
BERITA12/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Kejar Optimalisasi Zakat, Pimpinan BAZNAS Makassar Silaturahmi Marathon
Optimalisasi zakat adalah upaya memaksimalkan pengumpulan, pengelolaan, dan penyaluran dana zakat agar efektif mengentaskan kemiskinan, mengurangi kesenjangan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat muslim melalui strategi, pemberdayaan produktif, hingga penguatan sinergi dengan kelembagaan lainnya.
Untuk itu, Ketua BAZNAS Kota Makassar, H. Usman Sofian, di ruang kerjanya, Rabu, 12 Agustus 2026 pagi ini mengemukakan, bersama empat pimpinan lainnya masing masing Yusran Sofyan, Abd. Azis Ilyas, Ahyar Amnur, dan Prof. Yusriani, terus membangun, dan membuka ruang kolaborasi, untuk memperkuat misi kemanusiaan yang jauh lebih MULIA.
“Guna mengejar optimalisasi zakat tersebut, maka kami bersilaturahmi secara marathon. Kami proaktif menerjemahkan dan menyatukan konsep, bagaimana menjadikan BAZNAS Kota Makassar lebih unggul dan ber-DAMPAK bagi ummat Islam. Caranya, dengan melakukan langkah langkah proaktif menjemput bola dengan instansi terkait, ” ujarnya.
Senin, 10 Agustus misalnya, pihaknya melakukan kunjungan silaturahmi dengan Kakan Kemenag Kota Makassar. Sementara, Selasa kemarin kunjungan serupa dengan Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional dan Tata Ruang Kota Makassar (Johanis Buapi, A.T.pthn, M.Si), kemudian dengan Plt. Dirut Perumda Air Minum Kota Makassar (Dr.H.Andi Syahrum Makkuradde, M.Si). Kunjungan lainnya dengan Dirut dan Dirum Perumda Pasar Raya Makassar (Ali Gauli Arief dan H. Irfan Darmawan). Serta Kapolres Pelabuhan Makassar (AKBP Rise Sandiyantanti, SH, SIK, M.Si).
H. Usman Sofian mengaku, apa yang dilakukannya bersama rekan rekannya ke instansi dan lembaga terkait, lantaran meyakini benar bahwa, Zakat, Infak, dan Sedekah merupakan energi penggerak ekonomi para mustahik, jaminan kesehatan bagi sesama muslim yang berada di bawah garis kemsikinan, sekaligus jembatan masa depan yang lebih cerah bagi anak anak yang kepingin melanjutkan sekolah tetapi terkendala biaya.
Meski begitu, jelas Sekretaris Forum Komunikasi Ummat Beragama (FKUB) Kota Makassar ini, guna mengoptimalkan potensi zakat yang berada di kisaran Rp1,4 triliun di kota yang kini dipimpin Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham ini tentunya memiliki tantangan tersendiri.
“Kita mengetahui betul bahwa, kesadaran masyarakat muslim berzakat, berinfak, dan bersedekah di Kota Makassar ini memang terus bertumbuh, meski begitu pemahaman tentang pentingnnya menyalurkan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS masih perlu terus diakselerasi secara bersama sama,” tutup Uso--sapaan karibnya.
BERITA12/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Kapolres Pelabuhan Makassar Sambut Baik Harapan BAZNAS Makassar
Di tengah tengah kesibukan Kapolres Pelabuhan Makassar, AKBP Rise Sandiyantanti, SH, SIK, M.Si masih menyisihkan waktunya menerima pimpinan BAZNAS Kota Makassar. Yakni, Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan (Yusran Sofyan, SE, S.Kom, M.Si), dan Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan (Dr. Abd. Azis Ilyas, S.Ag, MH), Selasa, 11 Agustus 2026.
Di ruang kerja AKBP Rise Sandiyantanti, baik Yusran Sofyan, maupun Abd Azis Ilyas sama sama berharap, jajaran kepolisian muslim se Polres Pelabuhan Makassar kembali mengukuhkan kesepakatan strategis untuk mengoptimalkkan pengumpulan dan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Makassar seperti pernah dilakukan beberapa waktu lalu.
Bagi BAZNAS Kota Makassar, kemitraan dengan institusi penegak hukum seperti Polres Pelabuhan adalah angin segar. “Langkah yang diambil oleh Polres Pelabuhan Makassar dan BAZNAS ini layak menjadi pilot project atau teladan bagi instansi-instansi lain. Ini membuktikan bahwa, institusi negara bisa menjadi motor penggerak kebaikan sosial yang efektif,” tutur Yusran Sofyan, seraya menambahkan, jika berjalan baik, tentunya akan lahir lumbung kebaikan yang siap disalurkan kapan saja dan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan di wilayah hukum Polres Pelabuhan Makassar.
Sementara itu, Abd Azis Ilyas mengaku, memahami betul bahwa tugas kepolisian tidak hanya sebatas penegakan hukum di atas kertas, atau patroli keamanan semata. Lebih dari itu, polisi adalah pengayom masyarakat yang kerap bersentuhan langsung dengan denyut kesusahan masyarakat.
“Melalui sinergi yang dibangun Polres Pelabuhan Makassar, dengan filantropi yang kredibel seperti BAZNAS Makassar, maka dana ummat yang terkumpul dari jajaran personil muslim tersebut dikembalikan untuk memberi senyum para fakir miskin di wilayah hukum Polres Pelabuhan. Bisa saja untuk pembangunan Rumah Tidak Layak Huni menjadi layak huni, atau bantuan sembako, beasiswa, kesehatan, dan lainnya," tutur Abd Azis Ilyas yang juga Ketua Persatuan Islam Thionghoa Indonesia (PITI) Makassar itu didampingi Kabag I Darmawati, Kabag II, Nabil Salim, dan staf amil masing masing H. Arifuddin dan Syarifuddin Pattisahusiwa.
Sementara itu, AKBP Rise Sandiyantanti, menyambut baik harapan Pimpinan BAZNAS Makassar tersebut. Ia menyebut, pihaknya akan membicarakan hal baik itu secara internal di jajaran kepolisian se Mapolres Pelabuhan Makassar yang mencakup tiga Polsek yakni, Wajo, Ujung Tanah, dan Sangkarang tersebut. "Yang jelas, kami menyambut baik harapan BAZNAS Makassar., Ini demi ummat, dan tentunya dapat menekan angka kemiskinan ekstrem," ujarnya.
BERITA11/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
Pimpinan BAZNAS-Kakan Kemenag Silaturahmi, Sentil Zakat Profesi
Pimpinan BAZNAS Makassar masing masing H. Usman Sofian, Yusran Sofyan, Abd. Azis Ilyas, H. Ahyar Amnur, dan Prof. Yusriani (Ketua, Wakil Ketua I, II, III, dan IV) menggelar silaturahmi dengan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kota Makassar, Dr. H. Muhammad, S.Ag., M.Ag. Selain membicarakan penguatan pengumpulan zakat, infak, dan sedekah, silaturahmi yang berlangsung pada Senin, 10 Agustus sore itu juga menyentil zakat profesi.
Zakat profesi seperti disentil pimpinan lembaga pemerintah nonstruktural dan Kakan Kemenag itu, oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa 23 tahun silam, atau tepatnya 7 Juni 2003. Bahkan, jauh sebelumnya, yakni pada kongres zakat internasional pertama di Mesir, tahun 1984 telah mufakat, zakat profesi wajib hukumnya. Fatwa serupa juga dikeluarkan Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi, pada 1392 H, dan telah diadopsi di berbagai negara muslim, termasuk Indonesia.
Ulama besar Indonesia, Prof. Dr. H. Yusuf Al Bukhari, dalam kajiannya “Zakat Profesi di Era Digital” (2024), menegaskan “Jika profesi menghasilkan pendapatan yang bersifat mal (harta), maka zakat atasnya menjadi fardhu ‘ayn (kewajiban individu). Tidak ada perbedaan antara petani yang memanen gandum dengan programmer yang menghasilkan. Keduanya wajib menunaikan zakat, dan manfaatnya harus dirasakan oleh umat secara luas.
Ulama kharismatik Sulawesi Selatan, AG. Prof. Dr. KH. M. Farid Wajedi, LC, MA yang juga Pimpinan pondok Pesantren DDI Mangkoso itu pun mengemukakan, zakat profesi dan sejenisnya wajib dikeluarkan. Argumentasinya merujuk pada surah al-Baqarah 267 yang berlaku umum.
Karena itulah, baik Kakan Kemenag Kota Makassar, maupun pimpinan BAZNAS Makassar sama sama menyebut, secara logika, bila seorang petani saja dibebankan berzakat, seyogianya zakat profesi pun diwajibkan kepada setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh secara halal. Seperti yang diterima secara rutin oleh pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya. Zakat ini dikeluarkan pada saat menerima penghasilan.
BERITA10/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa
BPJS Ketenagakerjaan Ajak BAZNAS Sosialiasi Zakat bagi 81 Ribu Pekerja Muslim di Makassar
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar bersama BPJS Ketenagakerjaan sepakat merajut kolaborasi indah. Yaitu, mengawinkan semangat filantropi Islam (zakat) dengan perlindungan formal negara.
Demikian yang mengemuka di sela sela pertemuan antara pimpinan BAZNAS Makassar dengan tim BPJS Ketenagakerjaan Makassar, di ruang kerja Ketua BAZNAS, Jumat, 7 Agustus 2026. Pimpinan BAZNAS yang hadir H.Usman Sofian (ketua), Yusran Sofyan (wakil ketua I), H. Ahyar Amnur (wakil ketua III), dan Prof. Yusriani (wakil ketua IV). Sementara dari BPJS Ketenagakerjaan, Sukardi dan Zubair.
Pertemuan itu juga disebut, sebagian masyarakat masih memandang zakat dan jaminan sosial sebagai dua hal yang berjalan di jalur berbeda. Zakat misalnya, diasosiasikan dengan ibadah ritual-sosial keagamaan, sementara BPJS Ketenagakerjaan dipandang sebagai instrumen administrative. Padahal, esensinya sama sama menghadirkan rasa aman, dan mengangkat harkat martabat manusia dari jurang kemiskinan.
Karena itulah tim BPJS Ketenagakerjaan mengajak BAZNAS melakukan sosialiasi pada 81 ribu pekerja muslim di berbagai perusahaan di Makassar ini. Dalam sosialisasi itu nantinya, para pekerja diingatkan tentang kewajiban spiritual mereka menunaikan zakat penghasilan.
Ketua BAZNAS mengemukakan, pendekatan kolaboratif dengan BPJS Ketenagakerjaan ini menyentuh aspek psikologis dan spiritual pekerja muslim. Setidaknya, ada filosofi mendalam yang disampaikan nantinya bahwa, bekerja adalah ibadah, melindungi diri adalah ikhtiar, dan berzakat adalah penyempurna berkah.
‘Ketika seorang pekerja muslim di perusahaan swasta mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, maka ia sedang mengamankan masa depan fisiknya. Dan ketika ia menyisihkan 2,5% dari pendapatannya untuk berzakat, maka ia sedang mengamankan "tabungan akhirat", membersihkan hartanya, sekaligus membantu sesama saudara seiman yang membutuhkan,’ jelas Uso-sapaan karib Sekretaris FKUB Kota Makassar ini.
BERITA10/08/2026 | Syarifuddin Pattisahusiwa

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Makasar.
Lihat Daftar Rekening →