Ramadhan Bersama BAZNAS (11). Ibadah Rajin, Tapi Tetangga Lapar: Kita Salah Baca Agama
01/03/2026 | Penulis: HM.Ashar Tamanggong
Ketua BAZNAS Kota Makassar
Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Ada pemandangan yang sering kita lihat dan anggap biasa: masjid ramai, saf rapat, suara doa menggema. Tapi di luar masjid, ada dapur yang sunyi, panci kosong, dan tetangga yang menahan lapar. Ironisnya, dua pemandangan ini bisa berdampingan tanpa saling menyapa.
Ini bukan cerita jauh. Ini potret kita. Ibadah rajin, tapi kepedulian sering tertinggal. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan ibadah yang putus dari realitas sosial. Ibadah yang benar seharusnya melahirkan empati, bukan hanya ketenangan pribadi. Kalau ibadah membuat kita sibuk dengan diri sendiri tapi cuek dengan sekitar, jangan-jangan kita salah membaca agama.
Allah menegur dengan cara yang sangat keras tapi jujur: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)
Ayat ini tidak bicara soal shalat dulu. Yang disorot justru sikap sosial.
Seolah Allah ingin berkata: jangan bangga dulu dengan ibadah ritual kalau urusan tetangga saja masih gagal. Agama bukan cuma urusan sajadah, tapi juga urusan piring tetangga.
Kita sering mengira iman itu soal rajin hadir di masjid. Padahal iman juga soal hadir di saat orang lain butuh. Bisa jadi shalat kita panjang, tapi langkah kita ke tetangga pendek.
Lucunya lagi, banyak orang takut shalatnya tidak diterima, tapi tidak takut tetangganya kelaparan. Padahal Rasulullah SAW menegaskan, orang yang kenyang sementara tetangganya lapar bukanlah cermin iman yang sehat.
Kita hidup di zaman individualis. Urusan ibadah sangat personal. Urusan sosial dianggap pilihan. Padahal dalam Islam, kepedulian itu kewajiban kolektif. Zakat, infak, dan sedekah bukan hiasan iman, tapi tiangnya.
Banyak orang berkata, “Itu urusan lembaga zakat.” Betul. Tapi lembaga tidak akan bekerja kalau hati umat mati rasa. Lembaga itu alat. Yang menggerakkan tetap iman personal.
Ironisnya, kita bisa hafal jadwal kajian, tapi tidak tahu kondisi tetangga. Bisa hafal doa panjang, tapi tidak hafal siapa yang butuh bantuan. Agama kita fasih di lisan, tapi sering gagap di tindakan.
Ayat Al-Ma’un tadi menampar kita pelan tapi dalam. Bahwa agama yang dipisahkan dari kepedulian sosial bukan agama yang hidup. Itu agama yang kering, yang hanya sibuk mengurus diri sendiri.
Islam tidak ingin umatnya saleh sendirian. Islam ingin umatnya saleh dan menyelamatkan. Karena kebaikan yang berhenti di diri sendiri itu egois, meski dibungkus ayat dan doa.
Kalau hari ini masjid kita penuh, tapi tetangga kita masih kelaparan, itu bukan prestasi. Itu PR iman. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk menyadarkan diri.
Zakat, infak, dan sedekah adalah jembatan agar ibadah kita tidak terputus dari realitas. Agar shalat kita punya kaki. Agar puasa kita punya tangan. Agar doa kita punya arah.
Jangan sampai kita rajin menyebut nama Allah, tapi lupa menyebut nama tetangga. Jangan sampai kita sibuk mencari pahala pribadi, tapi lupa bahwa pahala sosial sering lebih berat timbangannya.
Agama tidak diukur dari seberapa sering kita sujud, tapi juga dari seberapa sering kita peduli. Karena sujud yang benar seharusnya membuat kita lebih manusiawi.
Kalau ibadah rajin tapi tetangga masih lapar, mungkin yang perlu diperbaiki bukan jadwal ibadah, tapi cara kita memahami agama. Karena agama yang benar itu bukan hanya yang mengangkat tangan ke langit, tapi yang mengulurkan tangan ke sekitar. Wallahu A'lam. (ATM--Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Kota Makassar)
Artikel Lainnya
Ramadhan bersama BAZNAS Makassar (6). Zakat: Cara Islam Menyelamatkan Orang Kaya dari Hartanya Sendiri
Ramadhan Bersama BAZNAS (10). Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (1). Awal Ramadhan, Akhirnya Kita Berbeda Lagi
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (13). Sedekah Konten vs Sedekah Benaran: Mana yang Lebih Kita Cari?
Ramadhan bersama Baznas (2). Dompet Tipis Tak Apa, Asal Hati Tidak Pelit
RAMADHAN BERSAMA BAZNAS (8). Sedekah Tidak Menunggu Kaya, Orang Pelit Justru Tak Pernah Merasa Kaya
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (3). Sedekah itu Investasi, Bukan Sisa Uang Jajan
Dakwah Itu Jalan Cinta
Amalan Sebelum Tidur Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (4). Rajin Ngopi Tapi Lupa Berbagi
Sunah-Sunah Selama Melaksanakan Puasa
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (5). Kenapa Kita Berat Bayar Zakat?
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (7). Infak Kecil Tapi Rutin, Lebih Berisik di Langit
Ramadhan Bersama BAZNAS Makassar (12). Kalau Harta Bisa Bicara, Dia akan Ngomong Apa?
Rukun Islam

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Makasar.
Lihat Daftar Rekening →